January 23, 2016

Boleh Pinjam Bahunya Untuk Bersandar Sejenak?

Terlalu rendah untuk dikatakan jatuh ke dasar. Jauh lebih parah daripada dasar sebuah jurang. Boleh mendaki bersama? Terlalu lelah dan lemah untuk dikatakan kehabisan tenaga. Rasanya lebih parah dari itu. Boleh pinjam bahunya untuk bersandar sejenak? Hampir melakukan kesalahan fatal. Masih hampir tapi efeknya sudah begitu mempengaruhi. Seandainya saja tidur dapat mengubah segalanya. Misalnya mengubah sesuatu yang buruk menjadi baik setelah tidur lalu bangun nantinya. Seandainya mengubah keadaan rumit bisa semudah berkedip.

January 2, 2016

Untukmu, Yang Dulu Pernah Berjuang Bersama

Hai, kamu yang sekarang sudah tidak dapat lagi saya ketahui dimana keberadaannya. 
Semoga jiwa ragamu selalu dalam kebaikan, tak lupa, semoga Tuhan juga selalu menjaga dimana pun kamu saat ini.
Sudah lama ya kita tidak saling bertukar kabar?
Ah, saya lupa.
Jangankan bertukar kabar, bertegur sapa pun sudah bertahun lamanya tidak lagi kita lakukan.
Jika mengingat kita yang dulu selalu memberi informasi tentang kegiatan masing-masing, rasanya lucu, sedikit menggelikan dan mampu mengundang tawa renyah saya.
Kita yang dulu, pernah menjadi sepasang kekasih yang masih begitu lugu bukan?
Bertingkah seolah mengerti sekelumit hal-hal ala orang dewasa berlandaskan cinta.
Memangnya waktu itu, kita sudah cukup paham?
Dulu, takdir pernah membawa kita bertemu dalam satu waktu dan mengizinkan kita menghabiskan beberapa cerita ditemani satu sama lain.
Tapi karena suatu hal, kita sama-sama merelakan kepergian masing-masing dan mencoba merangkai kisah baru yang kini tengah kita nikmati dalam kehidupan berbeda.
Namun terkadang, rindu diam-diam hadir dan membuka kenangan lama. Dan kini, saya sempatkan menghadirkan beberapa hal yang sangat ingin saya sampaikan. 
Terima kasih, kamu memberikan banyak hal yang begitu luar biasa.
Semenjak momen pertama bertemu hingga bagaimana kita berpisah masih teringat dengan jelas.
Bagaimana masa kita pendekatan hingga hubungan ini diakhiri karena sebuah kesalahan, itu semua masih rapi tersimpan.
Saya akan membuang ego sejenak dan menyampaikan rasa terima kasih yang begitu mendalam.
Entah hubungan ini berakhir karena salah saya ataukah salahmu, saya sudah tidak begitu peduli.
Karena dalam banyak hal, kamu memberikan sebuah kisah yang luar biasa.
Kamu pernah jadi bagian terindah dalam hidup saya, menjadi peran utama dalam kisah cinta saya.
Kamu memberikan banyak pelajaran, pelajaran bagaimana saya harus tetap berjuang untuk bertahan, mengesampingkan ego untuk tetap saling memiliki.
Belajar jujur dari sebuah kebohongan, belajar bersyukur dari sebuah kekurangan dan belajar merelakan dari sebuah kehilangan.
That’s amazing.
Dan semua itu sangat berguna dalam kehidupan saya sekarang.
Saya tahu, semua tidak akan pernah sama.
Dari sekian banyak jajaran para mantan, kamu adalah satu-satunya yang terindah.
Tentang orang lain, saya begitu mudah menghiraukan, namun tentangmu, saya selalu ingin tahu.
Hingga kini pun masih sama, terkadang saya sesekali ingin tahu bagaimana kabarmu.
Meski tidak lagi ada perasaan cemburu yang memburu dan rindu lelah yang membuncah, meski tidak lagi ada rasa yang ingin saya buang, sebelum dan sesudah bertemu denganmu semua tidak akan pernah sama lagi.
Bolehkah saya meminta kita tetap menjalin hubungan sebaik sebelumnya?
Dalam banyak hal, setiap pasangan yang berpisah akan menyimpan banyak dendam.
Berpisah baik-baik lebih banyak terjadi dalam adegan sinetron dan wawancara artis infotainment.
Nyatanya, ada rentang jarak yang begitu jauh di antara kita.
Terkadang hadir perasaan bahwa seharusnya kita masih berhubungan baik dan tetap berteman.
Karena siapa tahu, hubungan yang baik itu dapat saling membantu saat kita membutuhkan bantuan satu sama lain di masa mendatang.
Sungguh, tidak ingin ada dendam di antara kita.
Dalam hubungan masa lalu, ada begitu banyak kesalahan.
Kesalahan yang terbingkai dalam cemburu, sakit hati, kesal, gemas dan adik kakaknya tertimbun menjadi rasa yang tidak mengenakan.
Tapi, dengan segenap kerendahan hati, sungguh, saya tidak ingin ada dendam di antara kita.
Mari kita relakan segala bentuk sakit dan kekecewaan.
Karena biar bagaimana pun, segala kesalahan masa lalu itu sekarang membuat kita semakin bijaksana.
Jangan lupa undang saya saat momen pernikahanmu ya.
Meski belum tentu saya hadir, setidaknya saya tahu kapan momen istimewamu itu.
Paling tidak saya bisa turut bahagia dan tertawa bersama saat menghadirinya.
Dari hati yang terdalam, ingin sekali rasanya melihat bagaimana wajahmu saat terbalut busana pernikahan.
Meski bukan bersanding dengan saya, setidaknya saya sudah melihat wajah itu.
Sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa penasaran saya.
Dan semoga kamu senantiasa dimudahkan dalam perjalananmu.
Semoga meraih apa yang kamu impikan.
Selamat jalan.
Terimakasih pernah menjadi peran utama di antara peran figuran yang pernah ada dalam setiap adegan kehidupan saya.