Bait Hujan

Aku menengadah ke arah langit. Gelap. Awan hitam mulai bergantungan di sana.
Bukankah hujan itu ketenangan yang menenangkan?
Seribut apapun suara gemuruh menghantam atap rumah, aku sama sekali tidak terganggu. Melelapkan, bukan?
Sebut saja Pluviophile. Pengagum hujan yang entah apa sebabnya bisa sangat mencintai hujan.
Ada rasa iba di dadaku terhadap mereka yang takut bahkan membenci hujan. Bukankah hujan merupakan rahmat yang turun atas izin Tuhan? Lalu apa yang mereka takutkan? Mungkin gemuruh halilintar, atau barangkali kerlap-kerlip kilat? Apapun itu, biar kuredupkan rasa khawatirmu terhadap hujan lewat kata-kata ini.
Sebenarnya, bukan hujan yang membuat kamu takut tapi kenangan yang terkandung di dalamnya. Tentang dia. Benar kan? Tentu saja. Kamu tidak perlu menjawab. Karena aku begitu yakin akan jawaban dari dalam diriku sendiri.
Ada begitu banyak cerita yang dibawa hujan, salah satunya mungkin kenangan. Kenangan atau kisah masa lalu yang mampu membuat basah bantal di ranjangmu.
Jangan takut. Jika kamu membenci hujan karena hal itu, maka kamu tidak sendirian.
Ada aku. Ya, kita sama.
Dulu, aku begitu membenci hujan. Dinginnya seringkali membuatku menggigil. Lalu setelahnya, tubuhku akan mengalami demam hebat. Sejak kecil ayah dan ibu memang tidak pernah mengizinkanku bermain di bawah rinai hujan. Sampai suatu ketika, seseorang dengan begitu santai memperkenalkanku pada indahnya hujan.
Lalu, ia pula yang akhirnya menjadi cinta pertamaku. Kala itu, kala usia masih terlalu dini untuk membicarakan hal tabu bernama cinta.
Sejak saat itu aku mulai menyukai hujan. Sejak saat itu aku mulai mengagumi segala hal yang diberikan oleh hujan. Dinginnya mampu membuatku bersyukur dan lebih menghargai kehangatan. Suara gemuruh petirnya mampu membuatku lebih menikmati keheningan. Sejak saat itu, aku selalu merasa menjadi orang paling bahagia saat hujan turun. Tapi tentu saja bukan hanya karena sekumpulan hal sederhana itu. Setiap rintik hujan ternyata selalu menyimpan berbagai cerita yang kemudian menjadi kenangan.
Percayalah, hujan itu indah.
Tidak hanya itu. Terkadang, hujan juga menjadi soundtrack dalam raungan amarahmu. Dimana dengan riuh lebatnya hujan, sanggup menutupi teriakan kekesalanmu tentang dirinya yang membuat kamu kesepian melewati malam tanpa ucapan selamat malam dari pesan singkat kekasihmu —lebih tepatnya kekasih masa silam.
Namun ada pula yang membuat aku kagum dengan hujan. Ketika yang lain asyik menangisi dalam hujan, di lain sisi, ada pula yang mampu menciptakan beberapa puisi tentang hujan. Berterima kasihlah pada Tuhan, karena di bawah langitnya gelap-Nya, aku dan sebagian orang di luar sana masih sanggup mengubah rahmat Tuhan menjadi santapan untuk dibaca —seakan hatiku dan hatinya terasa benar bersentuhan —dan membuat mataku berkaca-kaca.
Entah harus berapa kali aku mengatakannya, aku adalah wanita yang hatinya sulit untuk ditaklukkan. Tapi di sisi lain, hatiku selalu tergores begitu dalam setelah melewati perihnya perpisahan maupun kehilangan. 
Penaklukan hatiku hanya dapat dilakukan dengan begitu cepat oleh indahnya kata-kata. Hujan lebih dari sekadar tetesan air, sedangkan baitan tulisan indah lebih dari sekedar padu padanan kata pemanis mata. Betapa beruntungnya aku bisa lahir ke dunia ini dan diberikan kesempatan untuk menikmati keduanya sekaligus.

Comments