June 14, 2017

Kita Yang Tak Lelah Bersemoga

Sedetik kau menciptakan tawa, ratusan kupu-kupu di dalam perutku seolah beranak-anak. Sekejap kau memeluk bahagiaku, kupasrahkan ribuan tahun di dada ini menjaga namamu. Sejumput kepercayaan kau berikan, akan kujaga walau dengan sejuta cara.
Biar saja, meski sepercik rasa yang kau basuhkan, akan kujaga agar tak lekas menguap.
Atas secercah kasihmu, biarkan aku merawatnya, menyiraminya sampai tumbuh subur. Sehingga mencari selain aku, akarmu takkan bisa membiarkanmu kabur.
Atau barangkali, kita akan menjadi lebih indah dari sekadar saling membaur, berusaha menjadikan bahagia tak lantas tumbuh uzur.
Dan Tuan, padamu kelak, bisa saja kuterpatri kuat. Seolah aku kapal dengan jangkar menancap hebat. Sehingga bersamamu bukanlah sesaat, terlebih tersesat.
Seperti malam ini, riang lampu-lampu kota seolah tak ingin redup merayakan kebersamaan kita. Sayup-sayup angin malam begitu syahdu menerpa dedaunan akasia dengan siutnya. Aku, kamu, adalah kita yang tak letih bersemoga.
Juga seperti malam-malam sebelumnya, aku bagimu adalah bintang yang tak pernah kehilangan pijar. Mungkin saja redup sebentar, tapi kupastikan akan terang kembali menjelang fajar. Semoga aku kamu bukan lagi yang tak bernalar.
Untuk kita tak ada alasan yang masuk akal jika tak saling menerima. Segenap keniscayaan kita serahkan kepada Yang Maha Memahami. Dan terima kasih, sebab segala yang penuh senantiasa mampu saling tertambat, untuk kita. Senang dipertemukan denganmu, Tuan. Lihatlah, betapa Tuhan Maha Perencana hal-hal baik. Hari sebelum ini, tak pernah aku tertarik barang satu kedip. Hari setelahnya, kau buat cintaku merangkak naik.




—oleh @nytannyta dan @teh_jeruk

No comments: