Posts

Showing posts from November, 2016

Ingatlah Aku Sebagai Pulangmu

Malam ini kudengar detak jantungku sendiri, terdengar seperti langkah kaki menaiki anak tangga. Delapan bulan berlalu, apakah tak ada sesuatu yang tertinggal? Aku tak pernah mengira jika semesta bisa sekejam itu membalikkan keadaan dalam sekejap. Meski kutahu kau tak ada, tetap saja kuputar ulang ribuan kali kenangan kita, membayangkan segala yang telah dilewati —dulu. Mungkin aku terlalu banyak merenung akhir-akhir ini, mungkin tindakanku terlalu konyol di matamu, mungkin ucapanku hanya terdengar seperti omong kosong bagimu. Tapi, tak apa. Suatu saat, ketika aku mampu melewatinya, aku yakin kau justru akan paham bagaimana rasanya sesuatu yang tak asing memenuhi sudut kepalamu seperti film favorit yang kau putar berulang kali.
Manusia bisa berubah kapan saja, namun masa lalu tak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan. Termasuk malam dimana kau katakan bahwa tak akan ada yang berubah, aku atau pun dirimu, sebelum kutahu betapa banyak kehilangan yang akan datang. Jika kau di luar …

Selamat Tinggal, November...

Entah kapan waktu yang tepat untuk melupakanmu, aku tidak tahu. Bisa saja tiga hari, dua hari, atau seminggu yang lalu aku bilang melupakanmu, lalu benar, secara perlahan-lahan aku menjauhi semua hal tentang kamu. Namun di pertengahan jalan kamu mulai kusebut-sebut lagi. Aku mulai menulis banyak tentangmu. Aku sadar, aku tidak pernah (bisa) benar-benar melupakanmu. Tapi sesadar-sadarnya aku mengingat kamu, aku juga sadar entah kapan dimulainya, aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku lupa bagimana rasanya jatung yang berdebar ketika bertemu kamu. Lupa pada meriangnya badanku ketika di dekatmu. Lupa bagaimana rasanya kupu-kupu berterbangan di perutku ketika memikirkanmu. Entah itu mual. Entah itu seperti tersengat ribuan volt listrik. Apakah itu manis. Apakah itu pahit. Atau benar seperti yang orang katakan, jatuh cinta itu rasanya nano-nano. Aku sering makan permen nano-nano, namun rasanya tak seperti jatuh cinta. Aku sadar, aku tidak bisa melupakanmu. Tapi waktu membunuh rasaku d…

Andai Aku Bisa

Jika memang pada akhirnya jalan yang kita lalui harus menapak arah berbeda, biar doaku selalu menjagamu hingga kau mencapai titik lelah. Pintu-pintu langit penuh harap akan selalu mendampingi jejakmu, mengiringi setiap langkah dengan penuh elegi. Aku tak ingin merusak takdir Sang Ilahi dengan mendustakan segala nikmat-Nya. Meski melepaskanmu sama dengan merobek hatiku. Aku tetap akan menjadi pulangmu. Meski jika nanti kau terlalu lama kembali, mungkin aku telah mengubur setiap asa menjadi kenangan. Namun hadirmu akan selalu kujadikan nyata dalam setiap baris-baris roman. Mencuatkan rasa yang kandas, ikhtiar menyembuhkan luka seorang gadis penuh cinta. Seringkali pikirku membangun khayal, andai aku bisa terus mengenggammu di sini, mungkin risau takkan mampu menjengkali. Andai kau datang kembali pun, keinginanku masih tetap jawab yang sama, hadirmu yang kekal di sini. Lalu bilamana ingatan lampau tentang kita menghalau kakiku yang terseok, izinkan aku sejenak merapal doa dalam sujud te…

What's Wrong With Us?

Image
It's too complicated. Should I give up after what has been already we pass? Should I stop and take another way after what we have been through all this time? It's already too complicated and I feel like I'm at a crossroads. Should I stop or continue to fight for what is no longer fight for me? How can I continue to fight for something uncertain? How can I expect something that no longer wants to be given to me? While there, out there, there's someone who can convince me. As if now we're just waiting time, the time when everything must come to an end. It's just that we're still too afraid to end. If I'm afraid of regret and sorrow, who knows what you're afraid of. It's just, I can no longer feel your warmth. All about us have different now, it becomes more complicated.