Bagaimana Rasanya Menjadi "Aku"?

Rasanya berbeda, —bagaimana saat kau jatuh cinta sebelum patah hati atau mematahkan hati orang lain, dengan bagaimana rasanya saat kau jatuh cinta setelah itu semua. Dulu, aku merasa bisa bermain-main. Bukan mempermainkan hati orang lain, namun bermain-main dengan rasa bahagiaku sendiri. Rasanya begitu bebas. Bagaimana aku bisa menikmati senyummu sesuka hati, bagaimana kita bisa menjalani hari tanpa takut kehabisan waktu karena toh hari esok masih menunggu untuk kita jejaki bersama, bagaimana tawa selalu bisa memenuhi setiap masa yang kulewati bersamamu, karena banyak hal sederhana yang mampu membuat kita merasa lebih ringan melangkah bersama. Perkara perasaan memang tak bisa diprediksi dengan presisi. Kadar cinta seseorang juga nyatanya tak selalu tinggi. Ada kalanya sebuah hubungan justru membuat pasangan yang dimabuk cinta berubah merasa jenuh dan ingin mencari selainnya lagi. Lantas, bagaimana kadar cinta di antara dua anak manusia yang pernah saling rasa, lalu merasakan patah hati di saat yang sama?
Mungkin, bisa jadi memang hal itu yang aku takutkan. Aku begitu khawatir jika kau akhirnya menyadari bahwa wanitamu ini tak sempurna. Ketika kini sikapmu tak semanis biasanya, mungkinkah aku tak lagi menjadi satu-satunya yang kau cinta? Atau, rasa trauma sebesar apa yang membayangi benakmu hingga masih belum mampu kembali membuka hati untukku? Bersamamu, aku pernah merasa jadi wanita paling beruntung di dunia. Dengan hanya berdampingan denganmu pun mampu membuatku merasa cukup —tak lagi butuh selainnya. Kau mungkin tak pernah tahu betapa rajin aku mengucap syukur pada Tuhan. Di antara doa-doa yang kurapal tiap malam, ada namamu yang tak pernah alpa kusebutkan. Tuturku pada Tuhan, “Terima kasih untuk dia yang Kau kirimkan. Bersamanya aku tak pernah merasa kekurangan. Dia yang mau dan mampu menemaniku sebelum dan sesudah luka, dia yang tetap bersedia mendampingi bahkan di saat-saat duka dalam hidupku. Dan harapku, semoga dialah yang kelak bisa selamanya bertahan.”
Sebagai seorang wanita, aku merasa sudah diperlakukan selayaknya. Bahkan jika aku ingin jujur, kau sudah memberiku segalanya meski tanpa kuminta. Kasih sayang, cinta, perhatian, waktu, dukungan; semua yang kau berikan membuatku merasa tak pernah kekurangan. Sejak saat perkenalan, kau yang selalu berusaha membuktikan perasaan. Tak sekadar kalimat-kalimat manis yang kau kirim lewat pesan singkat atau surat, kejutan-kejutan darimu hampir selalu sukses memaksaku terperanjat. Entah berapa banyak cokelat yang pernah kau letakkan di dalam ranselku, kau memberikannya bahkan ketika tak ada momen tertentu. Sayang, kau memang berhasil membuatku tergila-gila. Tak heran ketika sekarang kau pun berhasil membuatku meremang bertanya-tanya. Meski kini, aku menyadari banyak hal berubah setelah egoku merusak suasana hangat yang pernah kita jalani. Dan kini, mungkin aku harus berusaha memaklumi kenapa sikapmu tak lagi semanis dulu, kenapa kau justru sibuk dengan duniamu hingga seringkali mengabaikanku. Jika dulu aku termasuk salah satu yang kau prioritaskan, mungkinkah sekarang kau hanya menganggapku angin lalu?
Kita sama-sama tahu, manusia yang telah ditinggalkan dan kehilangan tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya. Kau dan aku pun paham bahwa kita memiliki cara masing-masing dalam menyiasati kehilangan. Tapi tak bisa dipungkiri, hingga saat ini terkadang aku masih merasa takut jika kelak akan merasakan hal yang sama. Aku cemas jika ternyata perubahan sikapmu adalah sebuah pertanda, bahwa kau memang sudah berubah, mungkin benar-benar bosan dan tak lagi cinta. Aku pun menyadari bahwa hubungan kita sebenarnya hanya sedang bertransformasi ke bentuk lainnya.  Dalam diam aku memutar ulang memori di kepala. Menyadari kau yang kini jarang mengumbar kata cinta, namun sibuk melakukan tindakan nyata. Tapi salahkah jika aku mulai mempertanyakan? Tak patutkah jika sikapmu yang kini jauh berubah membuatku kebingungan? Mungkinkah wanitamu ini tak lagi menarik perhatianmu?
Dulu, aku tak pernah menyangka bahwa kedekatan kita yang entah disebut apa mampu membuatku begitu nyaman. Aku tak peduli ada atau tidaknya status di antara kita. Sebelum aku memutuskan keluar dari zona nyaman itu, harus kuakui bahwa kau memang satu-satunya orang yang mampu membuatku kembali merasa jatuh cinta. Aku tak mengira bahwa kau merupakan orang yang tepat untuk menitipkan hati. Sempat aku berpikir, kau hanyalah kisah cinta yang akan kujalani tak lebih dari satu musim saja. Hati yang kugunakan pun hanya separuh besarnya. Bukan karena aku tak betul-betul cinta, namun aku hanya memberi ruang pada rasa waspada. Aku tak ingin terlalu kesakitan bila memang ternyata kau sosok yang serupa dengan manusia yang dulu pernah menggurat luka. Namun timbunan keraguanku padamu pun tak kunjung terjawab setelahnya. Hingga setelah semua peristiwa menyakitkan yang kualami dan kau masih tetap berada di sisi, kini aku justru yakin bahwa sosokmu merupakan tempat yang tepat untuk menitipkan hati. Aku malu mengakuinya, namun faktanya secara perlahan aku mampu mencintaimu dengan hati yang utuh sempurna. Kau bisa mengisi hariku dengan cara yang tak biasa. Tak melulu mengumbar kata-kata manis, namun wujud ragamu di sampingku mampu meyakinkan bahwa kau memang sosok yang akan terus menemaniku dalam keadaan apapun. Kau bahkan mampu memahami kemauanku tanpa banyak kata. Sepertinya raga dan hati kita dipahat dengan magnet dari kubu yang tak sama, hingga mampu begitu kuat saling menarik.
Aku tak pernah mengira jika sosokmu selalu bisa diajak berbagi beban, sosokmu sanggup menggenapkan. Kau membuatku tak perlu khawatir lagi pada kekuranganku selama ini. Ada dirimu yang mampu menambal segala lubang yang kuciptakan. Kau adalah paket lengkap yang kubutuhkan. Sosok kakak yang melindungi, sahabat yang mengayomi, serta pasangan yang kuyakin bisa setia mencintai terangkum di dalammu. Sebelumnya tak pernah kuduga perjalanan denganmu akan terasa begitu menentramkan. Keraguanku pun menghilang ketika menyadari sosokmu yang selalu bisa diajak berbagi dalam keadaan apapun. Kita memang punya perbedaan di sana-sini, bahkan ragam pertengkaran pun sering kita alami. Namun kusadari itu adalah usaha kita demi bisa saling mengisi. Pertengkaran yang ada termasuk salah satu senyawa yang membuat hubungan kita berwarna. Perbedaan pendapat turut kita lumat bersama. Aku yang bertahan dengan egoku akhirnya bisa luluh dengan caramu yang lembut dalam bernegosiasi. Padahal, tak bisa dipungkiri, kata pedas dariku tentu sering membuat telingamu memerah.
Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba, kau baru sadar ketika ia menyergapmu tanpa peringatan. Kepadamu tak hanya kutitipkan kisah suka serta duka, namun juga mimpi dan rahasia. Kau memang bingkisan indah dari Tuhan, dalam dirimu kutemukan pribadi yang sanggup menggenapkan. Kau tahu, Sayang? Wanitamu ini sudah berusaha sekuat-kuatnya. Mencoba tak berpikir naif dan memimpikan kisah-kisah cinta dalam cerita. Aku mencoba untuk meredam perasaan agar tak terlalu berlebihan. Aku tahu bahwa tak ada pasangan yang selamanya bahagia. Setiap hubungan pasti mengalami banyak pasang surut. Terkadang, kau mungkin mulai kesal mendengar rajukku. Tapi jika boleh berkata jujur, aku sungguh rindu kau yang dulu —pria yang tak pernah alpa memanjakanku. Saat ini, aku sering memperhatikan raut wajahmu yang berubah kesal begitu kalimat-kalimat omelan kuucapkan. Aku mengerti, kau mungkin merasa tak senang ketika aku mulai merajuk dan meminta diperhatikan. Tapi semakin kau terlihat kesal, aku justru makin tak bisa menahan. Saat sikapmu tak lagi semanis dulu, rasanya ada kebahagiaanku yang ikut hilang. Ada kebutuhan dalam diriku yang tak lagi terpenuhi, sekarang. Aku merasakan perubahan sikapmu sebagai pertanda bahwa kau memang sudah tak lagi memiliki rasa.
Tapi, kenapa aku malah sibuk cemburu pada masa lalu jika sampai detik ini pun kau masih ada di sisi? Kadang aku merasa bingung. Di satu sisi aku mulai sadar diri, kau bukannya tak cinta lagi tapi hubungan yang kita jalani hanya sedang bertransformasi. Kau tahu betapa bahagianya aku saat masih kurasakan hangat yang sama dalam genggaman jemarimu ketika kita duduk berdua sambil memainkan pasir pantai di bawah gerimis, kemarin? Seketika itu juga, entah kenapa harapku mengembang. Aku berusaha menekan perasaan bahagia, tapi nyatanya sama sekali tak bisa kusembunyikan raut wajah bahagia saat bisa kupandangi wajahmu begitu dekat tanpa merasa canggung. Rambutmu yang berantakan karena acakan jemariku, alis tebal yang mengukir simetris matamu, hingga suara tawamu yang terdengar begitu hangat di telingaku. Jika saat itu aku tak mampu menahan diri, ingin rasanya kupeluk tubuhmu begitu erat, berusaha menyampaikan rasa bahagiaku tanpa kata-kata.
Seringkali aku mencari matamu, berharap menemukan ketakutan yang dapat menyelamatkan kita dari perasaan yang salah. Aku menunggu senyummu, berharap melihat keraguan yang dapat membuatku mundur dan tak lagi bermain hati. Tapi, yang kudapati di sepasang mata cokelatmu justru kebahagiaan, yang kutemukan di dalam senyummu justru ketenangan. Di bawah sepasang bola mata cokelat itu, terdapat segaris senyum terulas rikuh. Semakin aku memandangnya, terasa semakin tenang. Semakin aku berada di sampingmu, terasa semakin nyaman. Bagaimana jika aku mengingkari janji dan kembali jatuh cinta padamu? Bagaimana jika kali ini aku menjatuhkan hatiku dengan sejatuh-jatuhnya padamu? Sementara aku tak lagi bisa menerka apakah kau juga merasakan hal sama. Lagi-lagi kau menempatkanku di ambang kebingungan, Sayang. Kemarin, sikapmu membuatku berada di puncak perasaan bahagia. Lalu hari ini, aku kembali bertanya, mungkinkah genggaman tanganmu kemarin hanya kau anggap sebatas angin lalu? Mungkinkah semua perlakuan manismu kemarin hanya untuk membuatku merasa bahagia sesaat? Atau yang jauh lebih parah dari semua itu, mungkinkah aku hanya menjadi pelarian bagimu? Rasanya seperti kau mengembangkan harapku, kemudian berlalu. Tanpa tahu aku turut hilang bersama semua harapan itu.
Tentu saja aku berharap bahwa ketakutanku ini hanyalah kesia-siaan. Sebagai manusia dewasa, aku justru belum bisa berpikir bijaksana. Ketika kita berhasil melewati jatuh bangun akibat sebuah alasan klise bernama cinta, aku malah mempertanyakan perkara-perkara remeh yang tak seberapa pentingnya. Kata-kata mesra, cokelat, hingga ajakan untuk pergi berdua seharusnya jelas tak lagi perlu diperhitungkan. Pendampinganmu selama ini toh menjadikanku tak kekurangan. Kita tak lagi menjalani kisah khas anak remaja. Kita sudah berada di level yang lebih tinggi, yaitu hubungan yang dewasa. Menyadari kealpaan diri sendiri membuatku merasa malu. Bodohnya aku yang tak cepat-cepat memahami makna perubahan sikapmu. Dibalik semua sikapku yang mungkin membuatmu merasa risih, aku hanya berharap kau masih memiliki rasa yang sama seperti dulu, begitu pula tak ada yang berubah dengan kadar cintamu.
Aku sadar, masih banyak keraguan yang tersimpan dalam benakmu. Atau bahkan masih begitu besar perasaan trauma dalam hatimu akibat luka yang pernah kugoreskan di sana. Tapi aku tak akan berhenti sampai di sini. Aku percaya tiap manusia pasti memiliki takdir yang memang sudah digariskan. Walau memang untuk bertemu dengan orang yang sanggup menggenapkan, kita harus terlebih dulu menempuh perjalanan panjang. Barisan orang yang tak tepat pun pernah kita temui demi mendapatkan setangkup pembelajaran. Puluhan rasa sakit dan gurat luka juga pernah hadir demi membuat kita memiliki mental layaknya baja. Dan kini, setelah berpindah dari tempat yang kesekian dan mengarungi perjalanan yang melelahkan, sosokmu merupakan rumah paling nyaman untukku menaruh lelah sembari menitipkan hati.
Sayang, terima kasih untuk semua pendampinganmu selama ini. Kini aku menyadari bahwa aku memiliki partner keras kepala yang hatinya paling hangat sedunia. Jadi, jika boleh aku meminta, jangan kehilangan semangat dan keyakinan untuk terus berdampingan denganku. Malu pada acakan rambutmu yang membuatku berjingkat, malu pada cubitan kecil darimu yang mendarat di hidungku hingga membuatku tersipu malu. Lihat mataku, masihkah kau merasa sendirian? Bila kau lelah, ingatlah aku. Ada doaku di belakang kepalamu. Biar dunia meremukkanmu, kuharap lenganku bisa jadi tempatmu pulang setelah menghadapi kerasnya dunia di luar sana. Sudah, tak perlu khawatir, pasti aku temani. Kita mungkin tak akan langsung hidup enak. Tapi kita akan bahagia. Tuhan pasti cukupkan. Jadi, jangan terlalu banyak dipikirkan. Duduklah di sampingku, dan lekatkanlah sepasang mata cokelatmu pada kedua bola mataku. Dunia cuma sedang bercanda. Mari kita tertawa saja. Saat diam, aku mendoakanmu. Sewaktu cerewet, di situ ada doaku. Kau tahu, rongga di sela jemariku dicipta begitu rupa agar bisa sempurna menampung jari-jari milikmu.
Asa yang kusisipkan dalam doa hanya satu, semoga hatimu masih tetap sama, semoga inginmu untuk berdampingan denganku pun masih tetap ada. Tuhan sangat dermawan karena memberikan manusia istimewanya untukku. Kuharap aku tak lantas menjadi hamba yang tak tahu diri ketika memanjatkan doa baru setelahnya. Tidak, aku tak akan lagi meminta hal-hal yang istimewa dan sulit untuk dikabulkan. Hanya satu saja permohonan sederhana yang terselip rapi di jalinan kata yang kuhaturkan kepada Pemilik Semesta. Mungkin terdengar berlebihan, tapi entah kenapa aku berharap kita bisa saling mengisi hingga masa kita di dunia dihabisi. 

Comments