June 12, 2017

Jadi Tetaplah Disini

Kadang aku ingin bercermin di matamu, agar bisa mengerti seperti apa arti wujudku di sana. Kadang aku ingin melebur dalam udara yang kau hirup, untuk sekadar menyejukkan ragamu saat peluh dan lelah menyatu di sana. Kadang aku ingin kita bertukar hati, agar kau paham bagaimana rasanya hidup dalam kubangan perasaan bersalah, agar aku mengerti bagaimana keraguan yang masih terus kau simpan.
Aku tak berbohong setiap kali mengatakan bahwa namamu selalu ada dalam doaku, hanya untuk memastikan bahwa aku tak sekalipun alpa menceritakan tentangmu di hadapan Tuhan. Kiranya agar Dia bersedia menakdirkan kita untuk lekas menyegerakan.
Terlalu banyak rasa bahagia yang kunikmati setiap kujumpai kau dalam kedua bola mataku. Begitu banyak rasa syukur dan haru setiap kali waktu berlalu begitu cepat bersama tawa kita. Juga, begitu banyak pilu yang kusimpan setiap kali jarak merentang, atau setiap kali pertengkaran menjauhkanmu dariku. 
Aku tak berdusta jika saat ini mengatakan bahwa aku ingin hidup denganmu hingga ratusan bahkan ribuan tahun lagi. Karena bagiku, tak pernah ada waktu yang cukup untuk menceritakan tentangmu pada dunia. 
Jadi, tetaplah di sini. Menggenggam apapun yang terjadi, bersama-sama. Mencerapi suka dan duka, bersama-sama. Mari saling menyembuhkan luka lama, membasuh rindu-rindu nakal yang sering meledek kita, membentuk album-album kenangan untuk diceritakan pada anak cucu kita nanti. Mari... menua bersama, hingga nanti uban memenuhi kepala, hingga nanti kita bisa menikmati senja bersama di usia senja kita, hingga nanti batu nisan bertuliskan namamu dan namaku bersisian dengan indahnya.

No comments: