June 15, 2017

Aku Membiarkanmu Pergi Bukan Karena Aku Terlalu Pengecut Untuk Memperjuangkanmu

Membiarkanmu pergi, terdengar seperti kau pernah ingin tinggal tapi sekarang kau memutuskan untuk pergi. Nyatanya? Kau tidak pernah ingin tinggal di tempat yang sudah ku sediakan di hatiku. Mengikhlaskan kepergianmu juga terdengar seperti melepaskanmu setelah pernah ku genggam tanganmu dan kita berjalan beriringan. Nyatanya? Kita sejalan namun tak menuju tujuan yang sama. Kita sejalan namun tetap berjarak, bukan beriringan dan saling menggenapkan.
Aku tidak menahanmu saat kau mengakhiri semua percakapan kita. Aku tidak akan menangis apalagi mengais mencari sisa-sisa ‘rasa’ yang mungkin masih tersisa. Aku memutuskan pergi saat itu juga, bukan tidak mau berjuang untukmu, tapi manusia yang beradab tahu mana yang patut diperjuangkan dan mana yang secepatnya harus ditinggalkan. Sebab aku tahu, apapun yang ku lakukan tidak akan mampu membuatmu tinggal.
Aku merindukanmu, pada awalnya. Tentu saja aku rindu, ada yang hilang, dari yang ada kemudian tiada. Apalagi kau tidak memberiku jeda untuk sekedar membiasakan tanpamu secara perlahan. Kamu meminta menghentikan percakapan kita melalui aksara, dibatasi layar empat inchi. Aku mengiyakan, tanpa meminta penjelasan apalagi merengek memintamu berpikir ulang. Aku justru berterima kasih karena kau membuatku semakin yakin untuk mundur, untuk menghentikan ‘rasa’ yang membuatmu menjauh.
Aku mengikhlaskanmu, melepaskan dirimu. Bukan karena aku terlalu pengecut untuk memperjuangkanmu. Tapi aku terlalu berharga untuk menunggumu yang tidak mungkin memilihku sebagai tempat untuk pulang. Terima kasih sudah membuatku merasakan sensasi jatuh cinta (lagi) dan sekaligus patah hati. Paling tidak, aku tahu bahwa hatiku masih bisa merasa. Masih ada kesempatan untuk mencinta, entah dengan siapa. Nanti.




―oleh Ragil Ara Winda pada situs http://www.hipwee.com

No comments: