Di Dalam Hatimu, Kutemukan Rumah Yang Nyaman

Rumah... tempatku tumbuh mengenal kedewasaan.
Rumah... kehangatan di tengah kepenatan yang kerap datang.
Rumah... tempatku menemukan rasa nyaman yang tidak pernah lelah memanggil-manggilku pulang.
Namun jangan salah. Rumahku tidak hanya satu, tidak hanya bangunan dengan lantai dan atap milik ayah dan ibuku. Setelah bertahun-tahun, aku telah menemukan rumah baru —tepat di jantung hatimu.
Ia indah dan selalu tabah. Ia gagah, siap dan sigap melindungiku.
Maukah kamu percaya itu?
Kita saling mencari di antara kerumunan manusia lainnya. Tanpa peringatan, kita bersua.
Pertemuan kita di masa silam memang tidak pernah diduga sebelumnya. Kita yang awalnya hanya sekedar menghabiskan waktu melakukan rutinitas pekerjaan di gedung yang sama tidak pernah tahu bahwa nantinya Sang Pencipta akan meramu aku dan kamu menjadi kita. Aku dan kamu adalah pekerja dari divisi berbeda yang selalu berjumpa di tempat yang sama, dari pagi hingga senja.
Kesibukan akan pekerjaan masing-masing membuat kita berjibaku, hingga kita tidak menyadari kehadiran masing-masing karena terlalu sibuk berkutat dengan sekumpulan nota-nota. Sampai suatu ketika, kamu si penggila kopi dan aku si penggemar teh dipertemukan dalam ruangan rapat yang sempit dan sederhana. Ya, kita berkenalan dengan cara yang sangat biasa, seperti halnya kedua manusia yang tidak saling mengenal lalu saling bertukar sapa dan senyum.
Pertemuan kita juga terkesan sangat biasa, saat itu bahkan aku masih belum bisa membuka hati dari jeratan mantan lama. Namun kemudian degup jantung yang selalu tidak beraturan iramanya setiap ada kehadiranmu selalu membuatku jengah dan wajahku memerah. Tahukah kamu? Debar jantung yang kurasa kian lama seperti candu. Tidak melihatmu sehari saja membuat hati ini terasa ngilu. Mata ini juga enggan menyerah mencari kehadiranmu di antara kerumunan manusia. Seperti biasa, kehadiran sosokmu di kejauhan sanggup membuat hatiku kembali tenang dan kemudian meremang.
Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa aku tidak menyadari kehadiranmu sebelumnya? Tubuh yang tidak terlalu tinggi menjulang, rambut kepanjangan bagi seorang pria, senyum asimetris yang tersimpul sederhana, bukankah tampak menyolok mata di antara lautan pekerja lain di tempat ini?
Ya, hatiku juga masih belum mendeteksi, bahwa nantinya kamu akan menjadi rumah mungilku untuk pulang.
Kita pun “naik strata”, sama-sama mabuk asmara dan ingin selalu menghabiskan waktu bersama setiap harinya.
Di tengah kesibukan yang mendera, kita selalu menyempatkan diri untuk bersua. Sekaligus sebagai pengisi energi untuk menghadapi sisa hari. Kelakarmu selalu setia mengisi hariku, begitu pun kamu yang tidak bosan mendengar tawaku. Kehangatan selalu mengisi hari-hari kita selanjutnya, kita tidak lagi malu-malu untuk menunjukkan rasa suka. Ya, aku dan kamu kini telah berganti nama menjadi kita.
Aku tentu masih mengingat dengan jelas malam itu, kita menghabiskan waktu bercengkerama sekaligus mengisi perut yang sudah sangat ribut. Di tempat sederhana itu kita berbagi cita dan asa. Aku tidak putus-putusnya selalu mengamini cita-citamu dalam hati. Alis tebalmu juga selalu berkerut tanda bahwa kamu sedang menyimak ceritaku dengan serius. Membuat rautmu terlihat lucu, sekaligus membuatku ingin mencumbumu.
Ah, namun kita tidak bercumbu di tempat itu. Ya, kita memang bukan tipe pasangan yang hobi mengumbar kemesraan. Hobi bergandengan dan berbagi kecupan di jalanan bukanlah suatu kegemaran. Kita menyesapi kemesraan kita sendirian —saat kita sedang menghabiskan waktu hanya berduaan.
Malam itu, saat kamu mengantarku pulang merupakan pertama kalinya kamu menggenggam erat jemariku seperti enggan melepaskan kepulanganku. Aliran listrik terasa menjalari sekujur tubuhku, seolah jantung ini hampir keluar dari tempatnya. Diiringi dengan kembang api yang letusannya terasa hingar bingar di dalam dada. Mungkin kamu juga sama, memiliki kembang api yang baru saja meletus di dalam dada. Karena kamu tampak diam dan salah tingkah.
Setelah mengucapkan selamat malam, kamu bahkan tetap tidak beranjak, menungguku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Memastikan aku aman dan nyaman di dalam. Hal itu kemudian menjadi kebiasaanmu saat mengantarku pulang di kencan kita yang selanjutnya.
Saat itu aku menyadari, bahwa kamu memang rumahku. Kamu yang bisa membuatku merasa aman, nyaman —dan hatimu adalah tempatku berbagi kecupan sekaligus bernaung, tujuanku pulang.
Walau tentu kita pernah sama-sama muda dan bodoh. Bertengkar, mendendam, saling menyalahkan dan mempertanyakan konsep jodoh.
Kita hanyalah manusia biasa. Rasa penat pun kadang datang bersua di dalam hati yang tidak dapat diterka. Ya, kebersamaan kita setiap waktu menimbulkan bumerang bagi jalinan cinta kita. Penat terkadang hadir, menunjukkan tajinya dan membuat lubang di jalinan cinta yang sudah terjalin hampir sempurna ini.
Sekali dua kali kita pernah tidak bersua bahkan kita pernah berpisah karena dipicu oleh masalah yang terkadang kurang jelas asal muasalnya. Kita pernah mengucap kata saling menjaga jarak beberapa kali. Yang belum kita sadari, kita adalah magnet dengan kubu yang berbeda, membuat daya tarik menariknya amatlah kuat untuk kembali bersama.
Kita saling membutuhkan dan tidak bisa berjeda bahkan berpisah dalam jangka waktu yang lama. Beberapa kali kita berpisah, beberapa kali juga kita menyambung kembali ikatan yang ada, bahkan jalinan itu kian erat.
Ya, kamu adalah rumahku. Beribu alasan selalu ada untuk membuatku pulang dan kembali meringkuk di hatimu yang nyaman.
Tiap hari kuharap Tuhan mendengar doaku: semoga aku diizinkan menghabiskan ujung hidup di hatimu. Maukah kamu percaya itu?
Ya, doa yang kurapalkan tiap malam rasa-rasanya tidak pernah berbeda. Aku selalu berdoa semoga hubungan kita tetap terjalin hingga tua nanti. Walaupun diselingi dengan rasa penat yang kadang hadir, namun tidak bisa kupingkiri, kamu adalah rumahku. Tempatku bernaung dan tempat berbagi segala beban dan rasa.
Ya, semoga aku akan menua di rumah yang sama, di hatimu.
Dan semoga kamu percaya apa yang aku kata.





—Diadaptasi dari artikel Pinka Wima di Hipwee pada 02 Maret 2015

Comments