July 14, 2016

Chaotic Part 2

“Udah, Ta, udah.” Dara masih memelukku yang menangis di bahunya. “Jangan buat aku ikutan sedih dong.”
Aku masih belum bisa mengontrol emosi. Nggak tahu apakah harus sedih, marah, kecewa atau bahkan senang dengan keadaan saat ini.
“Aku udah segitu nggak berartinya ya buat dia?”
“Mungkin dia butuh waktu, Ta.”
“Bahkan untuk hal kayak gitu dia sama sekali nggak ngasih kabar ke aku. Dan sekarang, aku nggak tahu gimana keadaan dia, nggak tahu dia dimana, sama siapa.”
Dara menghela napas.
“Tapi aku juga nggak bisa sepenuhnya nyalahin dia. Biar gimana pun, aku yang udah mulai semuanya. Aku merusak pertemanan kita, merusak suasana hangat kita. Maaf ya, Ra.”
“Tuh kan, kamu jadi nyalahin diri sendiri. Mungkin ini cobaan buat persahabatan kita selama ini, ya meskipun belum lama. Myta, semua bakal indah pada waktunya. Percaya sama aku.”
Aku mengusap sisa air mata di pipi. “Tapi dia bakal benci sama aku.”
Dara nggak berkomentar. Ia menatapku kosong.
―――
Satu bulan lalu…
“Jadi nanti, aku pengen kita punya tiga jagoan. Inget ya, tiga loh, Ta.”
Aku nggak bisa menahan tawa memandangi mimik wajah Aulia.
“Supaya apa punya tiga anak yang kesemuanya laki-laki?” Tanyaku sambil menaikkan sebelah alis.
“Ya supaya bisa jagain mamanya dong.” Aulia mencubit pipiku gemas. “Siapa tahu nanti aku ninggalin kamu duluan.”
“Hih, emangnya kamu mau ninggalin aku? Jahat.”
Suara tawa kami kembali menyatu dengan derasnya hujan di luar sana. Aulia menarikku dalam pelukannya.
Hangat.
Dan damai.
Cuma itu yang kini kurasakan. Satu hal yang sampai sekarang aku nggak mengerti, entah kenapa aku selalu nggak bisa berpikir saat berada dalam pelukan Aulia. Mendengar detak jantung dari dadanya membuatku merasa gugup. Ah, mungkin bukan cuma itu. Ia memang selalu berhasil membuatku gugup. Tiap kali ia memandangi wajahku, dapat kupastikan pipiku berubah menyerupai tomat rebus. Tiap kali ia menggandeng tanganku saat kami berjalan beriringan, ia juga selalu berhasil membuat kupu-kupu dalam perutku berterbangan.
Katakanlah aku berlebihan. Tapi aku juga nggak bisa memungkiri kalau aku sedang berada dalam efek jatuh cinta ―atau mungkin cuma karena hormon serotonin berlebih saja, mungkin.
“Bentar ya, aku ambilin cokelat hangat.”
Aulia beranjak dari sofa menuju dapur. Tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan sebuah pesan masuk di BBM.
Picture received.
Nama yang tertera di sana, Ryan.
Jantungku terasa seperti ingin keluar dari tempatnya. Dengan gugup aku memperhatikan sekitar, belum ada tanda-tanda Aulia muncul dari pintu dapur.  Dengan cepat aku membuka menu aplikasi BBM dan melihat gambar yang dikirimkan Ryan. Kali ini aku benar-benar merasa udara di sekelilingku menghilang. Aku menyentuh layar ponsel dan mencari pilihan End Chat.
―――
“Kamu udah sarapan belum sih? Pucat gitu mukanya.” Aulia masuk ke dalam ruanganku membawa beberapa file penting berisi profil perusahaan.
“Hai, Sayang.” Aku mengalihkan pandangan dari layar monitor. “Cakep banget sih pacarku hari ini.”
Ia menaikkan sebelah alis. “Kamu sakit ya? Akhir-akhir ini aku lihat lesu banget.”
“Nggak, aku nggak apa-apa kok. Kurang istirahat aja.”
“Dan lebih tepatnya karena makan nggak teratur juga.”
Aku tertawa kecil.
“Aku bawain bubur ayam nih.” Aulia menyerahkan sebuah bag paper. “Kesukaan kamu.”
Aku sama sekali nggak bisa berkomentar. Cuma tersenyum memandangi Aulia.
Aku nggak menyangka, sosok sepertinya mampu melakukan hal-hal semanis ini, jauh di luar dugaanku. Aulia yang kukenal setahun terakhir adalah pribadi paling menyebalkan se-Universal Property Corp. Meskipun harus kuakui dari segi pekerjaan dapat ia selesaikan dengan cukup baik, bahkan terkadang sangat baik, tapi sikap acuh dengan gaya bicara yang semaunya membuatku nggak pernah menaruh rasa tertarik padanya. Sampai hari itu pun tiba, entah apa yang tiba-tiba membuatku merasa dia adalah laki-laki yang berbeda dari umumnya. Dan sekarang, seluruh divisi di kantor pun tahu kalau kami sudah resmi berpacaran selama beberapa bulan terakhir.
“Kalau kamu nggak enak badan, ntar malam kita batalin aja nontonnya.”
Suara Aulia menyadarkanku.
Sejak kapan aku melamun di depannya?
“Batalin? Nggak kok, aku nggak kenapa-napa. Serius. Ya udah aku sarapan dulu ya. Kamu balik ke ruangan aja dulu.”
Ia mengelus rambutku beberapa kali sebelum berbalik dan melewati pintu ruanganku.
Aku menarik napas panjang dan menyadarkan tubuh dengan lemas.
Jauh di dalam pikiranku, aku masih belum bisa melupakan kejadian antara aku dan Ryan sebulan lalu. Ucapan terakhirnya bahkan masih sangat terngiang dalam telingaku. Apalagi setelah mendengar kabar terakhir Ryan dan Dara beberapa hari lalu. Tapi aku juga nggak bisa terus begini.
To be continued…


No comments: