February 29, 2016

Sajak Hujan

Hanya mengerti, bahwa hujan itu manis. Ia lugu, rintik airnya tak pernah berdusta. Percayalah!
Seseorang mengatakan padaku, hujan itu hambar. Dan itu berubah saat manusia menyematkan kenangan di antara derainya.
Ketika itu aku meradang, selimut hujan tak tergenggam. Dingin rindu membuat kita tidak sepaham.
"Bolehkah aku menyampaikan sesuatu tanpa ada kata hujan?" Tanya bibir kepada kenangan.
Dalam sendirinya ia hanya mengharap rintik hujan di peraduan. Hari lahirnya tanpa ucapan, empat tahunnya tak kunjung benam dalam dekapan.
Desember mungkin tak lagi sama. Tak lagi sama kala senja menghantar ucap mesra di kemerahan setelah hujan reda. Kamu.
Rindu bermandikan hujan, ketika berlari tanpa alas kaki, merentangkan kedua tanganku dengan bebas.
Tepat hari ke sekian ratus, hari ini. Perjalanan peri hujan dimulai dalam suka. Hari ini, hujan kembali turun meski kini aku berduka.
Aku ingat kita berhujan bersama di atas dua roda. Meneduh walau basah dalam keadaan bahagia. Saat itu kita, bukan kamu dan aku.
Dan hari ini adalah tepat tahun keempat sejak pesan pertama kepada peri hujan. Selamat ulang tahun, semoga tak ada lagi rasa sakit.
Maka, adalah sebuah tangisan lirih kala hujan berkunjung pulang. Lantas, mengapa harus tertawa jika air mata lebih legakan dahaga?
Kemarau terlalu panjang, penuh dahaga tanpa rintik hujan. Cintaku terkatung menunggu di peraduan.
Di bawah payung kau berteduh, menghindar dari rintik rasa yang tak tersampaikan. Wajar saja doaku lebur tak tentu.
Adalah dahaga tanpa hujan di bulan Oktober, rinduku terasa makin berat. Tak ada lagi yang kata tersurat.
Gerimis di malam Agustus, aroma tanah basah terendus. Pertanda hujan datang menghunus, cintaku kian pupus.
Rindu itu bukan hanya kamu yang memiliki. Hujan menyimpannya jauh lebih dari yang kamu kira. Menjelmakannya menjadi embun sebagai jelmaannya.
Jikalau kamu benar mencintai hujan, lantas mengapa kamu justru menggenggam payung?
Sedikit keteduhan menyapa melalui hujan di pagi Agustus, tak lama. Namun sejuk, seakan bayang kenanganmu kembali memeluk.
Seketika rindu menjawab, "Aku kini mulai terbiasa berkubang, tanpa kamu membasuh pilu. Wahai hujan. Aku tahu rinduku tak lagi tersampaikan."
"Dan maafkan ketika aku tak sempat berkunjung dan menyapamu". Ucap hujan kepada rindu.
Seakan saling mengerti, mendung di langit dan mata ini. Hitam, gelap, pekat bak kopi yang kuseduh pagi ini.
Kuselipkan melodi rindu lewat rintik hujan sore ini. Semoga kau mendengar nyanyian lara nan pilu.
Turun satu keberkahan di pagi ini, hujan yang membasahi bumi. Derasnya turut menenangkan hati.
Kumohon pada hujan jangan berhenti, setidaknya selimuti aku dengan kesejukanmu sebelum aku tertidur lelap malam ini.
Dan maaf jika saat ini aku mencoba membencimu, layaknya aku mencoba membenci hujan. Hidupku sudah terlalu lama dibalut kenangan.
Jika hujan adalah sebuah keajaiban aku ingin bersamamu di bawah keajaiban itu.
Hujan menyapa senja, ingin kelu terhapus sempurna, ringan beban rindu terasa.
Saat itu, hujan Desember menyapa hingga berakhir pada Januari bak salam pamit rindu pada cinta, perpisahan terkadang menorehkan luka.
Mendung ingin menemani secacar rindu yang pilu, berharap hujan mau menghapus kelu.

No comments: