August 14, 2015

Maaf Jika Ini Terlalu Cepat

Sepertinya ini terlalu cepat.
Saya tahu, ini belum seharusnya terjadi.
Karena, bagaimana jika ternyata hal ini hanya seperti serangkaian semilir angin di tengah teriknya matahari, yang menyejukkan sesaat lalu menghilang? Begitu seterusnya.
Wujudmu saja bahkan belum saya ketahui.
Ragamu belum pernah terlihat nyata di pandangan saya, begitu pun dalam sentuhan saya.
Bagaimana jika kamu hanya ilusi semata?
Bagaimana jika kamu hanya sekumpulan bayangan yang saya ciptakan sendiri?
Bagaimana jika kamu hanya saya yang mengenali?
Bagaimana jika kamu ternyata semu?
Saya belum siap menerima kenyataan seperti itu.
Tapi saya tidak bisa memungkiri bahwa rasa ini memang ada.
Kita hanya saling mengenal dan berbicara lewat maya. Berupa sambungan telepon ataupun rangkaian pesan singkat.
Selebihnya, hanya Tuhan yang tahu.
Kamu seperti sekelebat cahaya yang menyilaukan pandangan saya, menerangi ruang yang terkadang saya rasa begitu gelap, memberi sedikit celah bagi saya untuk bernapas ketika udara terasa menyeruak entah kemana.
Di antara sekumpulan lelah, kamu seringkali datang tiba-tiba.
Menyelimuti saya dengan sedikit kehangatan, memberi saya bibit-bibit semangat yang kemudian dapat tumbuh dengan sendirinya.
Saya tidak bisa mendefenisikannya dengan sempurna.
Saat ini, saya hanya bisa menerka-nerka.
Maaf, jika ini terlalu cepat.

No comments: