June 17, 2015

Serpihan Itu Bernama...

Kenapa setiap kenangan terasa manis dan indah? Karena kenangan tidak bisa terulang kembali, itulah yang menjadikannya berarti.
Kenapa setiap kenangan selalu saja meninggalkan bekas? Tentu saja, namanya juga kenangan. Selalu ada serpihan dari masa lalu yang tertinggal di sini. (Baca: hati)
Ia tertinggal oleh serpihan-serpihan lain yang mulai terbawa angin.
Serpihan itu menyendiri pada sudut yang berkabut dan dingin —membentuk sebuah nota yang disebut kenangan.
Ia sudah begitu rapuh, hampir-hampir menjelma butiran debu.
Ada serpihan yang sering membawa sesak saat pikiran kembali menerawang ke masa lampau.
Serpihan itu entah kenapa tidak mau pergi, seolah sengaja berdiam di sini ―memberi peringatan kalau-kalau nanti hampir menemui luka yang sama.
Serpihan itu juga diberi nama kenangan dari masa lalu, dimana banyak luka dan perih yang pernah terekam olehnya, pun juga banyak tawa bahagia menggema di dalamnya.
Baiklah, sudah cukup tiga frasa sederhana itu.
Kenangan, serpihan, masa lalu.
Sudah terbayang bukan bagaimana klisenya?
Ketahuilah, tidak ada paksaan untuk masuk, pintu ini akan tetap terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin menjelajah labirin hati.
Hanya saja ada sedikit peringatan, jangan sampai tersesat ya —jangan sampai kehilangan arah lalu meninggalkannya begitu saja.
Serpihan yang tertinggal saja belum hilang, jangan menambah serpihan lain yang semakin menyesakkan.
Jika sudah terlanjur masuk melewati pintu itu tapi berubah pikiran, silahkan pergi dan tinggalkan sebelum menjadi serpihan baru.

Ketahuilah, nama lain serpihan itu sangat indah ―patah hati.

2 comments:

kun cret said...

kadang kenangan itu kayak asap yg menguap
dari cangkir kopi , nyaris tak terlihat tapi kita
tetep bs ngerasain angetnya tuh asap . Bahkan
saat asap itu ilang ketiup angin

Arifa Hanim said...

setuju banget nih