March 28, 2016

Dariku, Yang Tidak Pernah Lelah Berjuang Memantaskan Diri Untukmu

Aku pernah mencoba dengan dia yang salah. Kamu pernah gagal menjelajahi labirin hatinya sampai kehilangan arah. Tapi bukankah setiap pagi selalu menawarkan kesempatan baru? Bukankah setiap orang berhak atas perjalanan yang lebih menjanjikan untuk dijalani kemudian? Demi kamu, aku rela menunggu. Demi kamu aku bersabar dan berjibaku untuk memantaskan diri.
Hai kamu, yang juga sedang berjuang menahan diri.
Apa kabar dirimu? Jika bisa, ingin rasanya kutawarkan tempat duduk di sisiku khusus untukmu. Ingin kupandang wajahmu lekat-lekat lalu bertanya,
“Beratkah hari-harimu belakangan ini? Cukup menyenangkankah pekerjaan yang sedang kamu jalani sekarang? Atau kamu masih berkutat dengan lembaran skripsi yang membuatmu terjaga sampai dini hari?”
Harapanku, semoga kamu dan kehidupanmu saat ini berjalan mulus tanpa gangguan yang berarti. Doaku tak putus-putus untukmu, kukirim dari sini.
Kita adalah dua orang manusia yang boleh jadi dikatakan datang dari sisi kehidupan yang berbeda. Aku, si wanita yang begitu mencintai dunia sastra namun tidak ingin menenggelamkan diri sepenuhnya di dalamnya. Dan kamu, si pria cuek alias tak acuh dengan ciri khas bicara apa adanya, yang saban hari terbiasa mengisi waktu sebagai juru masak. Sesuatu yang unik, bukan?
Kita dipertemukan lewat sebuah ketidaksengajaan menurut pandangan manusia, namun menjadi sebuah takdir menurut pandangan agama. Aku dan kamu adalah dua insan yang sebelumnya sama sekali tidak saling mengenal. Lalu semesta berjingkat mengatur pertemuan kita di masa yang paling sempurna berdasarkan kehendak-Nya. Aku, seorang wanita keras kepala yang memiliki banyak imajinasi liar dalam setiap cerita yang kutuliskan. Kamu, (lagi-lagi) seorang pria tak acuh yang begitu dingin hingga mampu menarik perhatianku dengan radarmu. Kita bagai dua kutub magnet yang berlawanan namun memiliki gaya tarik menarik yang sangat kuat. Entahlah, entah kamu pun merasa begitu atau mungkin hanya perasaanku yang terlalu berlebihan menafsirkannya. Kamu lalu datang, memasuki duniaku dengan perlahan tanpa mampu kucegah. Meski kamu sendiri pun tidak pernah menyadari akan pertemuan kita yang begitu tiba-tiba.
Bagiku, jatuh cinta itu perkara sederhana. Kita hanya harus duduk berdua, beradu mata dan bicara tentang apa saja. Aku mengagumi hidungmu yang tidak begitu mancung, rambut ikal yang katamu dipangkas dengan style Mohawk, sorot matamu yang sebenarnya tidak memiliki sesuatu yang istimewa tapi mampu menenggalamkanku dalam teduhnya yang penuh misteri, hingga gaya bicaramu yang apa adanya dan membuat pertemanan kita selalu berkesan. Namun, berdampingan denganmu ternyata membuatku belajar banyak hal baru, salah satunya perihal cinta yang kupunya untukmu. Darimu aku tahu, bahwa jatuh cinta dan benar-benar mencintai adalah dua hal yang jauh berbeda. Bersamamu, aku mengerti bahwa cinta hanya akan sia-sia jika kita tidak punya niat dan usaha untuk menghidupinya.
Orang yang memang ingin tinggal dalam hidup kita, akan selalu mencari cara untuk mengamankan tempat mereka.
Jatuh cinta itu biasa. Dengan mudahnya bayangmu mampu menghantui sudut pikirku hanya lewat beberapa kali sindiran tajammu yang hanya sekejap mata. Ya, aku memang paling suka mencerapi kenangan. Mengingat betapa dulu kita tidak sedikit pun berusaha jual mahal untuk saling bertukar alamat media sosial lalu mulai melakukan percakapan tentang ini dan itu. Semua terjadi begitu cepat, mengalir apa adanya tanpa harus dibuat-buat. Kita tidak sedikit pun merasa kesulitan untuk beradaptasi. Sekali pun awalnya kita adalah dua orang yang tidak saling kenal, kita bisa “nyambung” dalam berbagai obrolan dan lelucon.
Aku dan kamu pun mulai tenggelam dalam pertemanan yang kuanggap semu, karena sejatinya kita hanya sering berbicara lewat media sosial. Layaknya dua orang manusia yang memang baru saling mengenal, segala macam hal mampu menjadi topik utama obrolan kita. Tanpa pernah menyadari, hal itu semakin menggenapkan perasaan yang sedikit demi sedikit semakin memenuhi pikiranku.
Cinta yang meluap-luap kadang juga membuat hal-hal semacam itu tidak terkendali. Dalam segala hal, kita akan selalu mengedepankan soal perasaan dan emosi. Saat seharian kamu tidak memberi kabar, rasa kesal dan cemas yang bercampur membuat pekerjaan dan tugas-tugasku berantakan. Alih-alih fokus, aku hanya akan sibuk merapal pertanyaan; “Dia sedang apa ya? Lagi dimana dan sama siapa? Kenapa nggak kasih kabar? Jangan-jangan sakit… atau malah sibuk main sama teman-temannya? Apa mungkin dia lupa sama aku?”
Perasaan bisa dengan hebat mengendalikan diriku. Aku merasa insecure dan takut kehilanganmu. Di titik inilah aku merasa bahwa cinta yang begitu besar dan tidak terkendali adalah bencana. Bahkan uniknya, sebentar saja kamu hilang dari “radarku”, aku merasa jadi orang paling malang sedunia. Namun perlahan tapi pasti, perasaan itu mulai berevolusi. Rasa terpendam yang beberapa waktu lalu seringkali meluap-luap tidak terkendali kini lebih stabil. Dia tidak berkurang, tapi berubah menjadi lebih menenangkan.
Padamu, yang kuyakini telah ditakdirkan namun tetap perlu diperjuangkan...
Kita adalah dua manusia yang sebenarnya berjuang di arena pertarungan serupa, hanya saja dari dua tempat berbeda. Kamu berjuang menjaga mata, sementara aku di sini mencoba sekuat tenaga membentengi hati. Kamu tengah berusaha memperbaiki diri demi menjadi imam terbaik bagi keluargamu kelak, sementara aku juga sedang berusaha memperbaiki diri guna menjadi seorang muslimah yang lebih baik dari kemarin —agar kiranya pantas bersanding denganmu jika takdir memang menyatukan kita nantinya.
Beragam godaan itu tetap ada. Mulai dari ajakan menonton di bioskop, makan bersama sampai tawaran diantar pulang ketika waktu sudah kian malam. Sebagai manusia biasa, kadang aku tergoda. Iri rasanya melihat rekan-rekan sejawat tampak punya pasangan yang selalu bisa diandalkan. Sedang aku, aku harus sabar menghadapi dunia seorang diri sembari menunggu waktu kita datang.
Maka, Sayang, jangan pula kamu keluhkan keterbatasanmu. Mungkin benar, sesekali kamu memang merasa tidak nyaman saat pertanyaan perihal kapan berkeluarga singgah di telinga, tapi jangan pernah menyalahkan orang-orang di sekitarmu dan mengutuk keadaan. Mereka hanya belum paham apa yang sesungguhnya sedang kamu perjuangkan. Bukan penjelasan panjang lebar yang bisa menyelamatkan. Mereka hanya butuh melihat kegigihan dan keyakinan kita dalam berusaha memperbaiki diri sesuai garis syariat agama. Bahwa semua perasaan yang belum kita luapkan ini akan menemui muaranya. Menjumpai akhir yang kita tunggu sebagai pesta perayaan.
Jika menahan diri untuk tidak membuka hati pada sembarang orang adalah puasa, berjumpa denganmu akan menjadi momen berbuka yang telah kutunggu sekian lama.
Saat waktu kita telah tiba, kita akan saling menatap dengan penuh isyarat. Mata kita bertaut merayakan kemenangan. Kita dua orang yang sama-sama keras kepala berjuang demi akhir yang sebenarnya belum bisa diperkirakan. Kita… kuharapkan nanti mampu menjadi sepasang cinta yang dipertemukan tanpa proses pendekatan. Kamu dan aku, kuhrapkan bisa menjadi sepasang manusia yang lekat tanpa pernah harus berpelukan.
Tak perlu khawatir, Sayang. Seburuk apapun dirimu, tangan ini akan tetap terbuka. Dulu, aku pun pernah menjadi versi brengsek dari seorang manusia.
Datanglah padaku dengan apa adanya. Kamu tidak perlu harus sangat kaya raya, rupawan atau punya kesabaran tanpa batas demi menjadikanku pasangan. Sungguh, versi ideal semacam itu tidak begitu penting di mataku. Aku pun tidak akan repot bertanya berapa banyak hati yang sempat kamu lewati sebelum diriku. Buat apa? Toh tanpa mereka, kamu yang sebaik hari ini juga tidak akan ada. Walau kadang cemburu, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk berdamai dengan masa lalumu.
Bagiku, cukuplah kamu yang muncul di depan pinttu sembari berkata, “Aku sudah selesai dengan diriku. Sekarang aku ingin menjalani hidup bersamamu.”
Kata sederhana semacam ini sudah bisa melelehkan hatiku.
Aku juga bukan manusia sempurna. Dulu, aku sempat menjelma menjadi versi brengksek seorang manusia. Aku pernah menyakiti orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat. Aku pernah melakukan kebodohan dengan menyerahkan hati pada orang yang salah. Dalam beberapa kesempatan, air mataku sempat menetes karena menangisi kehilangan yang serasa seperti kiamat.
Kamu bisa menemukan tweets dan status Facebook-ku yang penuh kata-kata puitis nan galau. Jika menggali postingan lama blog-ku, akan kamu temukan aku yang sempat mencintai orang lain sedalam itu. Tidak perlu cemburu, aku yang kini sudah selesai dengan romantisme picisan semacam itu.
Aku hanya berharap kamu melihatku sebagai orang yang pernah salah arah tapi rela berjuang kembali ke jalan yang “benar” biarpun sampai harus berdarah-darah.
Bersabarlah. Hingga tiba hari dimana kita bisa berbagi rengkuh dan merayakan peluh tanpa perlu khawatir dosa.
Aku tahu pasti tidak enak rasanya. Mengabaikan semua goda untuk punya pendamping sementara yang bisa diajak bercerita. Tidak mengindahkan rasa butuh diusap sayang oleh seseorang setiap lelah datang. Mungkin gagal dan sakit memang membentuk kita menjadi penyintas yang rela mengakrabi sepi. Atau bisa jadi, rasa lelah karena terus-menerus gagal menjadikan kita malas membuka hati demi dia yang tidak pasti.
Setiap rasa sepi dan sendiri itu menyeruak, selalu ingatlah. Kamu tidak sendiri. Kita sejatinya sedang bergumul di satu garis emosi.
Saat kamu peluk gulingmu erat-erat, aku pun sedang sibuk berharap bisa tidur nyaman di atas bahumu cepat-cepat.
Jarimu mungkin berteriak butuh genggaman. Pinggangku pun menjerit ingin direngkuh saat menyeberang jalan. Aku tentu berharap kita dapat segera saling menggenapkan. Tapi bukankah hal-hal baik selalu membutuhkan waktu tunggu? Antre dokter saja kita rela menanti berjam-jam. Memalukan bukan jika cinta justru kuharap datang tanpa proses panjang?
Yang tidak pernah luput dari rapalan doa malamku adalah agar segera tiba masa dimana kita bisa saling merengkuh, meluapkan kasih lewat peluh. Akan datang malam-malam hangat ketika kita bisa berbagi selimut berdua tanpa perlu lagi khawatir pada ancaman api neraka. Berdua, kita menggenapkan hidup masing-masing. Berdua, kita rayakan surga dunia tanpa perlu lagi takut dosa.
Sampai hari itu datang, jangan lelah untuk terus berjuang. Meski tidak bersisian, ketahuilah kamu tidak pernah sendirian.
Sebelum tiba waktunya kita ditakdirkan untuk saling menggenapkan, kamu dan aku hanya harus menambah tabungan ketabahan.
Cinta akan selalu memberi dua pilihan; bertahan demi menghidupi rasa itu atau membiarkannya sekejap datang dan berlalu.
Jatuh cinta dan benar-benar mencintai adalah dua hal yang berbeda. Cinta yang meluap-luap tidak terkendali dan cinta yang stabil tapi lebih menenangkan pun tidak sama. Yang pasti, cinta akan selalu punya dua pilihan; apakah mau sama-sama berusaha menghidupi rasa itu… atau justru membiarkannya sekejap datang dan berlalu? Cinta adalah anugerah yang pantas kita syukuri datangnya, entah itu sekadar jatuh cinta atau benar-benar mencintai. Saat aku sudah menemukanmu yang menurutku paling sempurna, satu-satunya yang akan aku lakukan adalah berjuang demi “kita”.
Hidup terlalu singkat untuk terus-menerus mengeluhkan kesepian. Hatimu terlalu berharga jika diisi dengan kesibukan mengurusi cinta yang hanya sementara.
Setiap kamu merasa sendiri dan tidak ada yang mendampingi, ingatlah padaku… wanita yang tidak pernah luput menyebut namamu dalam setiap sujud menghadap Sang Khalik, wanita yang selalu mendoakan agar bahagia terus menyertai setiap langkahmu, wanita keras kepala yang kata orang memiliki imjinasi liar dan gila —karena rela mati-matian menjaga diri agar pantas menyandingimu suatu saat nanti.
Tidakkah fakta ini harusnya membuatmu merasa memiliki rekan? Aku mendampingimu dalam diam. Barang sedetik pun, kamu tidak pernah sendirian.
Terima kasih kuucapkan untuk kamu yang sudah membuatku mengerti arti jatuh cinta dan benar-benar mencintai…



Salam kecup jauh dariku,
Seseorang yang tidak pernah lelah
Berjuang memantaskan diri untukmu

No comments: