Waktu Memang Begitu



Waktu memang begitu.
Seringkali ia berkonspirasi memainkan drama yang sulit dimengerti hingga membuat jenuh dan sakit hati memecah ketenangan.
Kemarin, hari begitu. Sekarang, hari begini.
Tak usah jauh melihat hingga kemarin, beberapa waktu lalu saja pun tentu berbeda dengan saat ini.
Waktu memang begitu.
Seringkali ia bertindak semaunya, membiarkan peristiwa-peristiwa itu terjadi lalu seolah biasa saja.
Tak ada rasa penyesalan, tak ada perasaan bersalah.
Padahal sebelum dan sesudahnya pasti sangat berbeda.
Waktu memang begitu.
Memasukkan cinta dalam jumlah besar ke dalam hati, lalu sekejap saja memusnahkan hingga benar-benar tiada.
Dalam waktu, cinta bisa berubah benci dengan seketika.
Dalam waktu, hangat bisa menjelma beku begitu saja.
Dalam waktu, bahagia bisa terbakar habis oleh air mata dengan tiba-tiba.
Waktu memang begitu.
Kemarin, tangan masih saling menggenggam, raga masih bersisian, senyum masih mengembang lalu bibir masih saling berpagutan.
Sekarang, jarak merentang hebat bahkan hanya kebencian yang tersirat dalam tatapan mata.
Waktu memang begitu.
Ia tidak akan pernah berputar ke belakang, menoleh saja pun enggan.
Membiarkan semua peristiwa terjadi dengan semestinya.
Membiarkan luka-luka itu sembuh dengan sendirinya karena tersapu angin.
Membiarkan kenangan tenggelam dalam puing-puing masa lalu yang berserakan di sana.
Iya, waktu memang begitu.


Comments