June 23, 2015

Kita Sebaiknya Begini Dulu

Aku perlahan-lahan mulai mundur. Tanpa disadari, sudah banyak ruang tersisa di antara kita. Kamu tahu, aku banyak merenung akhir-akhir ini dan akhirnya aku berhenti pada satu kesimpulan ―berjarak. Ya, sepertinya kita memang butuh ruang itu untuk menghirup udara yang sudah lama tidak mengisinya. Agar dada terasa lega, agar pikiran tidak lagi buntu.
Apa kamu sempat mengira-ngira sejak kapan kita mulai seperti ini?
Aku tidak. Semua terjadi begitu saja. Tiba-tiba seperti ada yang hilang di sini atau mungkin juga di sana.
Kali ini berjarak bukan lagi soal angka ribuan atau ratusan mil, namun sepertinya lebih daripada itu. Mungkin lebih tepatnya merelakan. Merelakan bahwa ada sesuatu yang sudah berakhir di antara kita.
Akhir-akhir ini aku banyak merenung dan belajar arti merelakan. Kita sebaiknya juga belajar untuk tidak lagi egois pada hati.
Kita sebaiknya begini dulu. Kita sebaiknya menunggu, takdir apa yang akan terjadi kelak




-De-

June 22, 2015

Kepada Kamu

Ketika dia berbuat salah, ingatlah kebaikannya.
Sesuatu yang kecil bisa menyelinap dan menghancurkan dari dalam. Dan yang paling menakutkan adalah, semuanya terjadi tanpa sempat kamu sadari.
Ironis rasanya mengetahui bagaimana seorang manusia bisa dengan percaya diri dan mudahnya melewati sebuah badai yang besar. Namun dalam waktu yang sama mengetahui ada beberapa pasang manusia yang bisa hancur hanya karena kerikil kecil.
Sepasang manusia yang akhirnya rela saling melepas genggaman tangan hanya karena ancaman kerikil kecil, padahal sebelumnya pernah melewati puluhan badai yang luar biasa besarnya berdua. Logikanya, sepasang manusia yang berhasil melewati badai berdua atas nama cinta pasti lebih bisa melewati kerikil kecil. Namun sekali lagi, cinta seringkali tidak sejalan dengan logika.
Badai yang besar harusnya malu pada kerikil kecil. Dan sepasang manusia yang kehilangan cinta hanya karena kerikil kecil, akan tertutup mukanya oleh pasir yang terbawa angin badai.
Aku tidak ingin malu di depan badai dan kerikil, beserta pasir yang senantiasa menyertai mereka.
Sebuah cinta, semestinya lebih digdaya dari badai dan kerikil yang melanda.
Kepada kamu, genggam tanganku. Kita lewati badai, kita langkahi kerikil.



-landakgaul-


June 20, 2015

Realize

Take time to realize that your warmth is crashing down on in
Take time to realize that I am on your side
Didn't I tell you?
But I can't spell it out for you
No, it's never gonna be that simple
No, I can't spell it out for you
If you just realize what I just realized then we'd be perfect for each other
And we'll never find another
Just realize what I just realized
We'd never have to wonder if we missed out on each other now
Take time to realize this all can pass you by
Didn't I tell you?
It's not the same
No, it's never the same if you don't feel it too

If you could meet me halfway, it could be the same for you

June 19, 2015

I Never Told You


I miss those black eyes, how you kiss me at night
I miss the way we sleep, like there’s no sunrise, like the taste of your smile
I miss the way we breathe

I see your black eyes every time I close mine
You make it hard to see where I belong to when I’m not around you
It’s like I’m alone with me

But I never told you what I should have said
No, I never told you
I just held it in

And now I miss everything about you
Can’t believe that I still want you
And after all the things we’ve been through
I miss everything about you






June 17, 2015

Serpihan Itu Bernama...

Kenapa setiap kenangan terasa manis dan indah? Karena kenangan tidak bisa terulang kembali, itulah yang menjadikannya berarti.
Kenapa setiap kenangan selalu saja meninggalkan bekas? Tentu saja, namanya juga kenangan. Selalu ada serpihan dari masa lalu yang tertinggal di sini. (Baca: hati)
Ia tertinggal oleh serpihan-serpihan lain yang mulai terbawa angin.
Serpihan itu menyendiri pada sudut yang berkabut dan dingin —membentuk sebuah nota yang disebut kenangan.
Ia sudah begitu rapuh, hampir-hampir menjelma butiran debu.
Ada serpihan yang sering membawa sesak saat pikiran kembali menerawang ke masa lampau.
Serpihan itu entah kenapa tidak mau pergi, seolah sengaja berdiam di sini ―memberi peringatan kalau-kalau nanti hampir menemui luka yang sama.
Serpihan itu juga diberi nama kenangan dari masa lalu, dimana banyak luka dan perih yang pernah terekam olehnya, pun juga banyak tawa bahagia menggema di dalamnya.
Baiklah, sudah cukup tiga frasa sederhana itu.
Kenangan, serpihan, masa lalu.
Sudah terbayang bukan bagaimana klisenya?
Ketahuilah, tidak ada paksaan untuk masuk, pintu ini akan tetap terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin menjelajah labirin hati.
Hanya saja ada sedikit peringatan, jangan sampai tersesat ya —jangan sampai kehilangan arah lalu meninggalkannya begitu saja.
Serpihan yang tertinggal saja belum hilang, jangan menambah serpihan lain yang semakin menyesakkan.
Jika sudah terlanjur masuk melewati pintu itu tapi berubah pikiran, silahkan pergi dan tinggalkan sebelum menjadi serpihan baru.

Ketahuilah, nama lain serpihan itu sangat indah ―patah hati.

June 16, 2015

Tanya Air Mata

tanya air mataku saat aku menangis, saat aku bermimpi, saat aku bertanya
sulit hidupku untuk, sulit kau tuk mengerti
sulit tuk kau pahami dengan apa kau harus mengerti
kau harus pahami, kau harus mengerti hidupku

masih mungkinkah kau mencoba kumohon
terus mencoba tuk gali lebih dalam arti hidupku
hingga Tuhan turunkan utuh sebuah cinta untukmu
sebuah arti untukmu dengan apa kau harus mengerti
kau harus pahami, kau harus mengerti, kau harus pahami hidupku

saat aku menangis, saat aku bermimpi
tanya air mataku saat-saat aku menangis
saat aku bermimpi, bila kau pahami


June 14, 2015

Waktu Memang Begitu



Waktu memang begitu.
Seringkali ia berkonspirasi memainkan drama yang sulit dimengerti hingga membuat jenuh dan sakit hati memecah ketenangan.
Kemarin, hari begitu. Sekarang, hari begini.
Tak usah jauh melihat hingga kemarin, beberapa waktu lalu saja pun tentu berbeda dengan saat ini.
Waktu memang begitu.
Seringkali ia bertindak semaunya, membiarkan peristiwa-peristiwa itu terjadi lalu seolah biasa saja.
Tak ada rasa penyesalan, tak ada perasaan bersalah.
Padahal sebelum dan sesudahnya pasti sangat berbeda.
Waktu memang begitu.
Memasukkan cinta dalam jumlah besar ke dalam hati, lalu sekejap saja memusnahkan hingga benar-benar tiada.
Dalam waktu, cinta bisa berubah benci dengan seketika.
Dalam waktu, hangat bisa menjelma beku begitu saja.
Dalam waktu, bahagia bisa terbakar habis oleh air mata dengan tiba-tiba.
Waktu memang begitu.
Kemarin, tangan masih saling menggenggam, raga masih bersisian, senyum masih mengembang lalu bibir masih saling berpagutan.
Sekarang, jarak merentang hebat bahkan hanya kebencian yang tersirat dalam tatapan mata.
Waktu memang begitu.
Ia tidak akan pernah berputar ke belakang, menoleh saja pun enggan.
Membiarkan semua peristiwa terjadi dengan semestinya.
Membiarkan luka-luka itu sembuh dengan sendirinya karena tersapu angin.
Membiarkan kenangan tenggelam dalam puing-puing masa lalu yang berserakan di sana.
Iya, waktu memang begitu.


June 11, 2015

Barangkali



Barangkali, kemudian kita akan belajar untuk menyimpan segala apa yang ada di dalam dada, sampai ia benar-benar tiada.
Dan barangkali pula, nanti kita akan belajar untuk memendam segala apa yang ada di dalam hati, hingga ia benar-benar terkubur mati.

Jangan Dibaca!

Hidup ini indah selama kita tahu bagaimana cara menjalankannya. Hidup ini juga indah selama kita tahu bagaimana cara memainkan peran. Hidup ini indah selama kita paham peran yang kita lakonkan. Ya, hidup ini indah selama kita mampu menjaga hati, mampu menguasai jiwa, mampu mengendalikan pikiran untuk tetap berjalan pada porosnya.
Seringkali manusia memang lupa bercermin. Apakah rupa sudah sangat rupawan? Apakah hati sudah begitu bersih? Apakah pikiran sudah amat jernih? Apakah perbuatan sudah sesuai dengan ucapan? Apakah lisan sudah cukup baik? Apapun yang tidak ingin didengar, maka jangan didengar. Apapun yang tidak ingin dibaca, maka jangan dibaca. Apapun yang tidak ingin dilihat, maka jangan dilihat. Terkadang, hidup sesederhana itu. Sayangnya, akal manusia justru lebih menyukai hal-hal rumit dan menyakitkan.
Seseorang berhak mengekspresikan rasa sesuka hati, seseorang berhak melukis hidupnya dengan berbagai warna yang ia mau, seseorang berhak menuliskan apa saja yang ada dalam hati dan pikirannya —selagi itu tidak mengganggu, apakah itu salah? Sepertinya tidak.
Sebagian besar manusia memang dianugerahi kepekaan luar biasa, tapi hanya sedikit yang mampu menyesuaikan kepekaan itu dengan perbuatan dan lisannya. Tidak jarang, tanggapan yang muncul dari sebuah pernyataan ataupun sikap justru berubah tidak wajar karena menutupi sesuatu yang ingin dikambing hitamkan.

June 5, 2015

Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin


Kalau kehadiran dianggap menyusahkan, semoga kepergian menghembuskan ketenangan. Kalau membenih subur karena ukhuwah, biarlah jatuh dan gugur karena cinta. Sebab daun yang jatuh, takkan pernah sekalipun membenci angin.