Seiring Jarak Yang Membentang, Aku Yakin dan Percaya Kita Mampu Bertahan

Halo, Sayang, masihkah kamu memiliki keyakinan untuk jalinan cerita kita?
Walaupun ada jarak membentang, percayalah kadar cintaku tidak pernah sedikit pun berkurang.
Kenangan tentang pertemuan pertama kita lewat media sosial Whatsapp dan saat kita mulai menautkan harap untuk bersama tidak pernah meninggalkan lingkar kepalaku.
Jangan cemas, meskipun ragaku jauh darimu, namamu selalu tersemat di lipatan hatiku.
Aku ingat saat keberangkatanmu semakin mengembangkan jarak kita, jalinan cerita jarak jauh kita terasa tidak mudah pada awalnya.
Apalagi kini, kamu menetap di tempat yang mungkin agak sedikit menghambat komunikasi kita.
Aku masih ingat senja itu, kala aku menyampaikan berita bahagia kepadamu.
Akhirnya, aku berhasil mendapatkan beasiswa di tahun pertama berada dalam dunia perkuliahan.
Aku merasa Tuhan begitu menyayangiku.
Dia kian mempermudah  jenjang karirku apalagi setelah aku mendapatkan promosi jabatan dalam pekerjaan yang sudah kugeluti selama hampir setahun lamanya.
Benar-benar terjadi seperti apa yang aku cita-citakan.
Meskipun masih banyak hal yang menjadi bagian dari cita-cita yang ingin ku wujudkan di usia muda belum sepenuhnya tercapai.
Aku haus petualangan dan tidak sabar meniti pengalaman baru, demi memenuhi gelegak darah mudaku.
Memang hatiku gembira, namun di satu sisi rasa gamang juga menguap memenuhi udara di dalam dada.
Napas yang kuhela terasa begitu berat.
Hatiku sedikit berlubang menyadari kita akan semakin jarang bisa bersua meski hanya lewat sambungan telepon sekalipun.
Ya, mulai sekarang akan semakin panjang jarak yang membentang di antara ragaku dan ragamu. 
Kita hanya bisa bertukar suara lewat gagang telepon dan menumpahkan rasa rindu melalui rangkaian kata yang dikirim lewat pesan singkat... sesekali dalam beberapa hari.
Suara hangat darimu tidak akan mudah kudapat ketika aku membutuhkan penyemangat di sisa hari.
Tawa renyahmu yang menenangkan akan semakin jarang memenuhi indera pendengaranku.
Aku hanya bisa puas memeluk guling sembari memandang lekat-lekat wajahmu di secarik kertas foto yang sudah terlipat di beberapa bagian karena seringnya kucumbui.
Ah, ingin rasanya aku menyerah dan mengubur mimpiku dalam-dalam saat lelah menyergap sementara kamu tak sedang ada untukku.
Namun, justru kamulah yang berdiri di garda terdepan untuk menyemangatiku agar aku tidak gampang menyerah pada keadaan, bahwa kita harus menang melawan jarak yang terbentang.
Ya, jarak bukanlah halangan.
Cintaku dan cintamu tetap akan tersulam rapi, tanpa ada kesukaran yang berarti.
Hubungan kita naik-turun karena jarak membentang.
Aku dan kamu pun sering menyerah pada ego dan kesalahpahaman.
Hubungan jarak jauh yang kita pintal bersama memang tidak selamanya mulus dan baik-baik saja.
Aku dan kamu sering dilahap ego dan kesalahpahaman yang tidak berkesudahan.
Kita bagai kanak-kanak yang sedang berebut mainan.
Ya, rasa rindu yang sudah memenuhi ambang batasnya sering membuat kita enggan bertukar sapa karena masalah sederhana.
Ah, betapa lucunya jika direka ulang. 
Aku begitu gusar ketika menyadari bahwa kamu jatuh tertidur karena mendengar ceritaku yang belum tuntas kututurkan lewat pesan singkat.
Begitu pula kamu, begitu risau ketika aku tidak dapat dihubungi hanya karena aku sedang asyik bercengkerama dengan teman kerja dan lupa mengangkat ponsel.
Sejujurnya, masalah yang mengisi hari-hari kita saat berjauhan merupakan bumbu yang membuat cerita kita kian terasa sempurna.
Ya, ego yang dibalut dengan kesalahpahaman memang bertubi-tubi selalu singgah.
Namun ketika seharian kita tidak bertukar sapa dan berbagi kecup melalui gagang telepon, hati ini terasa sangat linu.
Aku dan kamu pun saling bergiliran berucap maaf dan berjanji akan lebih dewasa lagi dalam menghadapi esok hari.
Ah, Sayang, sadarkah kamu, betapa banyak pelajaran yang bisa kita petik dari hubungan ini yang nantinya dapat kita tuturkan kepada anak-cucu?
Sesungguhnya ujian ini mendewasakan.
Aku dan kamu sama-sama belajar untuk tidak menyerah pada tantangan.
Sayang, kita memang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada jarak.
Karena dialah yang mendewasakan.
Kini, kita tidak lagi kelimpungan jika dihadapkan dengan berbagai permasalahan.
Ya, hubungan jarak jauh ini telah membuat jalinan kita kian erat.
Seiring berjalannya waktu, kita semakin bisa berpikir dewasa.
Permasalahan sepele tidak lagi membuat hubungan kita merumit.
Kita semakin berbesar hati dan tidak termakan ego yang mengudara.
Yang terpenting, jarak bukan lagi momok yang seharusnya membuat kita gentar, justru bersamanyalah takaran cinta kita tetap bertahan.
Jaraklah yang membuat kita bersabar menabung rindu. 
Saat kita bertemu pada saat yang tepat nanti, kita pun saling bertukar senyum jumawa karena berhasil bertahan hingga sekian lama.
Ya, tanpa kita sadari kita berhasil bahu-membahu mengalahkan jeda yang selama ini memisahkan ragamu dan ragaku.
Siksaan ini hanya akan ada untuk sementara.
Pada saatnya nanti, aku yakin kita akan bersama.
Sayang, bersediakah kamu berjuang bersama denganku?
Menuntaskan perjuangan kita hingga sampai ke jenjang yang lebih serius dalam hubungan?
Aku yakin, cinta kita tidak akan semudah ini digoyahkan oleh jarak yang membentang.
Aku yakin kita pasti bisa bertahan.





(diadaptasi dari artikel Hipwee.com)

Comments