July 13, 2016

Chaotic

                Ada beberapa hal dalam hidup yang nggak bisa kita perlakukan sesuka hati. Waktu, misalnya, nggak akan pernah mengikuti kemauan kita kecuali diri kita sendiri yang berusaha menyesuaikan keadaan dengannya. Dan ada beberapa alasan pula yang membuatku sama sekali nggak bersemangat untuk berangkat ke kantor pagi ini. Terlalu banyak wajah-wajah yang nggak asik untuk dilihat, misalnya.
                “Ta, bangun. Udah hampir jam 7 nih.” Ibu mengetuk pintu kamarku beberapa kali.
Aku menarik selimut hingga menutupi wajah. “Bentar lagi, Bu. Masih ngantuk.”
“Ibu nggak mau ya dengerin kamu ngedumel sendiri karena kesiangan dan telat ke kantor.”
Suara Ibu terdengar menjauh dari pintu kamar. Mungkin kembali ke dapur sembari memeriksa masakannya.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Menoleh pada jam dinding di samping kiriku. Pukul tujuh kurang sepuluh menit. Artinya aku hanya memiliki sisa waktu sepuluh menit lagi untuk bermalas-malasan sebelum harus bergegas ke kamar mandi supaya bisa sampai tepat waktu di Universal Property Corp. yang nggak lain adalah perusahaan multinasional tempatku bernaung selama hampir dua tahun yang bergerak di bidang pembangunan properti dalam jumlah besar seperti apartemen maupun gedung perkantoran.
Aku kembali memasukkan tubuh ke dalam gulungan selimut. Ah, masih hari Rabu ternyata. Masih ada beberapa hari lagi yang harus kulalui sebelum bisa bersantai di akhir pekan. Sudah empat malam ini aku hanya memberikan jeda waktu lima jam bagi tubuhku untuk beristirahat. Terdengar miris memang, tapi pikiran yang sedang semrawut sering membuatku tidur larut malam bahkan sampai pukul 2 dini hari.  Kadang aku bertanya pada diri sendiri, kenapa aku berada pada posisi ini? Kenapa aku nggak menempati posisi kehidupan orang lain yang mungkin memiliki pikiran lebih tenang? Maksudku, bukan berarti hidup tanpa masalah. Tapi setidaknya, masalah nggak perlu datang sekaligus dalam waktu bersamaan.
―――
“Pagi, Mbak Myta. Lesu amat, Mbak. Lagi sakit?” Sapa Putri, salah satu karyawan dari divisi marketing saat kami berpapasan di depan lift.
Aku hanya menanggapi dengan senyum seadanya. “Nggak kok, cuma kurang istirahat aja.”
Perusahaan tempatku bekerja merupakan kantor perwakilan untuk wilayah Medan yang berada di lantai 10 sebuah gedung perkantoran di daerah Jalan S. Parman, sementara kantor pusat dari Universal Property Corp. sendiri tentu saja berdomisili di Jakarta. Jarak tempuh yang hanya berkisar 30 menit dari rumah sebenarnya nggak terlalu memusingkan, hanya saja, kemacetan yang sudah mulai menular di Medan ini yang seringkali membuatku gemas. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Medan benar-benar menyerupai kota metropolitan seperti Jakarta.
“Ntar malam ikutan acara halal bihalal sama anak-anak kan, Mbak?” Tanya Putri lagi setelah kami memasuki lift.
“Di rumah Pak Aryo? Belum tahu nih. Dari kemarin aku pulang malam terus, takut ntar malah ngedrop jelang tender bulan depan.”
“Tendernya bukan di pending dua bulan lagi ya, Mbak? Kemarin nggak sengaja denger Bu Dewi bilang gitu ke Mas Dani.”
Aku hanya menaikkan sebelah alis. Syukurlah kalau kabar itu memang benar. Artinya aku masih memiliki jarak waktu untuk mempersiapkan proposal yang lebih matang lagi sebelum mengikuti tender pembangunan condominium mewah di sekitar kawasan Balai Kota.
Pintu lift terbuka setelah terdengar suara dentingan. Aku dan Putri berjalan keluar dari lift dan menuju ruangan divisi masing-masing.
“Tuh mata kenapa, Ta?” Tyas meletakkan sekaleng cokelat instan siap minum di atas mejaku. “Nih minum, kesukaan kamu.”
Aku hanya sedikit menoleh padanya yang langsung menarik kursi di hadapan mejaku.
“Thanks, Yas. Kamu emang paling ngerti deh.”
“Ya aku juga emang paling ngerti kok kondisi patah hati kronismu itu.”
“Sshhh! Jangan kuat-kuat. Ntar kalau anak-anak pada denger gimana? Apalagi kalau sampai Aulia tahu.”
“Emangnya kamu pikir Aulia nggak bakal mikir macem-macem ngelihat pacarnya pasang muka lesu kayak gini? Mau sampai kapan kamu alasan nggak enak badan atau nggak mood ke dia?”
Aku hanya berdeham.
“Ayah mulai nggak enakan lagi sama Aulia, sampai sekarang aku juga nggak tahu gimana kabar Ryan. Apalagi dengan kondisi kantor yang lagi penuh gonjang-ganjing kayak gini. Ah, entalah, Yas.” Aku meraih kaleng cokelat di hadapanku. “Usiaku bukan lagi usia anak remaja yang harus diprotect kesana-kemari kan?”
“Menurutku, kamu harus ngomong dari hati ke hati sama Ayah dan Ibu. Ya Ibu sih mungkin paham, karena wanita lebih menilai pakai hati. Tapi Ayah, masih tetap mengandalkan logika dan menganggap kalau Aulia itu nggak baik buat kamu.”
Tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Dara, nama yang tertera di sana.
“Halo, ada apa, Ra?” Kulihat Tyas masih asik dengan sekaleng cokelat di tangannya. “Apa? Kok dia nggak ngabarin aku sih?”
―――
To be continued…

No comments: