August 25, 2015

Kepada Gadis Yang Berlindung Di Balik Tameng "Aku Baik-Baik Saja"

Kalau saja sudut matamu yang sering berair itu bisa bercerita, akan butuh sekian malam demi menuntaskan kisahnya. Dijamin, ia pasti mencerocos soal malam-malam panjang waktu kamu memeluk diri sendiri. Saat bantalmu basah dan kamu seakan tak bisa bernafas lagi.

Anak rambut dan buku-buku jarimu juga menyimpan kisah mereka. Pernah ada tangan yang sangat kamu cinta mampir di sana. Nyaman sentuhannya membuatmu nekat berharap bahwa gelenyar itu akan ada selamanya. Namun sayang justru kekecewaan menganga yang harus dihadapi di depan mata.

Di tengah sekian banyak nyeri yang menghantam dada, kata “baik-baik saja” membuatmu tetap waras di tengah semua kejadian yang ada. Tapi sesungguhnya sequence 3 kata itu telah kehilangan daya magisnya. Kamu tidak pernah sepenuhnya baik-baik saja.


Tidak mudah membohongi hati. Namun sudah terlalu biasa rasanya ia kamu kelabui. Demi langkah yang lebih kuat lagi.

Aneh. Beberapa bulan lalu kamu kira hari ini akan berat sekali dijalani. Kamu akan terjaga sampai pukul 12 malam. Kemudian mengirim pesan singkat sepanjang cerpen. Kamu juga sempat khawatir akan sedih dan mellow sampai menangis semalaman. Tapi anehnya, tidak. Semalam memang sempat terpikir akan menunggu sampai jam 12 malam. Mengirim ucapan tepat di pergantian hari. Namun nyatanya kamu malah sibuk memikirkan artikel yang tiris, menulis sebentar, kemudian menonton film lama sampai jatuh tertidur dengan laptop menyala.

Barangkali hidup memang benar-benar sudah berjalan. Meninggalkan kalian yang dulu jauh di belakang. Terkadang kamu masih rindu dia sepulang kerja. Tapi kini otakmu lebih penuh dengan judul artikel dan trik mengeditnya.

Terkadang kamu hanya berharap bisa menemukannya di akhir hari setelah aktivitas yang panjang. Tapi tak jarang kamu hanya ingin bisa tidur sebelum jam 11 malam. Dia masih di sini. Belum terganti. Tapi tanpanya pun, dirimu kuat menjalani hidup sendiri.

Tawar menawar urusan rasa sudah tamat dilakoni. Impian yang kamu harap diamini semesta mencipta rasa hangat di hati.

Sesungguhnya kamu membayangkan menggenggam tangannya saat hal-hal baik terjadi. Kamu visualisasikan menulis pesan singkat untuknya saat hal-hal baik mulai mendatangi. Kerut mata karena senyum terlalu lebar yang tercipta di wajahnya saat mendengar berita baik itu dibagi. Rengkuh lengannya erat memenuhi pinggangmu hingga satuan centi.

Tentu kalian tidak bisa menebak masa depan. Tapi kamu harap hal-hal baik, dirinya, dan ke-kita-an adalah sebuah kesatuan yang semesta aminkan.

Di balik harapan kamu meminta Tuhan membuka jalan. Nanti jadi jawaban. Kamu pilih bertahan. Erat berpegangan.

Kamu selalu percaya, Tuhan tidak pernah main-main membukakan jalan. Walau terdengar seperti lelucon, berlebihan —namun ini memang jalan-Nya. Jawaban-Nya atas doa-doa kalian yang keras kepala.

Sejenak hidup akan kamu tatap dengan nyinyir dan hanya jadi bahan tertawaan. Sementara, hati lebih memilih mengeras. Lelah dipenuhi drama yang kian tak jelas.

Hingga suatu saat nanti, dia yang baru akan mampu diterima lagi. Entah bisa kamu sayangi sedalam dirinya atau tidak, yang jelas kini kamu hanya wajib terus melangkahkan kaki. Membenamkan diri pada pekerjaan, menyingkirkannya dari pandangan.

Kamu dan dia sama-sama layak atas perjalanan baru yang minus emosi.

Tanpa tangis dan egoisme. Tanpa tindakan dan kata-kata yang mengecewakan hati. Kalian berhak menemukannya, yang akan hangat menyambut di ujung hari. Seseorang yang akan menyembuhkan semua babak belur hati ini. Nanti.

Ungkapan "baik-baik saja" bukan jimat. Sebab ternyata hidup toh terlalu laknat.

Orang bilang yang dikejar saat pergi setara dengan berarti, lalu bagaimana dengan ia yang selalu kembali?
Apakah menekan kemauan hati juga pantas dihargai?
Atau kemenangan selalu dipegang oleh ia yang tak pernah menoleh lagi?

…sebab kalian adalah penyakit menahun yang dibiarkan tanpa tindakan terlalu lama. Kalian adalah luka kecil yang kini jadi penuh nanah karena tak tersentuh antiseptik. Kalian adalah penundaan yang berujung penyesalan. Kalian adalah keberanian berpisah yang belum ditemukan.

Kalian, adalah amin di akhir salam dan amin di ujung nyanyian panjang —yang tak akan pernah bisa disatukan.






—Di adaptasi dari Hipwee, artikel milik Nendra Rengganis pada 13 Juli 2015

No comments: