August 19, 2015

Karena Mengalah, Bukan Berarti Berhenti Memperjuangkan

Ini bukan surat terbuka, tapi bukan pula ungkapan tentang perasaan yang nelangsa.
Anggap saja penyampaian rasa lewat serangkaian tulisan ini karena lisan yang berhalang untuk berucap langsung.
Some people feel the rains, other just get wet.
Sore itu awan gelap menaungi langit, aku tersenyum. Kenapa? Karena aku yakin, tidak lama lagi hujan akan segera turun. Karena aku suka hujan. Karena aku menemukan damai dan ketenangan dalam hujan. Hujan begitu baik, ia bersedia membasuh luka-luka yang menyayat, menyejukkan rindu-rindu yang memuncak, menyembuhkan sedikit perih yang kian merajam tanpa perlu diminta.
Tanpa sengaja, kita bertemu di sepanjang atap yang siap mengucurkan tetesan air. Aku duduk di sebuah bangku kosong yang bersisian dengan tiang penyangga, tiba-tiba kamu berjalan tergesa lalu berdiri tepat disampingku.
"Sedang apa?" Tanyamu setengah berbisik.
"Menunggumu datang." Jawabku sambil menyimpul senyum.
"Aku sudah datang, ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Aku rindu."
"Kalau begitu, peluk aku." Ucapmu lembut.
Aku tersenyum. "Terkadang, rindu lebih manis untuk disimpan daripada disampaikan. Kamu juga nggak akan ngerti."
"Aku ngerti, tapi..."
"Tapi ada dia. Iya, aku tahu." Aku memotong ucapanmu dengan perlahan. Begitu meyakinkan, tapi berusaha menyakitkan.
"Aku rindu kamu, kamu yang dulu."
Hening.
Satu per satu butiran bening itu jatuh dari langit. Bunyi gemerisiknya bersinggungan dengan atap. Gemuruhnya bersinggungan dengan hatiku.
"Bagaimana mungkin aku menyakiti hati wanita lain yang lebih dulu mencintai dan memilikimu? Bagaimana kalau perasaan kita hanya kebetulan yang tepat? Yang nanti akan hilang bersama waktu?"
Kamu mengernyit, seolah ingin membantah pertanyaan retorisku.
"Aku sayang kamu, kamu tahu itu kan?"
"Aku tahu. Tapi kamu juga sayang dia kan?"
Lagi-lagi hening.
Kamu hanya bisa terdiam. Mengatupkan bibir serapat mungkin. Seperti sedang memutar akal untuk mencari celah.
"I love you and you don't even look at me. You're one of those people I need in my life." Bisikku sambil menyimpulkan senyum.
Jemarimu menyapu lembut pipiku. Hangat. Aku bisa menikmati hangatnya meskipun kutahu itu hanya sementara.
Biar bagaimana pun, kehangatan itu bukan hanya milikku. Tapi juga miliknya.
Terkadang, cinta itu sederhana. Just you and me...
Hanya dengan melihatmu dari kejauhan, bahkan memandangi senyummu diam-diam, rasanya aku sudah cukup bahagia.
Tentu saja, aku tidak berani berharap terlalu tinggi. Bagaimana kalau nantinya kamu membawaku terbang melayang lalu menghempaskanku begitu saja dari atas sana? Rasanya pasti sangat sakit.
Kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan.
Meskipun aku tahu kamu adalah sebuah imajinasi liar yang tidak akan mungkin menjadi nyata, tapi aku tidak pernah sekalipun berniat berhenti memperjuangkanmu. Lihatlah, setiap orang punya cara masing-masing dalam memperjuangkan rasa. Termasuk aku.
Perlahan kamu memang semakin jauh, tapi aku masih di sini.
Jika nanti kamu membutuhkan bahu untuk bersandar bahkan pelukan saat tubuhmu menggigil, datanglah padaku. Anggap saja aku masih menjadi wanitamu. Karena selama kamu menganggapnya begitu, aku tetap akan menjadi wanitamu. Aku adalah apa yang kamu pikirkan. Jika kamu berpikir aku mencintaimu, maka begitulah adanya.
Lihatlah, aku malu memandangmu. Tapi di hadapan Tuhan, aku memintamu kepada-Nya.
Every girls need a guy who can help her to laugh when she thinks she'll never smile again.
Aku memang sempat berpikir orang itu kamu. Tapi jika Tuhan berkata tidak, aku bisa apa? Takdirmu adalah bersamanya. Sementara aku, mungkin kelak akan menjadi wanita bagi lelaki lain. Meskipun kita pernah saling mencari di antara kerumunan manusia lainnya. Tanpa disengaja pula, kita pun bersua lalu naik "strata" menjadi sama-sama mabuk asmara dan ingin selalu menghabiskan waktu bersama. Lalu kita pernah sama-sama bodoh mempertanyakan konsep jodoh. Tapi pada akhirnya, kita memang harus saling merelakan. Mungkin lebih tepatnya mengalah. Ya, aku mengalah tapi tetap memperjuangkan rasa, memperjuangkanmu.
Karena detik yang berlalu akan menjadi kenangan, maka jangan pernah meremehkan kebersamaan. Sebelum waktu mengajarimu arti sebuah kehilangan dan kamu hanya bisa menyalahkan keadaan.
It's the possibility of having a dream come true that makes life interesting.
Kamu boleh anggap aku sebagai rumahmu. Jika ada tempat yang membuatmu nyaman selain di rumahmu ini, silahkan pergi. Aku tetap akan menjadi rumahmu di sini. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, di luar sana banyak orang yang belum memiliki rumah dan membutuhkannya. Jangan sampai kamu terlena dengan kesenangan sesaat lalu memberikan rumahmu pada orang lain. Dan di saat kamu sudah tersadar, mungkin kamu tidak bisa berbuat apa-apa karena rumahmu sudah dimiliki oleh orang lain.
salam hangat dariku,
wanita yang bersembunyi di balik punggungmu

No comments: