Posts

Showing posts from January, 2017

Denganmu, Aku Kembali Jatuh Cinta

Image
Langit masih kelabu. Titik-titik air pun kian terasa menyejukkan. "Dingin." Ucapku sambil meniup telapak tangan yang terkepal erat. Tiba-tiba kau menarik jemariku. Menggenggamnya erat di antara kedua tangan hangatmu. Aku diam. Memandang senyummu yang hanya berjarak satu jengkal di hadapanku. Jika boleh, aku ingin memelukmu saat ini juga. Jika boleh, aku ingin merasakan bagaimana detak jantungmu di sana. Apakah sama gemuruhnya denganku? Menemukanmu ternyata jauh lebih menyenangkan daripada bermain pasir di tepi pantai, mencari kerang di sepanjang pasir putih, atau membangun istana pasir di bawah gerimis yang manja. Tak banyak yang bisa kulakukan selain berharap waktu mampu melambat agar aku bisa menikmati hangat senyummu lebih lama lagi. Sebentuk rasa pun tumbuh di sana. Jauh di luar dugaan, aku mengingkari janjiku sendiri untuk tak mencintaimu. Tapi, siapa yang bisa disalahkan atas suatu hal klise bernama cinta? Denganmu, aku kembali jatuh cinta. Denganmu, aku bisa kembali …

Bagaimana Rasanya Menjadi "Aku"?

Rasanya berbeda, —bagaimana saat kau jatuh cinta sebelum patah hati atau mematahkan hati orang lain, dengan bagaimana rasanya saat kau jatuh cinta setelah itu semua. Dulu, aku merasa bisa bermain-main. Bukan mempermainkan hati orang lain, namun bermain-main dengan rasa bahagiaku sendiri. Rasanya begitu bebas. Bagaimana aku bisa menikmati senyummu sesuka hati, bagaimana kita bisa menjalani hari tanpa takut kehabisan waktu karena toh hari esok masih menunggu untuk kita jejaki bersama, bagaimana tawa selalu bisa memenuhi setiap masa yang kulewati bersamamu, karena banyak hal sederhana yang mampu membuat kita merasa lebih ringan melangkah bersama. Perkara perasaan memang tak bisa diprediksi dengan presisi. Kadar cinta seseorang juga nyatanya tak selalu tinggi. Ada kalanya sebuah hubungan justru membuat pasangan yang dimabuk cinta berubah merasa jenuh dan ingin mencari selainnya lagi. Lantas, bagaimana kadar cinta di antara dua anak manusia yang pernah saling rasa, lalu merasakan patah ha…

Pergilah Lagi Tanpa Perlu Meminta Kembali

Andai bisa menyembuhkan hati semudah kau memilih pergi, pasti akan ku terima kau saat kembali. Tak peduli sekejam apa pun kau meninggalkan waktu itu. Sebab di sudut dadaku juga masih ada sedikit rindu. Hanya saja, menyembuhkan luka sebab kau tinggal, tak semudah kau meminta kembali dengan alasan sesal. Luka darimu membenam di jantungku. Menenggelamkan aku. Andai mudah untuk mencintai seperti dulu lagi. Mungkin akan ku terima kau kembali tanpa basa basi. Namun, hidup ternyata telah berubah. Rasa sakit yang kau tinggalkan dulu sudah membuatku kalah. Aku kalah mencintaimu. Tapi aku kalah dengan elegan. Perasaanku tak lagi sekuat dulu. Walau ku terima kau kembali, kutakut yang terjadi hanya cara mengulang pilu. Rasa rindu pasti ada. Hanya saja tersisa sedikit sebab kau pergi terlalu lama. Rasa ingin kembali juga ada. Hanya saja terkalahkan oleh rasa sakit sebab dulu kau menyakitiku dengan kejamnya. Maka, pergilah lagi tanpa perlu meminta kembali. Bawa sesalmu itu, biar ku jalani hidupku …

Aku Hanya Ingin Menanyakan Kabarmu Saja

Apa kabar kau yang di sana? Berulang kali aku menanyakan kabarmu, padahal tak sedetik pun pertanyaan itu tersampaikan. Aku berteriak, di antara sabana yang terik. Melamunkan senja dan riak air tergenang, berkecipak terinjak-injak.
Dua hari yang lalu, aku melihatmu tersedu-sedu. Jangan kau tanya mengapa aku tahu. Jangan kau tanya mengapa aku ada di situ. Aku ada di mana pun kau berada.
Kita adalah sepasang jiwa yang tak pernah menjadi satu. Meranggas setumpuk rindu satu demi satu hingga akhirnya bibir ini terus kelu. Tak kuat menelisikkan kata rindu yang kini sudah mengering. Lautan hampa yang kau teriaki tiada artinya.
Aku sudah pergi. Iya, aku harap itu tak menjadikan jarak ada. Sekali lagi, aku adalah manusia yang menghamba pada harap yang tiada. Kupikir, ada satu atau dua hal bisa diperbaiki; kau memilih tak merasa apa-apa lagi.
Kini, dalam almanak kusam di dinding kamar terhitung angka enam; tahun yang memisahkan perasaan kita. Dilarung dalam dasar samudra kehilangan; mati asa. Ha…

Aku dan Pikiranku

Sulit rasanya mengendalikan sesuatu dari dalam diri yang tidak bisa kusembunyikan dengan baik. Saat aku yakin bahwa aku akan baik-baik saja, sesuatu yang buruk terjadi. Seolah ingin memberiku pelajaran untuk berani menghadapi masa sulit sendirian. Hening, semua berlalu begitu saja. Lalu kudapati kau di sana. Memang tak sesejuk oase di tengah hamparan padang pasir, tapi entah kenapa aku yakin kau mampu membantuku untuk melalui hari ini. Ragu memang menyertaiku, tak peduli sekuat apa aku berusaha meyakinkan diri. Ada pula rasa takut terhempas kembali, ada rasa sepi yang begitu riang menertawaiku, ada perasaan senang karena aku mampu menikmati waktuku sendiri. Tapi tetap saja, kehadiranmu tak dapat dipungkiri mengganggu fokusku. Pernah sama-sama terluka, apakah menjadikan kita tipikal manusia yang sama dalam mencerapi patah hati? Bolehkah kita bersua sekedar mendentingkan gelas bir bersama? Menikmati masa "lajang" —katamu, dengan benar-benar menjadi remaja tanpa takut lagi ter…