Kau Adalah Cukup

Entah pada lembar ke berapa aku akan berhenti menuliskan banyak hal tentangmu. Entah pada malam ke berapa aku akan berhenti memimpikan kita. Entah pada kali ke berapa pula aku akan berhenti menggemari senyummu. Nyatanya hingga saat ini, aku masih merasa menjadi ciptaan Tuhan yang paling bahagia sejak namamu seringkali menjadi tema dalam setiap susunan larikku. Aku tak bosan membicarakan segala hal tentangmu, tak pernah lelah menikmati rindu yang selalu saja datang tiap kali tak kulihat kedua sudut bibirmu yang melengkung asimetris. Namamu, segala hal kesukaanmu, caramu menatap sesuatu yang kau sukai, aku tak pernah alpa barang sedetik pun. Aku pun merasa tak pernah cukup untuk mengingat segala yang ada padamu. Mungkin hormon endorfin kali ini sedang menguasai sistem kerja otakku. Mungkin sebagian dari mereka berpikir bahwa aku sedang menjadi manusia yang terlalu menggilai sesuatu. Tapi, tak apa. Selagi bersamamu, aku mampu merasa tak memerlukan pelengkap lainnya. Kau adalah cukup, bagiku.


Aku mampu mencerapi peristiwa yang kita alami bersama sebelum menjadikannya kenangan. Saban hari, rasanya aku tak punya cukup waktu untuk mengacuhkanmu dari bawah alam sadarku. Tapi, tentu saja semua masih berada pada batas wajar. Tak perlu kau khawatir bahwa aku akan melakukannya secara berlebihan, Sayang. Tak ada yang berlebihan selagi aku masih bisa menjaga hatiku untuk berada pada jalurnya, agar perasaan sederhana ini tetap pada porosnya selagi belum bermuara pada akhir yang pasti. Jadi, tetaplah di sini. Seiring dan sejalan, semuanya akan jauh lebih baik. Selamat malam, pria bermata cokelatku.

Comments