June 30, 2017

Jika Kemudian Hari

Ada banyak orang yang mudah mengungkap rasa, ada yang lebih memilih diam dan menyimpan rapat-rapat. Tapi diam bukan berarti tak bicara.
Dia sering bicara. Menyampaikan kejujuran lewat mata, lewat raut, yang hanya beberapa orang saja yang mampu mendengarnya.
Dan saat itu, yang dibutuhkan hanya pengertian, bukan penyudutan.
Jika kau mampu mendengar, tolong jangan jadi banyak orang.
Jadilah satu-satunya yang mampu mendengar.
Jangan sampai akhirnya dia memutuskan untuk selamanya menjadi diam.
Dan kau hanya bisa menyesali diri.


Lalu seharusnya jawaban itu adalah, "Jangan takut. Selama cinta masih ada, aku akan terus bersamamu. Mari kita hadapi bersama-sama. Aku akan buktikan bahwa aku adalah lelaki yang bisa ibumu banggakan karena menitipkanmu padaku."
Tapi kadang, ada rasa sakit yang tak mungkin dicabut hingga satu-satunya pilihan adalah menikmatinya.
Jika di kemudian hari, bukan aku yang kau temui dan itu membuatmu bersedih, ingatlah seseorang pernah begitu bahagia dalam kikuk jumpa pertamanya denganmu, yaitu aku.
Jika di kemudian hari tiada lagi yang kau tunggu sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh, ingatlah telah kurelakan kita sebagai singgahmu yang tak dapat kusanggah.
Terima kasih sudah bersedia mengenalku di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu.
Semoga kelak, kita adalah dua yang saling menemukan meski tak mencari. Dua yang saling melengkapi meski tak saling memberi. Dua yang saling merindukan meski tak tersampaikan.

No comments: