July 5, 2015

Can You And I Become Us?



            PROLOG
Aku menoleh beberapa kali sesaat sebelum memasuki pintu pesawat. Sambil berulang kali menyebut namanya dalam hati, satu-satunya hal yang kuharap saat ini adalah suara itu kembali menggema dengan nyata dalam telinga dan menyerukan sapaan “Seren”. Aku percaya akan adanya cinta sejati. Aku percaya akan adanya sepasang cinta yang saling menggenapkan meski tanpa harus selalu berdekatan. Dan aku juga percaya akan adanya akhir yang indah pada setiap perjuangan membentengi hati dalam batas-batas syariat. Sayangnya, mungkin Tuhan belum mengizinkan rasaku terbalas saat ini. Atau mungkin, Tuhan sudah menyiapkan takdir masing-masing untuk kami jalani sehingga pertemuanku dengannya yang sudah dikonspirasi oleh semesta hanya mampu menjadi sepenggal cerita bertemunya dua insan dari dua sisi kehidupan berbeda yang berusaha menyatukan rasa meskipun hanya sebelah tangan. Aku tidak akan pernah berburuk sangka pada takdir. Meskipun kini dia telah menghilang perlahan dari radarku, meskipun kini duniaku tidak lagi secerah saat dia masih menjadi semangat pagi, namun bukan berarti aku akan menghapusnya dalam rapalan doaku di hadapan Sang Khalik.
“Selamat tinggal, Nata. Ah aku lupa, kamu pasti nggak suka ucapan selamat tinggal.” Bisikku lirih sembari menyunggingkan senyum lalu menyeka air mata. “Baiklah, sampai nanti, Nata.”
***
“Seren, kamu bahkan baru kenal Nata nggak lebih dari dua bulan. Pikir lagi deh sebelum kamu bilang kalau ini namanya cinta.” Ujar Alya dengan tatapan tidak percaya.
            “Ini cinta, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Mungkin.” Aku kembali menyendok segelas avocado float di hadapanku. “Percaya atau nggak, dalam waktu yang cuma dua bulan itu, aku udah tahu beberapa informasi penting tentang Nata. Dan itu semua tanpa perlu aku cari tahu karena memang dia sendiri yang cerita.”
            “Don’t you remember, Seren? Adik bungsu Nata juga seumuran sama kamu, yah walaupun lebih tua satu tahun. Tapi gimana kalau ternyata Nata cuma anggap kamu sebagai adik?”
            “Itu dia konsekuensinya.”
            “Emangnya kamu siap nerima?”
            “Alya, dengerin deh. Dalam hidup, berlaku hukum aksi-reaksi. Apa yang kita tanam, itu juga yang bakal kita tuai. Apa yang kita beri, itu juga yang bakal kita dapatin. Apa yang kita lakuin, semuanya bakal berbalik ke diri kita sendiri. Termasuk segala bentuk resikonya.”
            Alya menghela napasnya dengan berat. “Tadi aku telepon Mama kamu, sekalian pamit kalau malam ini mau ngajakin kamu ke acara resepsinya Mbak Mira. Suara Mama kamu kedengeran khawatir banget, pasti ada alasannya. Belakangan ini kamu sering pulang malam ya?”
            Aku tersenyum. “Ayolah, Ya, berhenti perlakuin aku kayak anak kecil gitu. I’m 19 years old, right? Aku sering pulang malam juga nggak kemana-mana, begitu selesai ngantor aku langsung on the way ke kampus karena beberapa waktu terakhir lagi aktif banget di BEM. Dan oh ya, aku juga baru gabung di organisasi jurnalistik kampus, lumayan buat kembangin bakat nulis juga. Tahun depan juga kita bakal sama-sama masuk usia 20 dan...” Suaraku menggantung. “Aku itu anak sulung, aku masih punya adik perempuan yang jauh lebih butuh diover-protective-in sama Papa dan Mama.”
“Seren, aku dan Papa Mama kamu, kita semua sayang sama kamu. Kita semua pengen untuk saling menjaga. Masa kamu nggak paham sih gimana beratnya tanggung jawab orang tua yang kesemua anaknya itu cewek? Tanggung jawab dunia akhirat loh. Lagian juga, hati kamu belum sepenuhnya sembuh. Masih berdarah-darah meskipun udah nggak parah.”
“Tuh kan, resek deh mulai ungkit-ungkit itu lagi.”
“Kali aja kisah suram sama si dia yang namanya nggak boeh disebut  itu masih membekas. By he way, balik lagi ke topik awal kita tadi. Kamu, beneran punya rasa sama Nata?”
“Membekas bukan berarti aku masih berharap hubungan itu berlanjut. Aku dan dia nggak seharusnya saling menggenapkan, karena kita sama-sama tahu kan kalau keadaannya memang salah. Apalagi setelah tahu semua kebohongan dia, setelah tahu kalau ternyata dia nggak sebaik yang aku pikirkan selama ini. Can you imagine it? Bisa-bisanya dia masih sempat berpikir buat berpindah ke lain hati sedangkan dia udah punya komitmen serius sama cewek lain. Jadi yah, aku berhenti sampai disitu. Kenapa nanya gitu sih? Ya jelas aja aku bakal bil...”
“Sst!” Alya buru-buru memotong ucapanku. “Itu bukannya Nata ya? Dia jemput kamu?”
***
“Hari ini kamu sampai sore atau malam? Lembur lagi?”
“Hmm?” Aku memalingkan wajah dari depan monitor ke arah tumpukan faktur di atas meja sambil tetap fokus mendengar suara di seberang sana yang terhubung lewat sambungan telepon.
“Seren, lagi sibuk ya? Aku nanya loh, kamu nanti sampai sore atau malam? Mau aku jemput?”
Aku hanya tersenyum sambil kembali memusatkan pandangan ke arah monitor.
“Maaf, maaf. Nggak, aku lagi nggak sibuk kok. Cuma tiba-tiba speechless aja kamu nanyain gitu. Tumben.”
“Siapa sih pria yang nggak khawatir kalau wanitanya sering lembur dan pulang di atas jam tujuh malam dari kantor?”
Entah kenapa tiba-tiba perutku terasa geli mendengar ada nada khawatir yang terselip di sana.
Nata, pria yang sebelumnya kukenal sebagai salah satu pria bersikap dingin pada wanita tiba-tiba berubah menjadi begitu hangat.
Untunglah, aku tidak mudah meleleh seperti es yang didekatkan pada api.
Dan... apa? Nata memanggilku dengan sebutan Seren?
Apa pagi ini pendengaranku bermasalah ya?
Darimana ia tahu panggilan itu?
Sapaan “Seren” biasanya hanya digunakan oleh orang-orang tertentu di sekitarku. Misalnya, keluarga dan beberapa teman dekat.
“Sampai sore, ntar kalau pulang malam mau balik sama siapa coba?”
“Pertanyaannya kode banget. Yah kan bisa aku jemput. Jangan kayak kemarin, pulang malam malah naik taksi sendirian lagi.”
Aku hanya memamerkan senyum asimetris tanpa menjawab apapun.
“Kamu lagi teleponan sama siapa sih? Pagi-pagi udah senyum-senyum sendiri aja.” Suara Mbak Caca mengagetkanku.
Pagi ini, suasana kantor masih sepi. Hanya ada aku dan Mbak Caca di ruangan divisi keuangan.
Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum malu ke arah Mbak Caca.
“Nata, percaya deh. I’m fine. I’m doing fine. Kalau sampai aku kenapa-napa, kamu pasti bakal jadi orang pertama yang aku kasih tahu setelah Papa sama Mama. By the way, kalau nggak salah lihat jadwal, hasil pengumuman ujian buat pertukaran mahasiswa ke Jepang bakal keluar besok deh.” Ujarku sambil menghentikan ketikan di atas keyboard.
“Feeling aku kuat banget kalau kamu bakal lulus. Jadi kamu bakal beneran pergi? Resign dari kerjaan kamu sekarang? Ninggalin Papa sama Mama? Ninggalin aku juga? Hm?”
Nada suara Nata terdengar hopeless.
“Kamu tahu kan, Nat, dapat beasiswa ke luar negeri itu udah jadi cita-citaku sejak masih duduk di bangku SMP. Apalagi Tokyo, salah satu kota yang udah lama banget pengen aku datangi. Kesempatan nggak bakal datang dua kali kan? Mungkin sih datang dua kali, tapi namanya keberuntungan, bukan kesempatan. Nah, tapi sebenarnya aku masih masih bingung. Kira-kira kamu sanggup nggak ya aku tinggalin?” Aku tertawa.
“Iya sih, aku memang sempat mikir gitu juga. Kamu nggak bakal mungkin juga nolak kesempatan ke sana. Tapi ada yang lebih aku khawatirkan lagi daripada semua itu. Di sini, kamu udah terbiasa sama rutinitas bangun pagi dan siap-siap ke kantor, sore harinya selesai ngantor langsung pergi ke kampus. Seharian kamu jalani itu semua nggak lepas dari orang ngangenin bernama Nata kan? Kalau kamu di Tokyo, berarti bakal jauh dong dari aku. Memangnya bisa? Pasti bakal ada yang kurang rasanya.”
Kali ini giliran suara renyah tawa Nata yang terdengar dari sambungan telepon.
Aku sempat tertegun. Antara percaya dan tidak mendengar ucapan tersebut. Tapi kemudian tidak mampu menahan gelak tawa mendengar semua kata-kata Nata.
 “Pedean banget ah.” Ucapku acuh.
“Tapi beneran kan?”
Aku kembali tertawa mendengar pertanyaan Nata yang sebenarnya terdengar retoris itu. Tanpa perlu kujawab, ia pasti mengerti kalau memang kehadirannya di sini sudah menjadi salah satu penyemangat bagiku.
***
Kita sejatinya bergumul dalam satu garis emosi yang sama
Meskipun datang dari dua sisi kehidupan yang berbeda
Kuharap tujuan kita adalah saling menggenapkan bersama
Meskipun kamu adalah sosok yang sebenarnya tidak mampu kuungkap lewat kata
Namun namamu tidak pernah lupa kurapal dalam doa
Berharap rasa ini juga bermuara pada ruang yang sama di sana
Hingga kita dapat bersatu dan saling berbalas rasa
“Puisi buat siapa? Nata lagi?” Alya menarik secarik kertas yang kuletakkan di atas rerumputan hijau taman kota, tempat kami biasa meluangkan waktu mencari inspirasi untuk melanjutkan naskah-naskah cerita atau hanya sekadar menenangkan pikiran setelah hampir satu minggu berkutat dengan berbagai macam jenis pembukuan di kantor. Ya, aku dan Alya memang punya banyak kesamaan, salah satunya adalah kecintaan kami pada dunia sastra.
“Iya.” Aku tersenyum kecut. “Puisi yang entah keberapa dan cuma disimpan dalam draft di laptop ini.” Ujarku santai sambil menunjuk layar laptop yang sedang menampilkan halaman web salah satu akun jejaring sosial milik Nata.
“Mau sampai kapan kamu mendam perasaan kayak gitu?”
“Sampai kapan?” Aku mengernyit.
“Iya, sampai kapan kamu mau terus-terusan pura-pura kalau hatimu baik-baik aja selama mendam perasaan ke Nata? Ini udah hampir tiga bulan. Dan sama sekali belum ada kejelasan antara kamu dan Nata, ya kan?”
“Alya, kan aku udah bilang, kami memang menghindar dari roman picisan semacam itu. Entah kenapa Nata ngerti kalau aku memang masih pengen sendiri, sendiri dalam arti aku masih pengen fokus buat karirku, buat pendidikan dan pekerjaanku. Aku bersyukur Nata bisa segitu ngertinya. Status kami sekarang mungkin memang cuma teman dekat, atau yah bisa dibilang gebetan sih, tapi rasanya itu lebih bagus daripada harus capek main-main dalam ruang lingkup pacaran. Meskipun Nata bilang pacaran itu nggak salah, hanya prosesnya aja yang nggak benar tapi kita berdua...”
“Intinya, kalian berdua sama-sama belum punya komitmen apapun. Titik.” Alya kembali memulai kebiasaaan buruknya memotong pembicaraan. “Kalian teman? Nyatanya perhatian kamu ke Nata dan perhatian Nata ke kamu itu udah lebih dari sekedar teman. Kalian pacaran? Belum pernah ada salah satu di antara kalian yang nyatain perasaan kan?”
Aku tertegun. Alya memang benar. Sampai saat ini, sampai sejauh ini, aku bahkan tidak tahu harus mengartikan apa atas semua sikap dan perhatian yang diberikan Nata.
Berpikir bahwa ia hanya menganggapku sebagai seorang teman?
Nyatanya sikap Nata jauh lebih manis daripada sikap seorang teman.
Berpikir bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku?
Nyatanya kami hanya terjebak dalam sebuah lingkup “friend-zone” dan tidak tahu harus melangkah kemana.
“Aku nggak bermaksud maksa kamu untuk minta kejelasan itu ke Nata, tapi paling nggak kamu juga harus bertindak dong. Jangan hanya menunggu dan jalani semuanya gitu aja.”
“Nata memang nggak bisa ditebak. Aku sendiri bingung, takut terlalu cepat dan salah mengartikan.”
“Beberapa hari terakhir, gimana kamu sama Nata?”
“Gimana apanya?” Aku kembali memandang secarik kertas berisi puisi kesekian itu.
“Komunikasi kalian, masih intens?”
“Mulai berkurang, semenjak...” Aku menarik napas sedalam mungkin, seolah sedang mengumpulkan tenaga untuk mengeluarkan apa yang sejak beberapa waktu terakhir terasa mengganjal. “Beberapa hari terakhir Nata memang kelihatan beda. Tadinya aku sempat mikir kalau dia lagi sibuk banget sama pekerjaan dan kuliahnya, yah sama kayak aku. Tapi nyatanya udah hampir dua minggu komunikasi kami gantung.”
Tiba-tiba saja Alya memelukku.
“Kasihan deh yang lagi galau.”
“Bukan galau, cuma aku merasa aneh aja. Kayaknya aku nggak melakukan sesuatu yang salah. Dan kemarin-kemarin juga sesibuk-sibuknya Nata tetap nggak bakal lupa buat sekadar kirim pesan singkat ke aku.”
Alya tertawa lalu melepas pelukannya.
            “Udah ah jangan cemberut gitu. Seren, dengerin aku ya. Tuhan mempertemukan untuk sebuah alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya untuk sesaat atau untuk selamanya. Entah untuk menjadi bagian terpenting atau hanya sekadarnya. Tapi, kita harus menjadi yang terbaik di waktu tersebut. Lakukan dengan tulus meski nggak seperti apa yang diinginkan. Nggak ada yang sia-sia karena Tuhan yang mempertemukan.” Ia tersenyum lalu menaikkan sebelah alis. “Lagian, semakin dewasa kita, bakal semakin nyaman juga sama hubungan yang nggak banyak orang tahu. Cinta yang dewasa nggak perlu publikasi, pamer dan drama yang berlebihan. Cukup jalani apa adanya. Listen to me, Seren, if you really love him, you've gotta set him free. And if he returns in time, you'll know he's yours.
“Kamu salah minum obat? Tumben bisa dewasa. Biasanya kan aku yang keluarin kata-kata mujarab kayak gitu.”
“Dih, sepele banget. Aku juga belajar banyak dari kamu tahu, curi-curi ilmu buat berpikir dewasa dikit sih. Intinya adalah, kalau Nata memang serius sama kamu, dia nggak bakal mundur. Kalau dia memang serius sama kamu, dia bakal terus berjuang sampai titik darah penghabisan.”
“Titik darah penghabisan? Ini bukan perang 1945 kali, Ya. Terus kalau dia mundur teratur?”
“Ya kali pakai ditanya segala. Kalau nyatanya dia mundur, berarti kamu yang harus belajar melepaskan, kamu harus belajar mengikhlaskan, belajar buat bisa menerima keadaan kalau nggak semua hal yang kamu mau bisa kamu dapatin, belajar buat bisa berlapang dada kalau nggak semua yang kamu ingin harus dipaksa sesuai sama kehendakmu.”
Aku terkesiap mendengar penjelasan Alya.
“Thank you, Ya.”
“Ya udah, yuk pulang. Udah mau hujan nih.”
***
Aku memperlambat langkah saat melewati ruangan kelas Nata.
“Ini ada file cerita yang aku janjikan kemarin. Gimana ujiannya?” Tanya perlahan saat ia muncul dari balik pintu.
“Makasih ya. Nanti aku baca di rumah. Nggak tahu, mudah-mudahan hasilnya bagus sih.”
“Lesu banget. Kenapa? Sakit?”
“Kayaknya. Badan aku mulai nggak enak. Maaf ya, aku nggak bisa nemenin kamu ke toko buku. Bisa ditunda dulu kan perginya? Aku langsung antar kamu pulang aja ya.”
Aku terdiam.
Kemarin sore, Nata begitu bersemangat mengajakku pergi ke toko buku.
Kenapa sekarang mendadak berubah?
Aku mungkin baru mengenalnya tidak lebih dari empat bulan. Tapi sejauh yang kutahu, Nata bukan tipikal orang yang suka membatalkan janji seperti sekarang ini.
“Seren? Nggak marah kan?”
“Hm?” Aku tersenyum, miris. “Ah, nggak kok. Ya udah kalau kamu lagi nggak enak badan, pulang duluan aja. Aku mau ke toko buku dulu. Ada beberapa buku yang penting banget aku cari.”
Nata hanya berdehem lalu memalingkan wajahnya.
Hal yang sudah biasa kudapati beberapa waktu terakhir. Ia selalu saja menenggelamkan fokusnya pada hal-hal lain lalu hanya memberi perhatian seadanya saat aku mengatakan sesuatu.
***
“Kamu yakin sama keputusan kamu, Serenade?” Suara Pak Dimas terdengar berat. Seolah ingin meyakinkanku sekali lagi agar mempertimbangkan keputusan yang kubuat lewat selembar surat pengunduran diri.
“Insyaa Allah saya yakin, Pak.”
“Alasan kamu memang hanya karena ingin fokus kuliah? Nggak ada faktor lain?”
Aku tertegun. Mulutku ingin berkata tidak, tapi hati justru berteriak iya.
“Nggak ada, Pak. Satu-satunya alasan saya memang hanya karena saya ingin fokus buat kuliah.”
“And your destination is Japan? Tokyo? Bukannya tahun lalu kamu juga lulus lewat jalur beasiswa di salah satu universitas bergengsi di sana tapi kamu tolak kesempatan itu?”
“Tahun lalu saya masih merasa belum siap sepenuhnya, Pak.” Aku tersenyum. “Tapi sekarang, saya udah yakin dan siap untuk lanjutin pendidikan di sana. Saya harap Bapak bisa ngerti keputusan ini.”
“Oke Serenade. Surat pengunduran diri kamu, saya terima. Semoga sukses ya buat kuliah dan karirmu di sana.”
“Terima kasih, Pak. Minggu ini juga seluruh laporan administrasi bakal saya serah terimakan ke Mbak Caca. Mulai senin depan saya udah non-aktif sebagai staf adminitrasi di sini ya, Pak. Terima kasih buat satu tahun yang udah saya lewati di sini, saya bersyukur mendapat pengalaman kerja pertama di Royal Group.”
Pak Dimas tidak menjawab. Ia hanya mengangguk beberapa kali lalu tersenyum sambil terlihat menimbang kembali keputusan yang kuajukan.
***
“Pesawatnya take off setengah jam lagi. Semua barang udah beres kan? Seren...” Alya mengguncang bahuku perlahan. “Kok melamun sih? Masih berharap dia bakal datang?”
“Memangnya salah kalau aku berharap dia datang? Mungkin cuma buat sekedar say goodbye.”
“Dan aku berani jamin itu bakal batalin keberangkatan kamu. Seren, kamu itu perempuan yang kuat. Maaf, bukan bermaksud ngatain kamu jatuh cinta sama orang yang salah. Tapi aku yakin, kalau memang Nata adalah orangnya, sejauh apapun jaraknya, kalian bakal sama-sama kembali. Trust me.”
“Dan sejauh ini, perubahan terbanyak yang aku alami adalah semenjak aku kenal sama Nata. Dia yang selalu motivasi aku supaya nggak pernah bosan memperbaiki diri.”
“Nah, kamu bisa jadikan itu sebagai hikmah di balik ini semua. Anggap aja Tuhan mempertemukan kalian supaya kamu bisa menjadi Seren yang lebih baik lagi. Dan nyatanya, lihat diri kamu sekarang? Aku bahkan takjub lihat perubahan yang cuma beberapa bulan itu.”
Aku tersenyum miris. “Itu pujian atau ngeledek sih? Ya udah, aku pamit ya. Baik-baik di sini. Dan... kalau pun memang seandainya Nata nanyain aku ke kamu, tolong sampaikan salam aku buat dia ya.”
“Haduh, mulai deh melankolisnya. Please deh, Seren, kamu kan cuma berangkat ke Jepang, bukannya ke Saturnus. Lagian juga masih ada BBM, WhatsApp, Line, Facebook, Twitter dan segudang media sosial lain yang masih bisa digunain seandainya dia memang mau komunikasi sama kamu. Ya kecuali kamu mau berubah jadi manusia primitif.”
Kami sama-sama tertawa. Sekali lagi aku memeluk Alya dengan erat. Wanita berusia 19 tahun yang selama beberapa tahun terakhir begitu setia mendampingiku dalam semua suka duka yang kualami karena roman percintaan.
Setelah berpamitan pada Papa, Mama juga Ara, adik semata wayangku yang kini duduk di bangku kelas X, aku pun beranjak meninggalkan mereka memasuki ruang tunggu keberangkatan maskapai penerbangan yang tidak sampai 20 menit lagi akan membawaku menuju Tokyo.
Dengan langkah sedikit terseok, aku hanya berusaha sekuat tenaga menutupi raut kesedihan itu dengan sebuah senyuman. Bukankah senyum adalah perhiasan terbaik seorang wanita?
***
EPILOG
“Terminal E4... Terminal E4... Mana sih?” Nata berusaha melewati beberapa kerumunan orang yang berkumpul di sekitar pintu terminal keberangkatan internasional.
“Alya!” Teriaknya tiba-tiba.
Seorang wanita berhijab merah muda membalikkan badannya mencari sumber suara.
“Nata?”
“Seren udah masuk?”
“Udah. Papa, Mama dan adiknya Seren juga baru aja keluar. Ke arah parkiran kayaknya.”
“Seren...” Ucapnya lirih sambil mengatur napas yang masih tersengal. “Kenapa mendadak gini sih resignnya? Bahkan dia nggak ada bilang apa-apa sama gue soal keberangkatannya ke Tokyo.”
“Mungkin Seren udah terlalu lama nunggu. Dan mungkin juga sekarang dia lagi ngasih elo waktu buat berpikir, is she the one?” Wanita berhijab merah muda itu lalu mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku jaketnya. “Oh ya, dia titip ini buat lo. Gue balik duluan ya.”
Nata masih mematung memandangi secarik kertas putih di tangannya, kertas yang tergulung rapi dengan pita biru muda melingkar di tengahnya.
Ia merentangkan kembali kertas tersebut setelah membuka ikatan pitanya.
Kita sejatinya bergumul dalam satu garis emosi yang sama
Meskipun datang dari dua sisi kehidupan yang berbeda
Kuharap tujuan kita adalah saling menggenapkan bersama
Meskipun kamu ada sosok yang sebenarnya tidak mampu kuungkap lewat kata
Namun namamu tidak pernah lupa kurapal dalam doa
Berharap rasa ini juga bermuara pada ruang yang sama di sana
Hingga kita dapat bersatu dan saling berbalas rasa

Salam hangat dariku,
            Wanita yang menjadikan doa sebagai penyambung rasa di antara kita

No comments: