April 12, 2016

Aku Ingin Terbangun Di Sampingmu

Aku ingin terbangun di sampingmu, dengan wajah polos tanpa riasan, memandang wajahmu setiap pertama kali membuka mata.
Aku ingin terbangun di sampingmu, merasakan hangat peluk itu di setiap pagi, seraya bersyukur kita masih dapat menikmatinya sekali lagi.
Aku ingin terbangun di sampingmu, menikmati suara demi suara sapaan lembut yang mengalir dari bibirmu.
Aku ingin terbangun di sampingmu, sembari mempererat rengkuh tanpa takut berselimut dosa karena kita telah menghalalkannya sebelum itu.
Aku ingin terbangun di sampingmu, bermalas-malasan menghabiskan akhir pekan, juga berbagi ranjang.
Rasanya tak ingin beranjak.
Mengingat kembali bagaimana lelahnya hari yang pernah kita lewati pada tempat berbeda.
Mengingat bagaimana usaha kita saling membentengi hati selama ini hingga mampu merayakan buah dari kesabaran bersama.
Berjuang memantaskan diri sampai tiba akhirnya kita bisa bermuara pada titik yang sama. 
Aku mungkin bisa saja terus hidup mandiri, melakukan apapun yang ku mau sendirian.
Tapi, bukankah kodrat seorang wanita tetap saja menjadi mahluk yang lemah?
Ia membutuhkan perhatian, perlindungan dan kasih sayang.
Ada kalanya ia akan menampilkan titik terlemahnya di depan sang pria.
Bukan, bukan berarti ia tak mampu.
Hanya saja seorang wanita akan merasa jauh lebih bahagia ketika ia mendapat perlindungan dari prianya.
Tak perlu lagi deretan pesan-pesan romantis di penghujung malam, jika toh usap lembut jemarimu pada punggungku saja ternyata mampu meredakan segala lelah.
Aku ingin terbangun di sampingmu, ketika kita bisa merayakan peluh bersama tanpa takut panasnya api neraka.
Aku ingin terbangun di sampingmu, secepatnya, hingga untuk selamanya menjalani hari tua kita bersama.

No comments: