April 13, 2017

Aku Pernah Cemburu

Aku pernah cemburu pada mereka yang selalu mengelilingimu di sana. Cemburu pada orang-orang yang berporos di sekitarmu. Rasanya begitu damai bisa menjadi mereka yang senantiasa melihat semangatmu dalam mengumpulkan pundi-pundi rezeki. 
Aku pernah cemburu pada orang-orang di sekitarmu yang mampu mengundang seulas senyum di wajahmu. Mereka bisa bebas mendengar tawa renyahmu, mereka bisa bebas bertukar cerita denganmu, sementara aku, saat itu entah masih berada di belahan bumi mana.
Aku juga pernah cemburu pada tulisan-tulisan yang berisi perasaanmu. Setidaknya ia lebih kau percaya daripada aku dalam menumpahkan segala keresahan hatimu. Aku pernah cemburu pada 140 karakter yang hanya bisa kau tafsir sendiri. Aku pernah cemburu pada berbagai cerita yang kau bagikan dalam media sosialmu, tentang berbagai tempat yang aku tak ada di sana. Aku pernah cemburu pada foto-foto yang melukis tawa lepasmu —sekali lagi, tanpa aku. Aku juga pernah cemburu pada selarik bait yang kau tulis diam-diam di halaman belakang buku tugasmu. Terlebih pada gambar-gambar hasil guratan tanganmu, aku bahkan sangat cemburu.


Aku pernah cemburu pada gelas yang merasakan kecup bibirmu, bahkan aku pernah cemburu pada ponsel yang kau simpan di saku kemejamu —sungguh beruntung ia bisa merasakan detak jantungmu yang beraturan dari jarak begitu dekat.
Aku juga pernah sedemikian cemburu pada… ah, aku bahkan menggigil untuk menulisnya. Tapi kemudian aku diam, mengapa aku harus cemburu? Dan aku tertunduk menerka-nerka cerita. Melarikkan rasa di atas selembar kertas kosong. Hei, apa kau juga pernah merasa cemburu semacam ini?
Maaf jika kau merasa semua ini berlebihan. Aku hanya ingin kau mengerti, bahwa dalam setiap sujud aku tak pernah lupa bermunajat agar kaulah yang akan menjadi ridho-Nya kelak yang kemudian dapat mengantarku ke surga, bahwa akulah awak kapal yang akan kau nahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.
Meski begitu, aku selalu bersyukur karena menjadi wanitamu adalah salah satu hal yang membuatku merasa beruntung. Sebagai seorang wanita, kadang aku tidak menyadari bisa menjadi sosok yang angkuh, egois dan sangat menyebalkan. Tapi kau adalah pria penyabar yang selalu bisa menenangkanku dengan ucapan, "Tak perlu mendengarkan kata orang, kita yang menjalani berdua maka kita pula yang paling tahu tentang hubungan ini." lalu kau juga semakin membuatku jatuh cinta dan tak ingin kehilangan setiap kali mengatakan, "Aku nggak akan berbuat macam-macam, percayalah, kamu akan selalu jadi satu-satunya."
Sering aku menuai senyum menyaksikan tawa mereka melebur dalam tawamu. Kadang, aku pun ingin menjadi mereka, agar tak perlu ada kekakuan saat tiba-tiba kita saling berdekatan. Aku pernah ingin menjadi angin yang menjadi perantara di setiap bisikmu, menjadi udara yang menguapkan keluhmu, menjadi helaan nafas panjang saat kau merasa lelah.
Kau tahu, aku ingin menjadi bagian dari apa yang selalu ada di sekitarmu. Aku ingin menjadi bahu yang kuat untukmu bersandar ketika dunia terasa begitu kejam. Aku ingin menjadi peluk yang hangat, agar kau dapat berlindung ketika merasa lemah. Aku selalu ingin menjadi sesuatu yang menguatkanmu, memberi suntikan semangat saat ia mulai luntur.
Tapi, lama aku mematut diri, untuk saat ini, aku ingin menjadi bagian dari doamu saja. Dan untuk saat ini pula, cara terbaikku menjagamu adalah melalui doa yang kurapal pada Tuhan.

No comments: