August 15, 2016

Aku Menemukannya Kembali

Kertas kosong itu kembali berwarna. Satu per satu barisan huruf mulai terisi di sana. Dulu, aku bisa menemukan banyak imajinasi dari hal-hal sederhana sekali pun. Hujan di pagi hari, guguran daun yang jatuh terbawa angin, ramainya kota yang membelah malam di bawah rayuan lampu-lampu jalan, percakapan asing di tengah perjalanan menuju halte dan masih banyak lagi sumber inspirasi yang tak pernah putus-putusnya menemuiku.
Aku sempat kehilangan alasan untuk menulis. Semakin kucoba semakin hilang. Aku pernah merasakan bagaimana menjadi orang yang diam seperti batu. Tidak mampu mengekspresikan segala macam perasaan dalam hati. Sedih, bahagia, haru, marah, semuanya hanya tersimpan dalam sunyi yang tiba-tiba saja merajai duniaku. Rasanya seperti kehilangan akal. Aku hanya bisa mendengar dan membaca bagaimana orang lain bisa dengan mudah menuliskan hari yang dilaluinya, bagaimana orang lain menciptakan karakter baru dalam berbagai cerita pendek, bagaimana orang lain menggubah syair-syair indah yang bisa menenangkan hati pembacanya. Rasanya seperti kehilangan arah kala itu. Aku sempat kehilangan keberanian untuk menulis, dan rasanya sama seperti aku kehilangan duniaku. Pernah sekali kucoba menulis beberapa kata saja, tapi jemariku berubah kaku dan aku hanya bisa tersedu. Tapi, aku bisa apa kala itu? Tidak ada yang mampu kusalahkan kecuali diriku sendiri. Ku pikir, aku telah begitu bodohnya merampas kebahagiaanku sendiri. Hingga aku menemukan satu-satunya cara untuk mengembalikan semua itu yakni lewat berdamai dengan diriku sendiri. Bagaimana bisa aku menulis duniaku sementara aku membenci diriku sendiri? Sementara aku terus menyalahkan masa laluku sendiri? Aku harus segera berdamai dengan diriku sendiri sebelum aku mati terkubur dalam rasa bersalah dan penyesalan. Rasanya, terlalu naif jika aku ingin hidupku luput dari kesalahan. Nyatanya sudah begitu banyak kesalahan yang kulakukan di masa lalu tanpa pernah sekali pun terpikirkan bahwa rasa penyesalan karena telah menyakiti orang lain bisa saja sewaktu-waktu mengurung diriku sendiri.
Kertas kosong itu kembali terisi oleh cerita-ceritaku. Meski belum sepenuhnya dapat kurasakan kebahagiaan lewat tulisan itu, tapi saat ini aku sudah bisa sedikit mengenali kembali siapa diriku sebenarnya.

No comments: