Bahagia Itu Sesederhana Bersyukur

Pagi ini cerah, sangat cerah. Matahari keluar dari peraduannya memberi semangat yang begitu menghangatkan.
Aku menikmati semua kegiatan yang sudah kulakukan sejak terjaga tadi. Beribadah, bersiap-siap untuk pergi ke kantor, tidak lupa meluangkan waktu sejenak bertukar sapa dengan seluruh anggota keluarga.
Percakapan pun sederhana. Mulai dari omelanku mencari pakaian yang entah kusimpan dimana, obrolan ringan tentang rencana akhir pekan hingga yang sedikit berat seperti membahas perkembangan sekolah adik semata wayang.
Aku menikmati hidupku. Berusaha menikmati setiap pemberian Tuhan, baik itu suka maupun duka.
Aku mencintai keluargaku, mereka adalah segalanya bagiku.
Aku mencintai pekerjaanku, meskipun terkadang penat itu hampir membuatku putus asa, tapi sebisa mungkin aku meminimalisir setiap keluhan yang ingin terucap.
Seringkali perbandingan itu ada. Antara yang satu dengan lainnya. Antara hidupku dengan hidup orang lain. Antara yang rendah dengan yang tinggi, ataupun sebaliknya.
Melihat ke atas itu perlu, untuk memacu semangat yang terkadang goyah.
Melihat ke bawah juga tidak kalah perlu, untuk mengundang rasa syukur yang terkadang menjauh.
Melihat ke depan perlu, untuk merencanakan hidup yang lebih baik.
Melihat ke belakang pun perlu, untuk memperbaiki diri dengan mengambil hikmah-hikmah terbaik.
Pagi ini, sebenarnya aku sudah mengawali hari dengan menggerutu. Entah apa, entah mengapa. Tiba-tiba saja aku merasa bosan dengan apa yang kujalani saat ini. Hidup yang berjalan lurus, sangat datar, pikirku.
Dan Allah Yang Maha Mengetahui pun menunjukkannya di hadapanku. Saat sedang menunggu angkutan umum yang biasa mengantarkanku ke tempat bekerja, ada seorang kakek tua yang mendorong sepedanya lalu berhenti tepat di sampingku. Aku terenyuh. Allah masih sangat menyayangiku. Dia ingin aku kembali bersyukur dan melupakan sejenak keluh kesah itu.
Matahari belum beranjak terlalu tinggi, tapi semangat kakek tua itu sudah sangat membara. Terlihat dari kelihaian tangannya memilah botol-botol plastik dari dalam keranjang sampah lalu memasukkannya ke dalam karung beras yang ia ikat di bagian belakang sepeda.
Hatiku terasa semakin sakit. Betapa malunya aku. Dengan tubuh rentanya yang semakin tua, kakek itu masih sanggup melakukan pekerjaan yang belum tentu bisa kulakukan bila berada dalam posisinya. Sudah bisa kubayangkan betapa berat perjuangannya bila sepanjang hari harus menyisir tempat-tempat sampah di jalanan untuk mencari barang-barang bekas yang masih layak dijual.
Demi sesuap nasi? Tentu saja. Demi bertahan hidup? Tentu saja. Demi anak istrinya? Mungkin benar.
Di sisa hari tuanya, sepertinya ia belum mendapat kesempatan menikmati pagi di akhir pekan dengan secangkir kopi di teras rumah sambil bercerita dengan cucu-cucunya.
Ia mengais, terus mengais. Setiap kali tangan keriputnya mengais tempat sampah itu, hatiku semakin teriris.
Rasa syukurku pagi ini sudah sedikit terkikis karena hal-hal duniawi.
Tapi aku masih sangat bersyukur, Allah telah menunjukkan di hadapanku, bahwa bahagia bisa didapatkan dengan sangat sederhana, sesederhana rasa bersyukur.

Comments