Posts

Showing posts from August, 2017

Pelangi Terakhir

Dia menjadi alasanku bertahan hingga saat ini. Siapa sangka hal sederhana sepertinya mampu membuatku terjatuh dengan hebat? Aku terjatuh tepat di hadapannya lalu ia menyelamatkanku dari sakit yang tak seharusnya. Dia menggenapkan —menjadikanku utuh meski sebenarnya semakin rapuh. Luka kemarin dari segala macam hal menyakitkan, mampu ia tebas dariku. Kelemahan yang kadang membuatku tersudut, justru ia terima sebagai sesuatu untuk dilengkapi. Saat aku merasa tidak lagi memiliki alasan untuk berjalan, lengan kokohnya mampu menawarkan sebuah perlindungan yang belum pernah kudapat dari siapapun.
Dia berbeda. Dan mampu membuatku bertahan. Matanya seperti fajar yang terselip lewat celah jendela. Memberi harapan di awal hari. Seperti senja yang amat kusenangi. Indahnya mungkin berlalu hari ini, tapi aku selalu percaya dia takkan sepenuhnya pergi. Esok hari, dia akan menjadi alasan yang sama kenapa aku masih bertahan hingga saat ini. 
Kadang aku merasa takut, jika aku tertidur nanti, kehadira…

Akhirnya Kau Hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana. Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah.
Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota seperti perpustakaan raksasa yang meleleh. Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang.
Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong saat aku pulang dengan kamera dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan, katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan.
Akhirnya kau hilang. …

Hapus ― Ahimsa

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar menyentuh tombol itu lebih lama lalu memilih tombol delete. Tapi akhirnya kamu menyentuhnya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya.Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyaki…

Keharusan

Angin membawa banyak kabar sore ini. Dan kuharap salah satunya adalah berita bahwa kau sedang baik-baik saja di sana.
Apa yang kubisa selain banyak-banyak merapal doa di hadapan Tuhan? Aku tak pernah bosan memohon agar Tuhan masih mau mengabulkan pintaku, untuk selalu memberimu kebahagiaan meski sedang berada jauh dariku. Doa sejenis itu pula yang selalu kuucap untuk kedua orang tuaku.
Kau bukan merupakan sebuah ketergantungan bagiku. Aku mungkin masih bisa hidup dengan normal meski tanpamu. Segala kegiatan mungkin akan berjalan seperti biasa. Tapi satu yang pasti berubah, mungkin aku tak akan pernah bisa membuka pintu untuk menerima seseorang yang baru lagi.
Bagiku, kau adalah suatu keharusan yang selalu kumohon di hadapan Tuhan. Barang sekalipun tak pernah aku lupa mengucap namamu dalam sujud terakhir. Bagiku, kalian adalah dua hal berbeda namun memiliki arti yang begitu besar. Entah apa pula jadinya jika aku kehilanganmu, mungkin hatiku tak akan pernah sama lagi. 
Aku mencintaimu.…

Untukmu Yang Membuatku Begitu Patah

Ingin rasanya menyapamu sekali lagi, menenggak hangatnya senyummu, menikmati suaramu yang sudah biasa mengalun dalam telinga. Aku tahu, memang tak ada yang harus diingat selepas kepergian. Kenangan yang ada semestinya menjadikan kita lebih baik dalam bercermin ke depan. Tapi, bolehkah aku menyapamu sekali lagi? Mungkin akan menjadi sapaan terakhir, sebelum aku benar-benar menutup semua lembar pada buku lama yang telah selesai kuisi dengan banyak cerita kita. Ingin rasanya mengatakan pada seisi dunia bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku sudah terbiasa menjalani fase ini. Tapi, aku sadar, semakin kuat kucoba menegarkan diri, semakin banyak patahan yang menggagalkan langkahku. Aku baik-baik saja, kataku pada mereka yang mengkhawatirkanku. Tapi, apa kau tahu bahwa tak ada orang yang "benar" baik-baik saja setelah melewati fase patah hati? Baik itu kau, maupun aku, atau bahkan kita berdua. Menikmati luka masing-masing kini menjadi kegiatan kita dalam mencerna sepi. Aku dengan…

Time Flies

Day changes, and the clock is still spinning. I don't know when we'll end this. All I know is, the more days pass, the pain gets bigger when I have to go through it alone, without you. Maybe I'm still far from hope. But, do you know that I keep trying to be what you want? I just can't explain how broken I am when I remembered all that was spoken yesterday. Are you really tired of all this? Do we really have to end it? Then, what about the good prayers we have so far? What about the hope of staying together? Our arguments may be needed so that we learn from each other to dampen each other's ego or we can better appreciate the meaning of loss. But behind it all, of course I still hope that we'll be fine. That everything that happened today is just a dream and I'll be awake then see you hug me tight.

Aku Akan Membunuh

Rasanya masih sama, hanya keadaan yang kian meredup. Kini aku percaya pada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Rasa gengsi, harga diri yang terlalu tinggi, hingga ego yang tak ingin dikalahkan.  Aku membunuh hatiku sendiri. Jika dengan melepasmu mampu melapangkan langkah kita, maka tak apa. Aku akan belajar untuk membunuh hatiku sendiri. Pergilah sejauh mana kau ingin pergi. Tak perlu hiraukan pendampinganku, karena akan terasa sia-sia jika nyatanya jelmaku hanya membuat langkahmu semakin berat. Kini aku pun percaya pada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa melepaskan sesuatu yang sebenarnya belum menjadi milik kita ternyata merupakan salah satu hal tersulit. Apa yang selama ini kugenggam nyatanya tak benar-benar pernah kumiliki. Rasanya masih sama, namun hari kian mendung. Tenang di hujan badai, namun menggigil dalam gerimis. Aku akan mencoba membunuh hatiku sendiri jika dengan begitu kau bisa bebas untuk pergi.