Hati Telah Memilih

Ini bukan perpisahan, percayalah, kita tak pernah berpisah.
Sekalipun tiada lagi saling menyapa, sekalipun bibir tertutup rapat saat mata saling memandang, sekalipun pesan singkat di awal hari tak lagi ada, sekalipun jemari kita terasa ngilu untuk bertautan, percayalah, hati telah memilih.
Dan itu kamu.
Ini bukan perpisahan.
Kita hanya saling membutuhkan jeda.
Kita hanya saling membutuhkan ruang dan waktu untuk sejenak berpikir sembari meyakinkan kembali hati.
Kini, tak ada lagi aku dan kamu, karena memang aku dan kamu telah berubah menjadi kita.
Kini, yang ada memang hanyalah kita, bersama sejuta cerita tentang masa yang pernah dilewati bersama.
Empat bulan yang berlalu rasanya sudah cukup meyakinkan bahwa hati telah memilih... dan itu kamu.
Saya tentu sudah pernah bercerita tentang kisah cinta salah seorang penulis kesukaan saya, Azhar Nurun Ala.
Kamu tentu sudah mendengarnya langsung dari bibir saya, tentang bagaimana perjuangan mereka selama bertahun-tahun hingga akhirnya dapat bersanding di atas kursi pelaminan.
Meskipun khayalan saya kadang terdengar konyol, tapi percayalah, bahwa saya juga menginginkan hal itu terjadi pada kita.
Saya sudah khatam menikmati banyak rayuan dari para kaum Adam, sudah tak ingin lagi menjalani hubungan percintaan seperti dongeng, jemari saya juga sudah terlalu lelah digenggam tangan yang berbeda, hati ini pun sudah pernah mengalami luka sehebat-hebatnya luka akibat drama percintaan itu sendiri.
Oleh sebab itu, izinkan saya memperbaiki diri.
Dan saya rasa ini juga waktu yang tepat bagimu mempersiapkan diri untuk menjadi imam kelak.
Percayalah, hati telah memilih.
Dan saya akan menunggumu sampai kita akhirnya siap.
Meskipun saat ini mungkin akan terasa asing akibat jarak yang tiba-tiba muncul, percayalah, jauh di dalam hati saya tak pernah menginginkan ada jarak yang terentang di antara kita.
Saya ingin semuanya berjalan seperti sedia kala.
Sapaan hangat di pagi hari, celotehan lucu dan menggemaskanmu di saat saya sedang berkutat dengan pekerjaan, pesan singkat sederhana untuk tidak meninggalkan shalat dan melupakan makan siang, hingga ucapan selamat tidur sebelum saya terlelap dan memimpikan kita.
Hati telah memilih dan itu kamu.
Pria humoris yang selalu bisa mengundang tawa saya meskipun saat hati sedang mendung-mendungnya.
Pria sederhana yang selalu bisa membuat saya jatuh cinta berkali-kali.
Pria yang sering menyapa saya dengan panggilan bawel maupun jutek.
Kamu tak perlu ragu, apalagi khawatir.
Hati saya telah memilih.
Dan itu kamu.
Kita hanya perlu waktu mempersiapkan diri masing-masing untuk kelak saling berdampingan melihat anak cucu kita tumbuh dewasa.

Comments