October 22, 2016

Atas Nama Jarak dan Kesibukan, Kamu Lebih Sering Kutitipkan Pada Tuhan

Kalau boleh memilih, jelas aku ingin menemukanmu setiap pagi di depan pintuku. Menjemput dengan muka sedikit mengantuk, lalu saling melepas kepergian masing-masing dengan bertukar peluk. Tapi ternyata rindu jadi entitas baru yang lebih sering datang memeluk kita. Membuatmu dan aku mesti bersabar menghadapi seluruh gejolak hati yang ada.

“Kita bertemu dalam doa dulu ya?” menjadi frase yang lebih sering kuungkapkan dalam hati demi berdamai dengan rindu yang muncul tiba-tiba. Kamu memang lebih sering kutitipkan pada Tuhan. Tapi bukan berarti aku kehilangan perasaan.

Tuhan menjangkaumu lewat berbagai cara yang tak terduga. Bahkan saat tanganku tak bisa melakukannya.

Hari pertemuan dan perpisahan kita yang terasa panjang tak akan pernah jadi hari yang biasa saja, selamanya. Sewaktu tanganmu kembali kutemukan ada rasa nyaman yang tak bisa kujelaskan. Agar kita punya banyak waktu bersama, melambatkan langkah sementara pun kujalani dengan sangat rela.

Saat tiba masa kamu harus kembali kulepas, sendu di hati tak semudah itu berubah jadi ikhlas. Kubayangkan bagaimana tubuhmu mesti berdamai dengan padatnya pekerjaan yang menguras tenaga. Mengubah siang jadi malam, malam jadi siang demi shift kerja yang di mataku tak ramah. Tapi bukankah picik sekali jika kuminta kamu mengubah haluan hidup hanya karena perkara kesenduanku? Biar bagaimana pun hal itu sudah menjadi hidupmu.

"Sabar ya, aku ingin kamu menjadi wanita yang kuat dan mandiri." katamu lewat pesan singkat, yang entah mengapa selalu mampu menghangatkan rinduku. Membuatku semakin terseok-seok menjalani hari yang panjang dan penuh lelah tanpa berakhir pertemuan di antara kita.

Kesibukan dan waktu yang terbatas memaksa kita jadi peretas batas. Kamu jalani hidup dengan namaku di hatimu. Hidupku pun tak lantas berhenti hanya karena sementara tak ada dirimu. Sesekali muncul rasa mendesak dalam dada, sebab kita ingin bicara.

Saat rasa macam itu tiba, kuminta Tuhan mendekapmu lebih lama. Kamu diciptakan-Nya. Tak ada alasan bagiku khawatir selama dirimu masih dalam penjagaan-Nya.

Doaku menyayangimu, doamu menguatkanku. Untukmu yang tak bisa kupeluk penuh perasaan sesering itu berjanjilah kita bertemu dalam doa dulu.

“Jangan lupa doakan aku ya?” adalah kata-kata yang selalu kamu ucapkan setiap kulepas tanganmu.

Beberapa pekan kemudian, waktu rindu menciptakan roller coaster rasa yang membuat kita setengah gila —permohonannya akan jadi berbeda;

“Kita bertemu dalam doa dulu ya?” jadi kekuatan yang membuat kita bertahan di tengah semua ketidakwarasan yang ada. Membuatmu terasa tetap dekat, meski pun tak bisa kurengkuh rapat. Meringkas jarak yang selama ini terasa sungguh bangsat. Memberi ruang pada kita untuk sedikit berjingkat.

Saat kamu merasa sendiri. Waktu kamu tak mengerti arah hubungan yang sedang dijalani. Ketika jarak terasa tak adil dan sungguh mempercundangi, kuharap satu yang terus kamu yakini. Doaku menyayangimu. Doamu yang tak putus-putus itu menguatkanku. Bertemu dalam doa dulu membuat kita akan terus bersatu.

Sampai kapan pun, lebih ingin kutemukan dirimu tiap pagi di depan pintu. Bisa kupeluk kapanpun muncul rasa rindu. Namun jika bersatu bagi kita tak bisa terjadi semudah itu, berjanjilah kita akan terus bertemu dalam doa dulu. Selalu. Kamu setuju?
Karena keinganan yang kuat untuk segera bertemu, aku akan selalu menunggumu.



Disunting dan diadaptasi dari artikel Garit Dani, salah satu kontributor hipwee.com

No comments: