April 18, 2016

Kini Saya Mengerti

Jika jeda ini dianggap sebagai perpisahan yang kejam, izinkan saya untuk mencintaimu diam-diam.
Jika memang tak lagi ada keinginanmu untuk menunggu dan memperjuangkan kita, izinkan rasa ini tetap tersimpan.
Kita bukan lagi dua anak manusia yang masih awam perihal cinta dan patah hati.
Kita adalah dua sosok yang tengah beranjak dewasa lewat banyak kealpaan juga kesalahan.
Seharusnya, semua itu mampu mendewasakan bukan malah menjauhkan.
Jika memang tak lagi tersisa ruang di hatimu untuk mempersiapkan masa depan kita, izinkan saya untuk tetap menggenggamnya.
Karena saat ini, kamu tiba-tiba saja menghilang.
Seolah sengaja menutup diri dengan benteng yang tidak dapat saya raih.
Dinding penghalang itu tampaknya mulai kokoh menunjukkan keangkuhannya.
Kamu berdiri di baliknya, berselimut kabut tebal sehingga sulit untuk tertangkap oleh kedua mata saya.
Saya ini apalah?
Hanya seorang anak manusia yang berusaha memperbaiki diri, berjuang menjadi calon ibu terbaik bagi anak-anaknya kelak, juga ingin sekali mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganmu saat kita sudah benar-benar siap nanti memulai masa depan.
Tapi sepertinya, niat baik itu mulai menguap di udara.
Rasanya begitu menyeruak di dalam dada, seperti sesak yang berkelanjutan.
Udara seakan menghilang dari peredaran lalu saya mulai kehilangan arah.
Imajinasi mulai kembali berkecamuk, menoreh luka lama yang ternyata jauh lebih perih dari sebelumnya.
Kita semua tahu, takkan ada yang baik-baik saja setelah mengalami fase patah hati.
Begitu juga saya, bahkan kamu.
Hingga serangan pesan singkat yang bertubi-tubi saya kirimkan pun tak lagi kamu acuhkan.
Semuanya berlalu begitu saja, seperti hembusan angin yang terlewat tanpa arti.
Pesan-pesan singkat itu tak lagi terbaca, mungkin kamu telah melewatkannya, membiarkannya memenuhi kotak masuk lalu menghapusnya begitu saja.
Atau mungkin kamu sempat melihat isinya melalui baris notifikasi, lalu menghapusnya tanpa merasa perlu untuk membuka apalagi membalas.
Saya akui itu kejam.
Tapi sekali lagi, saya ini apalah?
Kini saya mengerti bahwa saya tak pernah benar-benar menjadi tujuan akhirmu.
Karena jika memang saya adalah tujuanmu untuk pulang, jika memang saya menjadi salah satu yang kamu cita-citakan untuk mendampingimu di masa depan, kamu tentu takkan semudah itu melepaskan.
Kini saya mengerti, bahwa mungkin saya adalah sesuatu yang sebenarnya telah kamu lewatkan.
Yang tersisa hanyalah serangkaian pesan singkat di masa lalu yang memenuhi berbagai kotak masuk dalam media sosial saya, juga sekumpulan foto-foto yang tak lupa saya abadikan dalam ponsel, yang sepertinya sekarang beralih fungsi sebagai penawar rindu ketika saya terbangun pukul 2 dini hari lalu terisak perlahan karena memimpikanmu.
Pergilah jika memang tak ada lagi keinginan untuk memperjuangkan kita di masa yang akan datang.
Saya akan tetap di sini, berada di tempat yang sama ketika kamu memutuskan untuk menjauh dan merentang jarak antara kita.

No comments: