November 30, 2016

Ingatlah Aku Sebagai Pulangmu

Malam ini kudengar detak jantungku sendiri, terdengar seperti langkah kaki menaiki anak tangga. Delapan bulan berlalu, apakah tak ada sesuatu yang tertinggal? Aku tak pernah mengira jika semesta bisa sekejam itu membalikkan keadaan dalam sekejap. Meski kutahu kau tak ada, tetap saja kuputar ulang ribuan kali kenangan kita, membayangkan segala yang telah dilewati —dulu. Mungkin aku terlalu banyak merenung akhir-akhir ini, mungkin tindakanku terlalu konyol di matamu, mungkin ucapanku hanya terdengar seperti omong kosong bagimu. Tapi, tak apa. Suatu saat, ketika aku mampu melewatinya, aku yakin kau justru akan paham bagaimana rasanya sesuatu yang tak asing memenuhi sudut kepalamu seperti film favorit yang kau putar berulang kali.
Manusia bisa berubah kapan saja, namun masa lalu tak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan. Termasuk malam dimana kau katakan bahwa tak akan ada yang berubah, aku atau pun dirimu, sebelum kutahu betapa banyak kehilangan yang akan datang. Jika kau di luar sana, jika kau di suatu tempat yang tak lagi kuketahui, jika kau sedang melangkah menuju tempat yang entah dimana, ingatlah aku sebagai pulangmu. Jika memang hatimu belum sepenuhnya pergi, coba ingatlah aku yang menunggu langkahmu berbalik. Aku hanya ingin melihatmu lagi di depan pintuku dengan senyum yang masih sehangat dulu. Tapi, bukan saat ini.
Sekarang, nikmatilah terlebih dahulu petualanganmu di luar sana. Jika nanti kau merasa lelah dan tak lagi memiliki tujuan untuk kembali, ingatlah aku sebagai pulangmu. Saat ini, aku hanya ingin menikmati ketabahanmu dalam melupakanku. Apakah matamu juga basah? Apakah juga muncul ragu dalam heningmu?
Jika rindu adalah uap, maka aku adalah kopi yang siap kau sesap. Saat ini, kita hanya perlu membiasakan diri. Aku memang payah, sebab melupakanmu —aku selalu ingin menyerah. Kuberi tahu kau sedikit gambaran kesakitan dari seseorang yang kisahnya telah usai namun cintanya belum selesai. Adalah ketika namamu terdengar di telinga, hatiku kembali patah berkeping-keping. Entah, seberapa keras aku mendorongmu untuk enyah, entah seberapa jarak yang harus kuhempas sejauh pecah, tetap saja ada satu sudut dalam diriku yang menolak kehilanganmu hingga entah. Inginku, kata “pulang” darimu adalah di sisiku. Saat dimana kau sudah merasa lelah dengan perjalananmu, lalu kau akan datang dan tak pergi lagi —pada sebuah sudut dimana kopi kita bersanding hingga pagi. Teruslah bermain di taman petualanganmu. Singgahi rumah-rumah mungil yang kau kira mampu memuaskan hasratmu. Jangan berhenti hingga kau lelah. Jika aku masih menjadi pilihan hatimu, berbaliklah. Dan apabila aku masih di sini bersyukurlah semesta masih menjagaku —untukmu.

No comments: