October 22, 2016

Karamel Milik Kenzo

"Bawa ini untuk ibumu." Ucapnya ketus.
Aku hanya mengernyit tanpa bersuara.
"Ibuku membuatkannya untuk Ibumu. Biar bagaimana pun, mereka belum saling tahu tentang ayah."
Tanganku bergerak perlahan menerima bungkusan yang diberikan Kenzo. Berat rasanya membawa pulang sekotak bolu karamel itu. Meskipun aku tahu, itu kue kesukaan ibu.
"Cepat atau lambat mereka akan tahu. Lalu masing-masing dari mereka akan merasakan luka yang sama seperti kita."
"Sudahlah, kita sudah membicarakan ini sebelumnya."
"Kenapa kau terlihat begitu kuat?"
"Karena kau ada di sampingku. Setelah ini, aku akan terus ada menemanimu. Kau tahu, aku ini kakak lelakimu. Biar bagaimana pun, aku akan selalu melindungi adik perempuanku satu-satunya. Bahkan jika ada lelaki lain yang menyakiti hatimu, aku yang akan mematahkan lehernya."
"Sudah, cukup!" Aku mulai terisak. "Kau membuatku tampak lemah. Meskipun aku memang benar-benar merasa rapuh saat ini."
Kenzo menarikku ke dalam pelukannya. "Sudahlah, hentikan air matamu. Aku tidak ingin ibumu melihat mata anak semata wayangnya sembab ketika sampai di rumah nanti."
Kami pun tertawa bersamaan.
"Kau mengusirku? Hujan-hujan begini?"
"Bodoh! Memangnya kakak macam apa aku ini membiarkan adik perempuannya pulang ke rumah melewati hujan yang begitu deras ini sendirian?"
"Jadi, kau ingin mengantarku pulang sekarang? Kita melewati hujan bersama?"
"Lihatlah, pikiranmu sudah terlalu banyak dirasuki oleh novel-novel roman kacangan yang kau baca di perpustakaan itu."
Kali ini aku benar-benar ingin mencubit lengannya.
"Aku memang akan mengantarmu pulang, tapi nanti, setelah hujan agak reda. Kau tidak boleh sakit, minggu depan adalah waktu ujianmu masuk perguruan tinggi bukan?"
Aku hanya mengangguk, lalu menengadahkan kepala mengamati tepian atap genteng yang sudah tampak usang di atas kepalaku. Warung ramen ini sudah banyak menyimpan sejarah antara aku dan Kenzo. Pertemuan pertama kami, pertemuan kedua, pertemuan-pertemuan berikutnya yang bersifat rahasia setelah ayah melarang kami untuk saling bertemu, juga banyak obrolan pribadi yang saling kami ceritakan sambil menikmati mie ramen kesukaanku di sini. Sederhana memang, tapi warung ramen yang selalu ramai terutama sore hari ini benar-benar mengetahui setiap detail perbincanganku dengan Kenzo. Tentang pekerjaanku sebagai penjaga perpustakaan umum, tentang keinginanku melanjutkan pendidikan di luar negeri, juga tentang Kenzo, lelaki yang beberapa bulan terakhir membuat warna hariku berbeda. Tapi kenyataan yang muncul di hadapan kami saat inu menghancurkan segalanya. Ah, aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana kelanjutannya.
"Karen, kau melamun?"
Aku tersentak begitu Kenzo mengguncang bahuku. "Ah, aku? Oh, tidak."
"Ayo! Aku akan mengantarmu pulang, hujannya sudah reda. Dan sebagai kakak yang bertanggung jawab, aku harus memastikan adikku ini sampai di rumah sebelum pukul 10."
Aku tertawa kecil. "Sudahlah, Kenzo. Semakin kau mengatakannya, aku semakin terluka. Kau tahu?"
Kenzo mendekatkan wajahnya kearahku. Ia menjulurkan kedua tangan lalu membetulkan letak topi rajut yang menutupi poniku. "Aku yakin kita bisa melewati ini. Entah nanti kita akan tinggal dalam satu rumah, ataupun tidak. Entah nanti kita akan bersama sebagai pasangan, atau memang hanya sebatas kakak lelaki dan adik perempuannya."

No comments: