October 24, 2016

Walennae

ketika senja turun dan cahaya menyerbuk di antara pohon-pohon lontara
aku kenang sungai ini sebagai lengkungan
taman para bissu, gaib dan sunyi
di tepinya, gadis-gadis mandi dan pulang
menjunjung tempayan bersama gairah
dan aroma kewanitaannya yang mengembang
dari kembannya yang basah

di sungai Walennae kasihku, adakah kau tahu, mengalir cintaku padamu?
tenang dan dalam?
ketika ujung-ujung ilalang meliuk
melambai kepada senja, dan bangau di pucuk-pucuk bambu
bersiap masuk sarang
di setapak menyusur Walennae
lelaki-lelaki memikul tong
bambu pulang dari menyadap nira

rumah kami di kaki bukit, beratap ijuk
dan dapurnya selalu menguapkan aroma gula
mampirlah bila ada waktu
kami pantang tak bersikap manis kepada tamu

saat malam mengurung
dan rembulan mengapung samar di permukaan Walennae
di langit yang kelabu terdengar jerit elang
seperti rindu yang perih dan jauh

di rumah-rumah beratap ijuk, di atas balai bambu
gadis-gadis menggeliat
teringat dongeng tentang pangeran baik hati
yang dikutuk penyihir jahat jadi buaya di sungai Walennae

di Walennae kasihku, aku terperangkap janji
yang tak mungkin aku tepati

di antara hening daun ketapang tua
yang berguling lepas dari rantingnya
Walennae merayap ke laut
di dasarnya aku hanya dapat mengenangmu
mengawasimu setiap pagi dan sore ketika mandi
menunggu saat aku menjalani kutukan
menerkam dan menelanmu

di sungai Walennae kasihku
adakah kau tahu, mengalir cintaku padamu?
suci dan terluka



—Aslan Abidin
Makassar, 2001

P.s.
- Walennae : sungai terpanjang di Sulawesi Selatan
- bissu : waria pemimpin upacara animisme di tanah Bugis

No comments: