July 31, 2017

Yujidilan

Kali ini aku akan bercerita tentang dia yang mengubah cara pandangku terhadap dunia, bahwa bahagia tak selalu perihal sebuah persamaan namun perihal bagaimana menyatukan banyak perbedaan. Dia yang dengan cara sederhananya mampu menyerap habis seluruh perhatian tanpa harus membuatku mengubah duniaku sendiri. Dia yang dengan segala kelebihannya berani mengakui sisi lemahnya namun juga tetap berbesar hati menerima kekuranganku. Garis wajahnya menegaskan sebuah keyakinan, bahwa tak ada yang perlu kukhawatirkan bila menyerahkan separuh duniaku untuk diisi olehnya. Senyum simetris itu, hidung mancung, dengan kedua bola mata cokelat serta alis tebalnya, sungguh aku tak berdusta jika berkata bahwa tak pernah ada rasa bosan untuk terus memandangnya. Bahu jenjang dengan dadanya yang begitu bidang seolah menawarkan banyak kehangatan sekaligus perlindungan. Bagaimana bisa aku menolak? Dan genggaman eratnya pada sela-sela jemariku, ah, rasanya aku begitu yakin untuk sepenuhnya menjadikan dia tujuanku pulang ―menjadikan dia sesuatu yang kusebut rumah untuk kembali nanti.
Dia tak begitu suka berada di tengah keramaian, terutama berada di tengah konser. Dia begitu suka mengambil potretku diam-diam tanpa kusadari. Dia akan memilih diam saat amarahnya sedang berkecamuk, alasannya sederhana, tak ingin mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatiku. Dia juga mahir memasak. Makanan favoritnya adalah sambal teri dan sayur rebusan. Sebagai anak sulung dari lima bersaudara menempahnya menjadi lelaki bermental baja yang mengemban tanggung jawab atas kebahagiaan keluarga. Meski aku tahu, terkadang dia juga butuh sebuah pelukan ketika terlalu lelah menghadapi dunianya yang begitu kejam. Dan kuharap, pelukku akan selalu menjadi satu-satunya yang dia tuju ketika membutuhkan sebuah ketenangan. Bercerita tentang dia, tak akan pernah menjadi hal yang jemu bagiku, tak akan pernah cukup meski ribuan kata telah kurangkai menjadi kalimat-kalimat denotasi. Dia, aku berharap dapat hidup seribu tahun lagi berdampingan dengannya.

July 11, 2017

Ketika Ada Yang Bertanya Tentang Cinta

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta
Kau melihat langit membentang lapang
Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki
Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku melihat nasib manusia
Terkutuk hidup di bumi
Bersama jangkauan lengan mereka yang pendek
Dan kemauan mereka yang panjang
Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta
Kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung
Bersusah payah terbang
Mencari tempat sembunyi dari mata peluru para pemburu
Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa
Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri
Ketika ada yang bertanya tentang cinta
Apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata
Atau cukup ketidaksempurnaan kita?




—Sebuah Puisi dari Aan Mansyur

July 1, 2017

Kosong

Dulu memandang kedua mata itu rasanya meneduhkan
Tiada tempat lain yang ingin dituju selain hanya kembali kesana
Lalu tiba-tiba sinarnya meredup
Tak kutemukan lagi seberkas bayang di sana
Kosong
Seperti menjelma asing yang tak pernah kujamah
Mungkin telah memandang ke arah yang berbeda
Tapi, harus kubuang kemana asaku?