November 23, 2016

Selamat Tinggal, November...

Entah kapan waktu yang tepat untuk melupakanmu, aku tidak tahu. Bisa saja tiga hari, dua hari, atau seminggu yang lalu aku bilang melupakanmu, lalu benar, secara perlahan-lahan aku menjauhi semua hal tentang kamu. Namun di pertengahan jalan kamu mulai kusebut-sebut lagi. Aku mulai menulis banyak tentangmu. Aku sadar, aku tidak pernah (bisa) benar-benar melupakanmu. Tapi sesadar-sadarnya aku mengingat kamu, aku juga sadar entah kapan dimulainya, aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku lupa bagimana rasanya jatung yang berdebar ketika bertemu kamu. Lupa pada meriangnya badanku ketika di dekatmu. Lupa bagaimana rasanya kupu-kupu berterbangan di perutku ketika memikirkanmu. Entah itu mual. Entah itu seperti tersengat ribuan volt listrik. Apakah itu manis. Apakah itu pahit. Atau benar seperti yang orang katakan, jatuh cinta itu rasanya nano-nano. Aku sering makan permen nano-nano, namun rasanya tak seperti jatuh cinta. Aku sadar, aku tidak bisa melupakanmu. Tapi waktu membunuh rasaku dengan sempurna. Apa artinya meski aku terus mengingat kamu?
Bahagia mengisi paru-paruku kini. Ketika langkah menapak di kota yang sesak. Di kota ini, dulu, kita pernah melewati segalanya bersama. Kita meliuk membelah malam, di bawah temaramnya lampu jalan, di temani rintik hujan yang manja. Hawanya masih sama, masih beraroma rindu. Rindu pada segaris senyum dari sudut bibir tipismu. Entah kenapa, rasa itu kembali merasukiku ketika melangkah di jalan berdebu yang dulu pernah kita lalui. Sesak batin ini mengingatnya. Sulit bibir membacanya dengan kata. Namun setidaknya kau tahu, hari ini kita akan menghirup udara yang sama. Di sini, di kota ini. Itu saja sudah cukup kurasa...
Rindu. Tak sanggup kutepis kata itu dari bibirku. Bayangmu membawa kembali kenangan itu ke hadapanku. Kenangan yang kerap kubangunkan ketika lelap mulai menyapa. Tidak lain hanya itu. Sebab, aku sudah tertinggal jauh dari langkahmu. Tak sanggup kumengejar, kendati kau berlari ribuan kali lebih cepat dariku. Tak apa, setidaknya aku masih bisa menikmati khayal tentangmu di tempatku berdiri. Rindu. Lagi-lagi kata itu menyapa bibirku. Membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Aneh rasanya mengucapkan itu lagi —untukmu. Harusnya perasaan itu sudah pupus mengingat kejamnya selamat tinggal yang kemarin kau ucapkan. Ketika aku memutuskan menyimpannya rapat-rapat, tiba-tiba saja tempat yang dulu sering kita datangi bersama mengingatkanku kembali. Mengetuk memori untuk mengenang masa itu. Sungguh, itu hari terindah sekaligus terburuk sepanjang hidupku. Kendati tak sanggup mengatakan perasaanku ketika waktu menyeret langkahku pergi. Tapi mengingat perjalanan terberat yang telah kita lalui bersama, menyimpannya adalah keputusan terbaik yang pernah kulakukan. Lalu, siapa sanggup menolak rasa yang tiba-tiba saja ingin meledak? Seandainya pun aku melihatmu lagi, masih dengan tawa dan senyum yang sama —mungkin aku akan membatu.
Rindu. Ternyata kata itu hanya tertahan di bibirku saja. Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah mendengarnya. Sebab, kata itu hanya akan kusimpan rapat-rapat di sini —dalam detak jantungku. Dan cerita adalah nafas yang akan membuatnya bertahan selamanya. I'll keep you, always here.
Jika kenangan tak membagi dukanya kepadaku, barangkali aku tak akan pernah menemui esok hari. Dimana semua kesedihan tersapu bersih oleh hembusan sang bayu pagi. Aku tak akan melihat mata-mata penuh sinar, menatap bangga pada sejumput senyum yang kutawarkan sebagai pembuka hari. Jika saja kenangan kubiarkan terkubur mati, bersama luka yang sesaat bisa mengering, barangkali saat ini, aku tak akan berdiri dengan kakiku sendiri. Jika kenangan masih setia bersamaku, kan kuceritakan pada dunia tentang beribu-ribu kisah yang dikubur waktu.
Seperti hujan yang besenyawa dengan matahari ketika membuat pelangi pada sore itu, tak bisakah kita seperti mereka? Bersatu. Menjadi senyawa. Ketika aku selesai menuliskan lirik ini, kau akan menggubahnya menjadi sebuah lagu. Lagu cinta. Meski pada akhirnya kau menyanyikannya bukan sembari membayangkan wajahku. Setidaknya, lirikku dan melodimu sudah bersenyawa. Berbagi kisah.
Aku meninggalkan November di sana, di depan pintu yang tersingkap separuh. Matanya berkaca-kaca membaca jejak langkahku yang perlahan tersapu hujan. Ada sesak menyekap tapi dia tetap bertahan disana —tidak beranjak. Dia bilang, "Pergi saja, aku tidak akan menahan." Aku mengerti. Selamat tinggal, November. Semoga kau baik-baik saja, sampai saatnya kita dipertemukan lagi.
Tidak pernah berjanji meski kata “promise” sering melengkapi cerita. Namun, itu bukanlah janji untuk menjadi “kita” selama-lamanya, hanya tetap menjadi “anda” dan “saya” saja. Tidak ada janji untuk tinggal, tidak ada janji untuk menunggu. Sering kali berpisah di suatu tempat. Lalu bertemu di tempat lain. Saling memunggungi. Saling berhadapan, meski tanpa suara. Selalu tidak pernah meminta suatu keharusan. Kita akan tetap menjadi “anda” dan “saya”. Ya, itulah sepertinya janji yang tersirat. Janji dua orang asing yang bertemu di tengah jalan. Suatu ketika, salah seorang dari kita ingkar janji. Salah seorang dari kita  tidak ikut berbalik ketika yang lainnya beranjak pergi. Ia menatap punggung itu sambil menunggu —berharap berbalik dan tersenyum sembari berkata, “Jika ada yang harus terus berjalan, maka yang berjalan itu adalah “kita” bukan “kamu” dan “aku” saja.” Salah seorang dari kita ingkar janji. Lalu menanggung konsekuensinya dengan kehilangan punggung itu. Tidak ada lagi cerita-cerita tentang dua orang asing yang bertemu di tengah jalan. Seseorang menunggu. Seseorang terus berjalan. Entah sampai kapan. Mungkin sampai pertemuan selanjutnya. Sampai seseorang dari kita lelah pergi lalu kembali, atau salah seorang lelah menunggu lalu pergi dan menemukan seseorang lainnya yang bersedia member izin untuk menunggu, atau menautkan kelingkingnya menjadi kata “kita”. Entahlah. Salah satu dari kita tampaknya sudah ingkar janji. Dan salah satunya lagi hanya bisa memandangi kepergian itu, lalu mendoakan yang terbaik.





Diadapatasi dari artikel Sri Noviana Zai pada kantonglaci.wordpress.com

No comments: