November 26, 2015

Kamu?

Hari ini tanggal 26, kira-kira ada momen istimewa apa ya? Ah, saya memutar kedua bola mata seolah berpikir. Hari ini usia saya tepat 19 tahun 3 bulan. Lalu, ada apa lagi ya? Saya kembali memutar kedua bola mata. Sepertinya tidak ada.
Iseng-iseng saya lalu membuka tab media sosial Twitter melalui ponsel yang kini sedang terhubung dengan telinga saya melalui earphone, lagu Hivi! yang berjudul Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta sedang terdengar di sana.
Perlahan saya scrolldown timeline dan tersenyum membaca beberapa update dari teman.
Lalu... jemari saya berhenti pada sebuah nama yang muncul di sana.
Tidak, kali ini udara tidak menghilang dari sekeliling saya. Jantung saya juga tidak seperti ingin copot dan jatuh hingga ke perut. Hanya debar, itu saja.
Debar bahagia sepertinya melihat nama itu muncul di depan mata saya. Seperti semesta sedang berkonspirasi memberikan saya pagi yang indah dan penuh berkah. Baiklah, maaf jika ini berlebihan. Tapi akhir-akhir ini saya memang menganggap kamu sebagai berkah dari Tuhan.
Yah, setidaknya jika saya tidak bisa menjadi bagian dari hidupmu, mungkin saya bisa menjadi pelajaran bagi kamu.
Seketika itu juga senyum saya tersungging dari kedua sudut bibir.
Ingatan saya lalu menerawang beberapa bulan terakhir.
Saya masih mengingat jelas bagaimana pertama kali kita bertemu.
Malam itu, masih sama-sama manusia asing di Fakultas Ekonomi sebuah perguruan swasta di kota tempat tinggal kini.
Malam itu, masih sama-sama pertama kali berstatus mahasiswa Akuntansi.
Jujur saja, beberapa hari pertama saya tidak menaruh perhatian penting padamu, meskipun kamu yang bernotabene sebagai salah satu bagian penting dari kelas saya.
Tapi semua mendadak berubah sejak percakapan itu, obrolan pertama kita lewat media sosial.
Dan, kamu mengubah dunia saya...

November 7, 2015

Meski Hatinya Telah Patah

Untuk seseorang yang pernah mencintai dengan tulus, pernah menyayangi dengan sepenuh hatinya, pernah merindukan dan percaya dengan seluruh keyakinan yang ia punya, lalu tiba-tiba dikhianati, ditinggalkan saat jatuh hingga terpaksa mengobati lukanya sendiri, tentu tidak akan mudah untuk kembali mengenal cinta yang baru.
Baik lelaki, maupun perempuan.
Trauma itu ada, hanya saja, mungkin tak pantas untuk diucapkan lewat lisan.
Siapapun orangnya, tentu akan sulit untuk kembali percaya bahwa cinta selain kepada Tuhan dan keluarga, mampu benar-benar membahagiakannya. Cinta-cinta itu mungkin datang silih berganti di hadapannya, tapi ia tidak benar-benar bisa membuka hati untuk menerima.
Ia mungkin akan terus mencari, meskipun hatinya telah patah. Ia tak kenal lelah menunggu sampai datang cinta yang lain, yang mampu mengerti lukanya. Ia akan terus mencari sampai benar-benar menemukan pemilik hati sesungguhnya. Dengan langkah terseok, namun semangat yang tak pernah padam. Ia yakin Tuhan begitu baik. Menyiapkan kehidupan manusia dengan berpasang-pasangan.
Jangan berharap bahwa cinta akan selalu menjaga hatimu agar tetap baik-baik saja, itu salah. Cinta yang sesungguhnya adalah ketika ia telah mematahkan, lalu dengan bersungguh-sungguh kembali ingin menyatukannya kembali. Bekas pasti tertinggal, namun rasa sakit perlahan akan hilang bersama waktu.

November 6, 2015

Heart Like Yours


Breathe deep, breathe clear.
Know that I'm here waiting.
Stay strong, stay gold.
You don't have to fear waiting.
I'll see you soon.

How could a heart like yours ever love a heart like mine?
How could I live before?
How could I have been so blind?
You opened up my eyes.

Sleep sound, sleep tight.
Here in my mind waiting.

Come closer my dear.
You don't have to fear waiting.

Hold fast hope.
All your love is all I've ever known.



―by Willamette Stone

November 4, 2015

Thanks

Thank you had already come when that's either appropriate or not. But please know, at the moment we're waiting for the right time, it will never come. In fact, we must prepare to welcome what's to come. Including hearts get ready for your arrival. Whether it's just for a layover, or indeed to settle here. You change everything, change the way I view the world, you opened my eyes, changed the way I think. It's like you are someone from the past, someone who had been so long I knew then suddenly God sent back in front of me. You are different from others. The way you think. The way you face the world. The way you see things from a different perspective. And I liked all of it. Once again, thanks for coming dear.