January 9, 2017

Aku dan Pikiranku

Sulit rasanya mengendalikan sesuatu dari dalam diri yang tidak bisa kusembunyikan dengan baik. Saat aku yakin bahwa aku akan baik-baik saja, sesuatu yang buruk terjadi. Seolah ingin memberiku pelajaran untuk berani menghadapi masa sulit sendirian. Hening, semua berlalu begitu saja.
Lalu kudapati kau di sana. Memang tak sesejuk oase di tengah hamparan padang pasir, tapi entah kenapa aku yakin kau mampu membantuku untuk melalui hari ini.
Ragu memang menyertaiku, tak peduli sekuat apa aku berusaha meyakinkan diri. Ada pula rasa takut terhempas kembali, ada rasa sepi yang begitu riang menertawaiku, ada perasaan senang karena aku mampu menikmati waktuku sendiri. Tapi tetap saja, kehadiranmu tak dapat dipungkiri mengganggu fokusku. Pernah sama-sama terluka, apakah menjadikan kita tipikal manusia yang sama dalam mencerapi patah hati?
Bolehkah kita bersua sekedar mendentingkan gelas bir bersama? Menikmati masa "lajang" —katamu, dengan benar-benar menjadi remaja tanpa takut lagi terbebani kasus patah hati? Bolehkah aku merasakan desiran darah yang sama seperti saat dulu tangan kita tak sengaja bersentuhan di atas wahana roller coaster? Ah, dunia ternyata sedikit labil. Kadang menguatkanku, kadang membuatku sendu. Kadang melenyapkan rasaku, kadang membuatku ingin dengan liarnya memelukmu.



Sabtu malam di Kota Dingin,
Yang kita sebut dengan "Memori"

No comments: