December 7, 2016

Kita Akan Tetap Menjadi Kita

Mungkin nanti, kau akan membaca tulisan ini jauh setelah aku menuliskannya. Mungkin nanti, pertemanan kita akan selalu seperti ini. Dan aku memang berharap demikian, bahwa kita bisa selalu hangat meskipun dalam arti berbeda. Kau tahu, teman sepertimu sangat jarang kujumpai. Dan, senyawa seperti kita pun, begitu jarang didapati.
Untukmu, teman yang pernah membuatku menyusun rasa lalu mengaitkannya, kuharap kita akan tumbuh menjadi dua anak manusia yang semakin mendewasa.
Masih teringat jelas dalam benakku bagaimana awal perkenalan kita sejak sama-sama bergabung dalam grup suatu aplikasi percakapan. Kala itu, nama tampilanmu diawali dengan kata "Pak", tentu saja aku tidak mengira bahwa kau adalah teman yang nantinya berada dalam satu kelas denganku di bangku perkuliahan. Rasa canggung menyergapku saat pertama kali menerima pesanmu melalui Blackberry Messenger, aku sempat mengira bahwa kau adalah seorang dosen yang menjadi pembimbing akademik mahasiswa di kelasku. Tapi ternyata, dengan begitu ramah kau memperkenalkan diri lalu menceritakan sebab lucu dibalik sapaan "Pak" nama tampilanmu. Setiap kali mengingat kenangan yang sudah berlalu setahun lamanya itu, aku selalu tak mampu menahan tawa.
Ternyata, kau adalah teman yang baik. Dalam kurun waktu beberapa bulan saja kita bisa menjadi lebih akrab dibandingkan teman-teman lainnya. Kita saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Mulai dari masa kanak-kanak, bangku sekolah, pekerjaan, keluarga, hobi dan banyak lagi topik pembicaraan yang tak pernah habis kita bahas. Dua puluh empat jam dalam sehari terkadang masih terasa kurang bagi kita untuk mengakhiri percakapan via messenger. Lalu setelahnya, semesta seperti berkonspirasi memunculkan sesuatu dalam diri kita masing-masing yang tak mampu kita hindari.
Aku tentu tak bisa mengira pada siapa aku akan jatuh cinta. Aku juga tak bisa memperhitungkan kapan waktu yang tepat bagiku untuk jatuh cinta. Tanpa awal rasa yang jelas, waktu itu, tiba-tiba saja aku merasa bahwa kau adalah orang yang tepat untuk kucintai. Rasanya begitu klise, memang. Kurun waktu yang hanya berjalan sekitar tiga bulan itu mampu menciptakan rasa nyaman dalam hatiku. Kau tahu, sebelum kehadiranmu, butuh waktu hingga tiga tahun lamanya bagiku menyembuhkan luka sendirian. Luka yang pernah kuceritakan padamu asal muasalnya. Luka yang membuatku menutup hati hingga bertahun-tahun lamanya, sampai kau datang mengobrak-abrik semua prinsipku, meluluh-lantahkan benteng pertahananku.
Tuhan sepertinya sedang senang melihat kita bersama, waktu itu. Buktinya, Dia tak hanya membuatku jatuh cinta padamu, tapi juga menjatuhkan hatimu padaku. Kita sempat merasakan bahagia yang mengudara, seperti sepasang anak manusia yang baru saja menemukan cinta pertama. Kita lupa bahwa jatuh cinta tak selamanya membawa suka, tapi juga diikuti rentetan duka di dalamnya. Rasa nyaman yang muncul dalam hatiku semakin menjadi, terlebih sejak aku melihatmu bisa begitu akrab dengan kedua orang tuaku pada pertemuan pertama. Sikap ramah dan sopan santunmu ternyata mampu menarik hati mereka hingga seringkali mereka menanyakan kabarmu padaku. Kala itu, aku sempat berpikir bahwa aku telah menemukanmu, orang yang tepat untuk benar-benar kujaga dan menjagaku.
Hari-hari jatuh cinta kita lewati hingga beberapa bulan berganti, lalu perlahan aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Aku masih merasa nyaman berada di sampingmu, senyumku juga tak pernah lepas tiap kali melihat wajahmu, rasa bahagia itu masih ada dalam dadaku, bahkan perasaan takut akan kehilanganmu pun muncul dalam otakku. Hanya saja, ada sesuatu yang mengganjal dalam setiap gulir masa yang kita lalui. Mungkinkah aku telah salah mengartikan perasaanku?
Perasaan jatuh cinta yang sempat kurasa di hari sebelumnya perlahan berubah menjadi perasaan sayang seorang adik kepada kakaknya. Lalu, rasa nyaman berada di dekatmu membuatku seolah selalu terjaga dan dilindungi oleh sosok seorang kakak. Aku masih bisa merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perut tiap kali kau mengucapkan kata-kata puitis nan manis itu, hanya saja, aku mulai merasa takut kehilanganmu seperti aku takut kehilangan seorang kakak. Terlebih lagi, aku sempat melontarkan kalimat yang salah padamu. Apakah kau ingat aku pernah memintamu menghentikan semua kedekatan kita? Aku tahu, malam itu, aku benar-benar membunuh asamu. Tapi sama halnya dengan dirimu yang terluka, aku juga tak kalah menyedihkan setiap kali merasa sepi tanpa hadirnya sosokmu. Aku mencoba jujur pada diriku sendiri tentang apa yang ku rasa. Aku mencoba bercermin ke dalam hati kecilku, karena sejujurnya, aku juga tak mau kehilangan sosok sepertimu. Sampai akhirnya aku menyadari, bahwa saat ini aku lebih menyayangi sebagai seorang adik yang menyayangi sang kakak. Saat ini, aku merasa nyaman dan aman di sampingmu. Saat ini, aku tak ingin kehilangan sosok yang bisa menjadi pendengar serta pemberi nasihat yang baik sepertimu. Hingga tak lama berselang, aku bisa menafsirkan perasaanku dengan benar pada seseorang yang lain di sana. Ia yang datang dan membuatku mengerti bagaimana jatuh cinta sesungguhnya. Bukan hanya sekadar perasaan sayang sebagai adik dan kakak.
Aku tahu, kabar hubungan yang kujalin dengan orang tersebut tentu membuatmu terluka. Setelah apa yang kita lewati selama beberapa bulan lalu tanpa adanya ikatan, setelah semua waktu dan kedekatan yang hanya di isi oleh kau dan aku, aku tahu patah hati adalah satu-satunya hal yang kau rasakan waktu itu. Kemudian waktu berlalu dan membuatmu berhasil menyembuhkan luka. Waktu pun berlalu dan mengakhiri hubunganku bersamanya. Lalu kita benar-benar sampai pada titik ini, pada titik waktu yang sama seperti setahun lalu sebenarnya, kala kita masih menjadi dua orang anak manusia yang dimabuk cinta.
Tapi kini, setelah perihal jatuh cinta dan patah hati yang kita alami dengan sebab masing-masing, setelah semua luka yang mengajarkan kita untuk tumbuh, setelah waktu yang membuat kita mendewasa, aku percaya kita bukan lagi pribadi yang sama seperti dulu. Bukankah tak ada orang yang benar-benar sama setelah menyembuhkan luka sendirian?
Banyak kealpaan yang tengah kita perbaiki saat ini, kita sepakat bahwa fokus untuk menyelesaikan pendidikan saat ini adalah hal yang utama. Jika nanti kita memang ditakdirkan untuk kembali menjadi kita, siapa yang tahu?
Meski kini aku memang tak tahu sekuat apa hatimu, setegar apa kau bertahan dan menutupi semuanya dengan senyum dan tawa yang selalu muncul di raut wajahmu, tapi aku yakin, kita akan tetap menjadi kita. Jika saat ini kita adalah sepasang anak manusia yang saling menguatkan dalam lemah, aku bersyukur telah dipertemukan dengan sosok sepertimu.
Bagaimana nanti jadinya kita, biarlah waktu yang akan menjawabnya untuk kau dan aku.



—J

No comments: