August 15, 2017

Pelangi Terakhir

Dia menjadi alasanku bertahan hingga saat ini. Siapa sangka hal sederhana sepertinya mampu membuatku terjatuh dengan hebat? Aku terjatuh tepat di hadapannya lalu ia menyelamatkanku dari sakit yang tak seharusnya. Dia menggenapkan —menjadikanku utuh meski sebenarnya semakin rapuh. Luka kemarin dari segala macam hal menyakitkan, mampu ia tebas dariku. Kelemahan yang kadang membuatku tersudut, justru ia terima sebagai sesuatu untuk dilengkapi. Saat aku merasa tidak lagi memiliki alasan untuk berjalan, lengan kokohnya mampu menawarkan sebuah perlindungan yang belum pernah kudapat dari siapapun.

Dia berbeda. Dan mampu membuatku bertahan. Matanya seperti fajar yang terselip lewat celah jendela. Memberi harapan di awal hari. Seperti senja yang amat kusenangi. Indahnya mungkin berlalu hari ini, tapi aku selalu percaya dia takkan sepenuhnya pergi. Esok hari, dia akan menjadi alasan yang sama kenapa aku masih bertahan hingga saat ini. 

Kadang aku merasa takut, jika aku tertidur nanti, kehadirannya akan menguap. Kadang aku juga takut, segala alpa dalam diriku akan membuatnya jenuh dan berjalan mundur. Untuk itu aku selalu saja berdoa agar hatinya tak pernah berubah. Aku berharap ia tetap menjadi pelangi terakhir yang kunikmati sehabis hujan. Selalu dan selalu datang lagi meski hari ini menghilang sejenak.

No comments: