December 3, 2015

Ada Cerita Dalam Setiap Cokelat


Ini kisah tentang cokelat, berbagai macam cokelat yang pernah saya rasakan. 
Hidup itu seperti cokelat dalam sebuah kotak. Kita tidak tahu apakah itu manis atau pahit sebelum mencicipinya.
Lalu, kenapa banyak orang menggilainya? —Bahkan termasuk saya sendiri.
Ingin rasanya menjadi seperti cokelat, disukai dan dicintai banyak orang, dari semua umur dan strata. Ingin rasanya menjadi cokelat, yang mampu merobohkan tembok pembatas individu, yang mampu menyatukan perbedaan banyak orang dalam satu persamaan rasa. 
Anggap saja kita sedang menggenggam sekotak cokelat di tangan. Ketika sekotak cokelat disuguhkan tanpa merek, hanya berbungkus kertas aluminium, kita tidak bisa menebak bagaimana rasanya sebelum mencicipnya. Apakah itu dark chocolate, white chocolate, chocolate less sugar, fruit chocolate, chocolate nut dan lain-lain. Karena kemasan dalamnya selalu sama. That’s life. Layaknya kehidupan, cokelat ibarat takdir. Tapi belum tentu semua takdir seseorang “pahit”. Kita bisa menemui variant cokelat yang sangat banyak pilihan saat ini. Tergantung bagaimana kita mengolah atau memilihnya. Mengolah sesuai dengan keinginan kita. Mau kita apakan hidup ini agar lebih menarik dan becita rasa? Ada orang yang lebih memilih cokelat asli yang awalnya cenderung pahit tanpa gula. Ada pula manusia yang lebih suka kejutan dengan memilih cokelat (hidupnya) dengan penuh sensasi. Namun tak jarang orang yang memilih cokelat yang dilengkapi dengan isian seru seperti kacang-kacangan atau buah-buahan. Kita bebas memilih, merencanakan dan bagaimana menikmati cokelat atau kehidupan tersebut sesuai selera. Malah bisa dikombinasikan dengan ingin disajikan panas atau dingin (khusus untuk minuman). Dalam makanan olahan pun kita bisa menakar kandungannya sesukanya. That’s life.

Tapi ingat, dalam setiap kemasan cokelat selalu disertai dengan petunjuk berupa ingredients. Petunjuk yang persis diberikan lewat firasat, sensitivitas (kepekaan), dan doa yang kita panjatkan setiap hari. Ingredients itulah yang akan memberi tahu kita, cokelat jenis dan seperti apa yang akan kita konsumsi. Barangkali itulah kenapa penjual cokelat selalu menyediakan tester ketika menjajakan panganannya, anggap saja itu bonus ketika kita kurang peka menebak kemasan tanpa tulisan ingredients/merek tadi. 
Ketika sampai langkah ini kita masih belum mampu menebak cokelat semacam apa yang kita konsumsi, bayangkan saja... mungkin kita telah mati rasa. Tidak punya gairah (passion) dalam mencicipi kehidupan.
Teruntuk penggila cokelat, jika ingin sedikit berteka-teki bagaimana hidup yang sedang kita jalani sekarang, kita bisa terjemahkan ketika "Bagaimana kita menikmati setiap bar cokelat atau setiap minuman cokelat, apapun bentuknya."
Dibalik berbagai macam rasa yang terkandung di dalamnya, ternyata cokelat memiliki filosofi besar dalam arti kehidupan. Hidup ini layaknya sebuah cokelat, yang memiliki perpaduan manis dan pahit menjadi satu. Jika diolah dengan baik maka rasanya akan terasa manis, namun sebaliknya bila tidak diolah dengan baik maka rasanya akan berubah menjadi pahit. Sama halnya dengan hidup yang kadang terasa begitu pelik dengan berbagai masalah rumit, jika hidup ini diisi dengan sesuatu yang baik, maka hidup akan terasa sangat bermakna. Namun sebaliknya, jika selalu diisi dengan maksiat atau kejahatan maka hidup akan terasa hambar dan tidak ada artinya. Untuk meracik sebuah cokelat menjadi makanan datau minuman yang nikmat, perlu melalui proses yang sangat panjang, mulai dari memetik buah cocoa hingga pada proses pencairan. Seperti hidup yang harus dilalui dengan penuh perjuangan dalam waktu yang tak sedikit.

No comments: