September 16, 2015

Bantu Saya Untuk Membenci

          Ada sesuatu yang tidak mungkin saya sampaikan lewat lisan, karena saya tahu akan begitu sulit mengucapkannya di hadapanmu. Saya lebih memilih mengutarakannya lewat diam, berharap kamu mengerti bahwa ada sesuatu yang salah di antara kita. Saya terus menunggu, sementara kamu terus menggantung. Memangnya kamu pikir saya sama halnya dengan pakaian basah yang lalu akan mengering setelah kamu gantung pada jemuran di bawah terik mentari? Saya ini, sama halnya dengan putri tidur yang terus bermimpi. Berharap akan datang pangeran tampan berkuda putih, mengecup kening lalu membangunkan saya dari tidur panjang itu. Tapi entah kenapa, saya merasa mimpi saya jauh lebih indah daripada kenyataan yang ada di dunia nyata. Dalam mimpi saya, saya bebas memeluk kamu, bebas menggenggam erat jemarimu. Sementara di dunia nyata, yang terlihat hanyalah kamu di sana dan saya di sini. Kita mungkin berpapasan, lalu hanya saling bertatapan dan tersenyum. Saya tidak mengerti arti senyumanmu, saya yakin kamu pun begitu. Memang ada sesuatu yang mustahil untuk saya sampaikan dengan ucapan. Akan sangat terasa begitu sulit. Sejauh ini, rasa itu masih tetap sama. Kamu masih tetap menempati puncak tertinggi dalam hati saya. Namamu masih merupakan satu-satunya nama setelah Ayah dan Bunda yang saya sebut dalam sujud malam. Kamu bahkan tidak pernah luput dari doa saya. Hanya saja, semua terasa semakin berat untuk saya jalani. Saya terus menunggu kamu, sementara kamu terus menggantung saya. Maafkan saya yang mulai bertingkah konyol. Saya tahu sikap ini tidak masuk akal ketika saya mulai menuntut kejelasan tentang hubungan kita sebenarnya. Saya ingin mencoba membuat kamu untuk membenci saya. Maafkan saya yang mulai sering membuatmu tersinggung. Hal itu memang sengaja saya lakukan hanya untuk membuatmu membenci saya. Saya tahu hal ini kedengaran bodoh. Ini memang terasa begitu menyakitkan tapi akan lebih menyakitkan jika saya terus menunggu kamu. Kamu tahu? Semakin hari rasa itu semakin bertambah pada kadarnya. Setiap kali saya melihatmu, semakin besar pula rasa ingin memiliki yang muncul dalam hati saya. Tapi, saya ini siapa? Hanya persinggahan kah? Atau hanya pelampiasan semata? Meskipun ini akan terasa begitu menyakitkan, tapi saya berusaha agar kamu membenci saya. Dengan begitu, akan sedikit mudah bagi saya untuk merasa bahwa saya bukan wanitamu. Dengan begitu, akan sedikit lebih mudah bagi saya untuk menjauh dan membuang rasa ini. Bantu saya untuk membencimu, karena saya terlalu mencintaimu.

No comments: