August 15, 2017

Hapus ― Ahimsa

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar menyentuh tombol itu lebih lama lalu memilih tombol delete. Tapi akhirnya kamu menyentuhnya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya. Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyakitkan.

Ah, bukan, bukan itu. Karena cerita baru adalah saat rindu diam-diam berpadu dengan keberanian dalam ikatan suci. Menghapusnya. Kamu yakin itu pilihan benar. Biar nanti kamu memulai cerita baru, dengan dia yang dipilihkan Tuhan. Siapapun dia.

"Maybe my love will come back someday, only heaven knows. And maybe our hearts will find their way, only heaven knows. And all I can do is hope and pray, cause heaven knows." ~ Rick Price



Source http://ceritahimsa.com

No comments: