August 26, 2017

Kopiku Mulai Dingin

Malam ini aku kembali menyapa langit yang sama. Meski tampak lebih sendu dari malam-malam sebelumnya ketika aku menapakkan langkah di atas tanah basah yang masih berbau hujan. Di luar sana, udara begitu dingin. Kudekatkan wajah ke arah jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. Langit malam selalu memiliki banyak cerita. Aku pun tak ingin terlalu naif untuk ikut bercerita. 
Malam ini awan mendung berarak tak tentu arah. Semakin lama semakin gelap. Mungkin sebentar lagi hujan akan kembali turun. Aku tak lagi tahu harus memulai cerita ini dari mana. Kenapa kini semuanya justru terasa semakin pelik? Kuhirup aroma kopi panas di hadapanku. Semakin dalam menyesap, semakin jelas bayanganmu dalam pikiranku.
Aku melihatmu di mana-mana. Berkeliaran tak tentu arah dalam kepalaku. Semakin kucoba untuk menghapus jejakmu, justru dadaku semakin terasa sesak. Aku melihatmu. Tapi kenapa kau tampak begitu bersinar sementara aku semakin meredup?
Kopiku mulai dingin. Dan benar saja, hujan kembali turun begitu deras. Kulilitkan selimut tebal menutupi bahu. Dinginnya masih tetap sama. Hatiku pun tak kalah dingin. Hampir membeku.
Tak ada yang salah dengan malam ini, kecuali hatiku yang sedang mencari celah untuk keluar dari ketakutan. Lagi-lagi aku tak tahu harus memulai dari mana. Mengingatmu saja membuat hatiku tak karuan. Akankah kita bisa bertahan melewati kecamuk ini?
Malam ini, mungkin kita sedang menikmati langit yang sama. Apa kau juga merasakan gelisah yang sama? Atau mungkin merasa jauh lebih baik dengan jarak yang ada. Kau tahu, aku bukan seseorang yang pandai berbohong apalagi menutupi perasaan sendiri. Terlebih pada siapa saja yang membuatku bertahan hingga saat ini. Tapi kini, nyatanya aku begitu mahir untuk berpura-pura mampu menghadapi semuanya sendiri. Aku tak tahu luka seperti apa yang kini kusembunyikan. Aku hanya terus berusaha untuk menjadi baik-baik saja. Aku hanya terus berusaha ada dan menemani di saat kau jatuh, di saat kau butuh, di saat kau rindu. Tapi mulai saat ini, biarkan aku menyentuh dan menjagamu lewat doa. Tentu saja kau tahu, doa adalah bahasa rindu dan cinta yang paling cepat sampai ke hati tanpa perlu didengar dan dibaca. Biar kopiku saja yang dingin, rasamu jangan. Biar kurengkuh kau lewat jangkauan panjang doa-doa, semoga kita mampu bertahan.

No comments: