April 11, 2015

Untukmu Yang Sudah Membuatku Mengerti Arti Jatuh Cinta & Benar-Benar Mencintai

Bagiku, jatuh cinta itu perkara sederhana. Kita hanya harus duduk berdua, beradu mata dan bicara tentang apa saja. Aku mengagumi hidungmu yang mancung berlebihan, kebiasaanmu menggaruk rambut yang tidak gatal, hingga gaya bicaramu yang ceplas-ceplos dan membuat pertemanan kita selalu berkesan. Namun, berdampingan denganmu ternyata membuatku belajar banyak hal baru, salah satunya perihal cinta yang kupunya untukmu. Darimu aku tahu, bahwa jatuh cinta dan benar-benar mencintai adalah dua hal yang jauh berbeda. Bersamamu, aku mengerti bahwa cinta hanya akan sia-sia jika kita tidak punya niat dan usaha untuk menghidupinya.

Orang yang memang ingin tinggal dalam hidup kita, akan selalu mencari cara untuk mengamankan tempat mereka.
Jatuh cinta itu biasa. Dengan mudah aku dan kamu saling tergila-gila dengan pertemuan yang hanya sekejap mata. Ya, aku memang paling suka mencerapi kenangan. Mengingat betapa dulu kita tidak sedikit pun berusaha jual mahal untuk bertukar nomor telepon dan merencanakan pertemuan. Semua terjadi begitu cepat, mengalir apa adanya tanpa harus dibuat-buat. Hanya butuh waktu satu bulan masa pendekatan, sebelum kita akhirnya sepakat untuk jadian dan resmi pacaran meskipun terhalang oleh keadaan yang mengikatmu.
Cinta memang berhasil membuat kita “mabuk”. Rasanya, tiada hari tanpa keinginanku mendengar kabarmu. Seperti aku, kamu pun akan berusaha mencuri-curi waktu di antara padatnya rutinitas pekerjaan demi kita bisa bertemu dan saling meluapkan rindu. Ya, ingatan tentang momen perkenalan, masa pendekatan hingga cerita di awal pacaran memang jadi yang paling membahagiakan.

Aku dan kamu jadi pasangan paling jemawa. Kita lupa pada jalan panjang sarat ketidakpastian yang akan menguji kadar cinta kita.
Kita tidak sedikit pun merasa kesulitan untuk beradaptasi. Sekali pun awalnya kita adalah dua orang yang tidak saling kenal, kita bisa “nyambung” lantaran punya banyak kesamaan. Soal musik, film, cita-cita, prinsip hidup; berbagai hal yang kadang membuat kita jemawa —merasa jadi pasangan paling cocok sedunia.
Dulu, kita seperti hidup di dunia fantasi. Aku adalah putri cantik dan kamulah sang pangeran berkuda nan tampan. Kelak kita akan menikah, punya banyak anak dan hidup bahagia selamanya. Tapi, harapan seringkali berseberangan dengan realita. Kita lupa bahwa pacaran itu justru seperti berjalan melewati sebuah lorong gelap. Kita “dipaksa” awam dengan berbagai ketidakpastian yang akan menguji seberapa kuat cinta kita.

Kita pernah menghamba pada emosi yang menjadikan kehidupan seperti candu, tidak terkendali dan menggebu-gebu.
Cinta yang meluap-luap seringkali membuat kita tidak terkendali. Dalam segala hal, kita akan selalu mengedepankan soal perasaan dan emosi. Saat seharian kamu tidak memberi kabar, rasa kesal dan cemas yang bercampur  membuat pekerjaan dan tugas-tugasku berantakan. Alih-alih fokus, aku hanya akan sibuk merapal pertanyaan; “Dia sedang apa ya? Lagi dimana dan sama siapa? Kenapa nggak kasih kabar? Jangan-jangan sakit… atau malah sibuk main sama teman-temannya? Apa mungkin dia lupa sama aku?”
Perasaan bisa dengan hebat mengendalikan diriku. Aku merasa insecure dan takut kehilangan kamu. Di titik inilah aku merasa bahwa cinta yang begitu besar dan tidak terkendali adalah bencana. Sebentar saja kamu hilang dari “radarku”, aku merasa jadi orang paling malang sedunia.

Hubungan cinta tidak bisa dijalani dengan “buta”. Kita perlu mengandalkan logika agar semuanya tetap baik-baik saja.
Bergumul dengan perasaan “takut kehilangan” akhirnya membuatku kelelahan. Saat aku menuntut penjelasan perihal kealpaan memberi kabar, toh kamu selalu punya alasan-alasan yang memang masuk akal. Kamu sibuk menyelesaikan pekerjaan, sedang ada rapat seharian atau bertemu klien hingga tidak sempat menyentuh ponselmu.
Aku kesal padamu, pun dengan diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan perasaan dan emosiku sendiri? Bukankah seharusnya logika dilibatkan ketika cinta yang dalam malah membuat hidup berantakan? Toh sekadar lupa member kabar bukan berarti kamu tidak mencintaiku lagi ‘kan? Jika alasannya sibuk dengan pekerjaan, apakah kelalaianmu pantas membuat cintaku berkurang atau bahkan hilang?

Aku dan kamu harus berjuang, karena cinta hanya akan sia-sia jika tidak punya niat ingin bertahan.
Seiring waktu berjalan, aku pun mengenalmu lebih dalam. Layaknya manusia normal, kamu tidak luput dari cela dan punya kekurangan. Di awal pacaran, aku tidak tahu kebiasaanmu yang malas memangkas rambut dan paling enggan mencuci sepeda motormu hingga berbulan-bulan. Ketika beban pekerjaan semakin menyiksa bercampur dengan masalah pribadi, kamu pun bisa berubah menjadi orang paling menyebalkan dan cenderung kasar.
Namun, setelah tahu kekurangan-kekurangan yang kamu punya, apa aku pantas meninggalkanmu begitu saja? Aku jelas tidak bisa gegabah memutuskan. Kalimat “aku cinta kamu” yang biasa aku kirimkan setidaknya dua kali sehari untukmu hanya akan terdengar bak omong kosong. Bukankah cinta itu berarti menerima… dan kekuranganmu tidak sepatutnya membuatku buru-buru mencari cinta lainnya bukan?

Tekadmu sekuat baja, aku pun tidak putus-putusnya berusaha. Kita pantas berbangga ketika bisa melewatkan hari berganti bulan ini bersama.
Mustahil jika hubungan kita akan selamanya baik-baik saja. Buktinya, kebiasaan malas memangkas rambut saja sudah membuatku bergidik. Sikapmu yang kadang kasar, cenderung cuek hingga perkara keluargamu yang seperti tidak begitu senang dengan kehadiranku.
Di titik ini, cinta yang besar dan perasaan yang dalam justru menjadi motivasi. Semakin banyak perbedaan yang muncul membuat kita terbiasa berkompromi. Sikap dan karakter yang kian kentara bertolak belakang menjadikan kita belajar tentang penerimaan. Kamu tentu saja setuju denganku, bahwa setiap masalah yang datang pasti bisa kita selesaikan selama mau berusaha mencari jalan keluar.
Saat usaha tidak putus-putusnya dicurahkan, berapa lama kita pacaran akan menjadi kebanggaan. Hitungan bulan atau tahun yang terlewati adalah prestasi, bukti bahwa kadar cinta kita sudah teruji.
Saat hubungan kita tidak lagi sehangat dulu, genggam tanganku dan mari mengulang kenangan yang pernah kita miliki. Bohong jika cinta yang kita rasakan dulu dan sekarang sama saja. Cinta kita hidup dan ia akan terus berevolusi. Cinta yang dulu meluap-luap tidak terkendali kini lebih stabil. Dia tidak berkurang, tapi berubah menjadi lebih menenangkan.
Namun, ada kalanya rasa itu bisa sekejap menghilang dan hubungan yang dijalani terasa hambar. Waktu pacaran yang lama menjadikan ungkapan cinta lewat kata-kata semakin langka. Aku dan kamu sibuk dengan hal-hal lain dan hubungan kita bukan lagi prioritas utama.
Meskipun kondisi ini sangat wajar, toh kita tidak tinggal diam dan menerimanya begitu saja. Di fase ini aku mengingatkan diriku agar lebih keras berusaha berusaha daripada biasanya. Mencoba mengulang kebiasaan-kebiasaan yang dulu, saat aku dan kamu sedang hangat-hangatnya. Aku tahu, kamu pun akan melakukan hal yang sama demi mepertahankan “kita”.

Cinta akan selalu memberi dua pilihan; bertahan demi menghidupi rasa itu atau membiarkannya sekejap datang dan berlalu.
Jatuh cinta dan benar-benar mencintai adalah dua hal yang berbeda. Cinta yang meluap-luap tidak terkendali dan cinta yang stabil tapi lebih menenangkan pun tidak sama. Kita beruntung lantaran pernah merasakan kedua-duanya. Perjalanan panjang yang sudah dilewati bersama pun patut membuat kita berbangga.
Kebersamaan kita adalah bukti bahwa cinta nyatanya punya kekuatan sendiri. Selama ini, kita mau belajar untuk saling mengerti. Menjadikan pengalaman di masa lalu sebagai pelajaran agar hubungan yang dijalani bisa terus bertahan. Yang pasti, cinta kita akan selalu punya dua pilihan; apakah mau sama-sama berusaha menghidupi rasa itu… atau justru membiarkannya sekejap datang dan berlalu?
Cinta adalah anugerah yang pantas kita syukuri datangnya, entah itu sekadar jatuh cinta atau benar-benar mencintai. Saat aku sudah menemukanmu yang menurutku paling sempurna, satu-satunya yang akan aku lakukan adalah berjuang demi “kita”.

Terima kasih kuucapkan untuk kamu yang sudah membuatku mengerti arti jatuh cinta dan benar-benar mencintai…




(Dikutip dari artikel Nabila Inaya di Hipwee pada 24 Februari 2015)

No comments: