Posts

Showing posts from October, 2016

Dan Kita

Dan pagi mungkin akan terasa sedingin ini untuk beberapa musim ke depan. Saat kita berotasi dalam dunia masing-masing, jauh tapi tetap saling memeluk dalam hati. Saat waktu terasa berjalan sangat lambat dan lelah seringkali membuntuti di belakang, bersiap kalau-kalau emosi sedang meradang, berusaha menghancurkan apa yang disebut dengan kita. Dan hari akan berlalu dengan sangat datar untuk beberapa waktu ke depan. Mungkin akan terasa sulit. Saat aku membutuhkan pelukmu, dan kau membutuhkan genggamanku, tapi kita hanya bisa meretas batas menahan rindu yang tertumpah. Tak apa, berjuanglah kita untuk hari esok. Untuk ketiga jagoan yang kita nantikan, untuk semua pengharapan yang sudah kita ucapkan di depan Tuhan. Dan malam juga pasti menjadi semakin panjang seiring kealpaan yang sering tak sengaja kita lakukan. Kadang, keraguan muncul. Perasaan tak aman, hingga takut, semua sering meronta dalam hatiku dengan begitu hebat. Lalu ketika lelah ikut menghajarnya dengan rasa duka, aku hanya be…

Untukmu... Yang Kelak Akan Menjadi Ayah Dari Anak-Anakku

Setiap gadis pastinya menginginkan pria yang memberi kenyamanan baginya. Tapi aku tak tahu, apakah kau benar-benar bisa memberikan itu padaku. Setiap wanita mengharapkan pria yang sabar menghadapi sikap kekanak-kanakannya. Tetapi aku pun tak tahu, apakah kau benar-benar sabar menghadapi diriku yang kesal saat pesan singkatku tak kau balas secepat kilat. Atau ketika aku marah saat kau bertelepon dengan teman kerja wanitamu untuk membahas pekerjaan.
Tetapi aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Akulah wanita yang tak mudah membuka hati kepada pria lain, yang tak suka hatinya hanya menjadi tempat persinggahan bagi cinta pria-pria lain. Akulah wanita yang sangat selektif membuka hati dan mempersilahkan seorang pria memenuhi hati ini. Tahukah kau kenapa aku bersikap seperti itu? Aku tak mau pria yang kelak menjadi ayah bagi anakku, merupakan pria yang sekian kalinya ada di hatiku. Mungkin kau akan heran atau merasa aku ini gila, saat kau mendengar prinsip yang kupegang itu. Mungkin juga…

Walennae

ketika senja turun dan cahaya menyerbuk di antara pohon-pohon lontara aku kenang sungai ini sebagai lengkungan taman para bissu, gaib dan sunyi di tepinya, gadis-gadis mandi dan pulang menjunjung tempayan bersama gairah dan aroma kewanitaannya yang mengembang dari kembannya yang basah
di sungai Walennae kasihku, adakah kau tahu, mengalir cintaku padamu? tenang dan dalam? ketika ujung-ujung ilalang meliuk melambai kepada senja, dan bangau di pucuk-pucuk bambu bersiap masuk sarang di setapak menyusur Walennae lelaki-lelaki memikul tong bambu pulang dari menyadap nira
rumah kami di kaki bukit, beratap ijuk dan dapurnya selalu menguapkan aroma gula mampirlah bila ada waktu kami pantang tak bersikap manis kepada tamu
saat malam mengurung dan rembulan mengapung samar di permukaan Walennae di langit yang kelabu terdengar jerit elang seperti rindu yang perih dan jauh
di rumah-rumah beratap ijuk, di atas balai bambu gadis-gadis menggeliat teringat dongeng tentang pangeran baik hati yang dikut…

Karamel Milik Kenzo

"Bawa ini untuk ibumu." Ucapnya ketus. Aku hanya mengernyit tanpa bersuara. "Ibuku membuatkannya untuk Ibumu. Biar bagaimana pun, mereka belum saling tahu tentang ayah." Tanganku bergerak perlahan menerima bungkusan yang diberikan Kenzo. Berat rasanya membawa pulang sekotak bolu karamel itu. Meskipun aku tahu, itu kue kesukaan ibu. "Cepat atau lambat mereka akan tahu. Lalu masing-masing dari mereka akan merasakan luka yang sama seperti kita." "Sudahlah, kita sudah membicarakan ini sebelumnya." "Kenapa kau terlihat begitu kuat?" "Karena kau ada di sampingku. Setelah ini, aku akan terus ada menemanimu. Kau tahu, aku ini kakak lelakimu. Biar bagaimana pun, aku akan selalu melindungi adik perempuanku satu-satunya. Bahkan jika ada lelaki lain yang menyakiti hatimu, aku yang akan mematahkan lehernya." "Sudah, cukup!" Aku mulai terisak. "Kau membuatku tampak lemah. Meskipun aku memang benar-benar merasa rapuh saat in…

Atas Nama Jarak dan Kesibukan, Kamu Lebih Sering Kutitipkan Pada Tuhan

Kalau boleh memilih, jelas aku ingin menemukanmu setiap pagi di depan pintuku. Menjemput dengan muka sedikit mengantuk, lalu saling melepas kepergian masing-masing dengan bertukar peluk. Tapi ternyata rindu jadi entitas baru yang lebih sering datang memeluk kita. Membuatmu dan aku mesti bersabar menghadapi seluruh gejolak hati yang ada.

“Kita bertemu dalam doa dulu ya?” menjadi frase yang lebih sering kuungkapkan dalam hati demi berdamai dengan rindu yang muncul tiba-tiba. Kamu memang lebih sering kutitipkan pada Tuhan. Tapi bukan berarti aku kehilangan perasaan.

Tuhan menjangkaumu lewat berbagai cara yang tak terduga. Bahkan saat tanganku tak bisa melakukannya.

Hari pertemuan dan perpisahan kita yang terasa panjang tak akan pernah jadi hari yang biasa saja, selamanya. Sewaktu tanganmu kembali kutemukan ada rasa nyaman yang tak bisa kujelaskan. Agar kita punya banyak waktu bersama, melambatkan langkah sementara pun kujalani dengan sangat rela.

Saat tiba masa kamu harus kembali kulepas,…

Between The Lines

Hujan di luar sana belum juga reda, tanganku kembali meraih segelas cokelat hangat dari atas meja lalu menyesapnya. Manis dan hangat.  Tapi tetap tidak mampu mengalahkan kehangatan hatiku yang kini bisa melihat langsung pria berwajah bulat dengan sepasang mata cokelat yang begitu jernih di sampingku ini.  "Kita coba jalani aja, aku yakin kita bisa bertahan. Dan sebenarnya, kita memang harus bertahan."  Mendengar beberapa kata itu, ternyata menjadi sebuah suntikan semangat bagiku.  "Gimana kondisi kamu?" Ia lalu meletakkan telapak tangannya di keningku. "Beneran udah sehat kan?"  Aku tersenyum lalu mengangguk yakin.  "Aku udah jauh lebih baik dari kemarin. Nggak harus bed-rest seharian, selera makanku udah balik. Sayangnya, aku jadi sering baper."  Ia mengernyit. "Baper gimana maksudnya?"  "Maaf, nggak bermaksud menyusahkanmu. Tapi akhir-akhir ini aku jadi gampang baper tiap kali membayangkan hari-hari kita setahun ke depan."