September 23, 2015

Aku Menunggumu

Terima kasih untuk semua pagi yang sudah kamu awali dengan senyuman hangat, ternyata hal sederhana itu mampu memudahkanku melalui hari.
Terima kasih untuk semua hari yang sudah kamu warnai dengan tingkah konyolmu, ternyata ia begitu membekas dalam ingatanku.
Terima kasih untuk semua petang yang sudah kamu tutup dengan ucapan sampai bertemu esok hari dan hati-hati di jalan, ternyata hal itu mampu mengantarkanku pada malam yang indah dengan selamat.
Dan terima kasih pula untuk semua detik-detik menjelang tidur yang sudah kamu hias begitu indah meski hanya dengan suaramu yang terdengar lewat sambungan telepon.
Aku beruntung bertemu denganmu, sesosok manusia istimewa yang diciptakan Tuhan bertahun-tahun lalu.
Meskipun kita memang belum bisa menebak akhir dari cerita ini, meskipun kita belum bisa memastikan untuk dapat saling memiliki, tapi aku percaya, sebagian dari hatimu sudah ada dalam genggamanku, sebagian dari pikirmu sudah terisi oleh kehadiranku, sebagian dari hidupmu sudah bergantung padaku, sebagian dari kebahagiaanmu adalah aku.
Ini bukan tebakan, apalagi rasa percaya diri yang melebihi batas wajarnya.
Aku hanya… tahu dan yakin dengan hal itu.
Aku jatuh cinta pada caramu menatapku. Tatapan hangat nan lembut yang memberi kesan ingin melindungi, bukan tatapan tajam seperti ingin mengulitiku hidup-hidup.
Aku jatuh cinta pada semua tingkah konyol yang kamu lakukan, bukan seperti orang bodoh yang memang senang ditertawakan, tapi kamu sengaja ingin sedikit meringankan beban pikiran saat segudang pekerjaan tengah menghantamku.
Aku jatuh cinta pada suara sumbangmu ketika menyanyikan lagu-lagu cinta itu, berteriak dengan kencang seperti hanya kamulah yang bisa mengeluarkan suara. Tapi nyatanya, hal itu mampu membuatku menyimpul senyum lalu menggelengkan kepala.
Aku jatuh cinta pada genggamanmu, bagaimana kamu mengusap punggung tanganku dengan arah memutar, seperti memberi isyarat bahwa aku adalah pusat duniamu yang sebenarnya.
Dan aku jatuh cinta pula pada dirimu, segala hal yang melekat padamu, sekumpulan kelemahan dan kelebihan yang kamu miliki. Aku mencintainya, bahkan tidak pernah mengeluh karenanya.
Bukankah cinta bisa mengubah segalanya? Termasuk hidup seseorang?
Baiklah, semoga kamu memang takdir yang ditulis Tuhan untukku.
Semoga kamu memang satu-satunya yang akan tertakdirkan bagiku bila saatnya tiba nanti.
Aku menunggumu... lantas, selagi aku berbenah memperbaiki diri agar kiranya menjadi wanita yang sepadan untuk bersanding denganmu, kuharap kamu pun begitu, bersedia menjaga hati dan pandangan sambil berjibaku saling memantaskan diri.

No comments: