Hei, Tahukah Kamu Bahwa Cintaku Memiliki Bentuk Yang Sempurna?

Sebagaimana insan yang saling mencintai dan bersepakat untuk memiliki, aku ingin selalu bisa ada untukmu. Menjaga, melindungi, membagi hati sejauh yang aku mampu.
Perasaan yang paling menyiksa bagi manusia yang mencintai adalah memiliki dua tubuh yang ingin ia jaga, padahal rohnya hanya bisa menghuni salah satunya.
Aku tidak bisa bersamamu setiap waktu —tidak akan pernah berada di sisimu sesering yang aku mau. Namun cintaku utuh, murni tidak tersentuh. Kuharap kamu pun begitu.
Sayang, tahukah kamu, diam-diam aku ingin mengubah diriku menjadi ponselmu? Supaya ada cara untuk selalu berada dalam dekapan saku kemejamu.
Padatnya kesibukan kita berdua membuat kita sering berjeda. Aku sibuk dengan segala jadwal pekerjaan begitu pula kamu yang harus banting tulang demi masa depan berdua. Kita tidak bisa berbagi dekap dan cumbu saban harinya. Bahkan, kita mesti puas ketika rasa rindu harus terbayar lunas hanya melalui layar ponsel saja.
Sering terlintas di anganku, betapa mewah rasanya menjadi ponselmu. Ia selalu berada di dekatmu. Ya, ia selalu bergelung manja di saku kemejamu, dekat dengan degup jantung hatimu. Bahkan, ketika ia lenyap beberapa menit dari pandangan, kamu pasti mulai kelimpungan.
Iya, aku tahu ia merupakan jembatan penghubung kita berdua. Namun tetap saja betapa mujur nasibnya karena tercipta menjadi telepon genggammu, ia yang selalu berjarak dekat dengan bibirmu. Bisa puas menghirup wangi napasmu yang beraroma pasta gigi di pagi hari. Atau bahkan ujung lain dari badannya yang bisa puas-puas menghela sisa parfummu yang masih menempel di belakang daun telinga di sisa hari.
Ah, betapa aku ingin mengubah diriku menjadi ponsel milikmu saat ini juga, supaya bisa menghabiskan seluruh hariku dekat dalam dekapmu.
Juga supaya rasa rindu yang menggelegak di dalam dada ini bisa terbayar lunas dengan bertatap muka tiap saat denganmu, tanpa jeda.
Saat kita bersua dan berbagi rindu, aku tidak akan pernah lupa untuk lekat-lekat memandangimu.
Saat kita bertemu merupakan waktu berharga dan termewah bagiku. Aku bisa memandang lekat parasmu lama-lama. Bahkan, aku jadi memiliki kesempatan untuk bisa menekuni lebatnya alis yang membingkai wajah rupawanmu. Yang ketika keduanya berkerut merupakan penanda bahwa kamu sedang serius. Membuat parasmu tampak menggemaskan sekaligus begitu lucu.
Telingaku ini juga tidak pernah letih mendengar tutur ceritamu. Yang selalu kau sampaikan dengan menggebu dan sesekali disisipi guyonan lucu. Ya, aku tahu gelakku juga merupakan candu bagimu. Kau tak lelahnya membuatku berhenti tertawa. Membuatku kembali bertenaga dan sisa hariku terasa begitu ceria.
Kita sama-sama tahu bahwa aku dan kamu memang diciptakan untuk saling melengkapi. Meski tak bisa selalu bersama, namun waktu singkat kita untuk bersua selalu yang paling aku nanti. Sayang, walaupun hal ini konyol untuk dilontarkan, tetapi aku ingin kamu tahu bahwa terkadang aku menyimpan rasa cemburu kepada motor butut kesayanganmu. Ya, aku sering berandai-andai, betapa istimewanya jadi dia yang selalu menemani perjalananmu saban hari. Ia yang hampir selalu ada untukmu, teman berpetualangmu untuk mengarungi kemacetan kota.
Ah, tapi sudahlah, toh dia juga berjasa merangkai cerita romantis kita berdua. Aku ingat jasanya menembus hujan ketika kencan pertama kita. Walaupun sesekali ia terbatuk namun ia tidak memilih untuk menyerah di tengah jalan.
Semoga raganya selalu waras sehingga bisa selalu ada sebagai teman bepergianmu sekaligus mengantarkanmu ketika akan bersua denganku.
Tahukah kamu, saat kita tidak bisa bertemu, aku menabung cemburu pada segala benda yang ada di dekatmu?
Aku selalu menabung cemburu. Tidak, tidak kepada wanita lain. Aku tahu hatimu sudah kamu titipkan padaku. Aku juga paham hanya ada aku yang mengisi lipatan hatimu. Dalam diam aku cemburu pada benda-benda yang ada di sekelilingmu. Betapa enaknya menjadi mereka yang selalu bersua denganmu saban harinya.
Ah, aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa cemburu pada guling yang selalu kamu peluk dari petang hingga pagi menjelang. Aku bahkan ingin menjadi bantal yang bisa puas menghela aroma rambutmu dalam-dalam. Rasa iri juga kupendam pada selimut yang selalu membungkus erat ragamu dan menemani tidur malammu. Dan, hei, betapa mujurnya cicak yang pada malam hari tidak sengaja melintasi dinding kamarmu, dia bisa menikmati paras lelapmu lama-lama.
Memang rasa cemburuku ini akan terdengar konyol, namun tidak bagiku yang sudah menggilaimu dan jatuh cinta padamu dalam-dalam.
Remah rasa cemburu yang kukumpulkan membuatku semakin meyakini bahwa cintaku untukmu memiliki bentuk yang utuh.
Sayang, rasa cintaku padamu tidak pernah berkurang kadarnya. Lewat rasa cemburu kecil yang kurasakan ini aku jadi semakin meyakini bahwa aku sudah jatuh cinta kepadamu dalam-dalam. Aku tidak pernah alpa mendengungkan namamu di setiap doa yang kurapal saban petang.
Semoga kamu dan aku dipersatukan oleh semesta hingga kita nantinya sama-sama menua.



(Dikutip dari artikel Pinka Wima di Hipwee pada 11 Maret 2015)

Comments