April 12, 2015

Salam Perpisahan Sementara Untuk Salah Seorang Keluarga Kedua... Artela

Aku mengenal mereka pada bulan yang mulai berganti, menjelang tahun yang juga akan berlalu. Hampir lima bulan yang silam. Semua berawal pada pertemuan pertama di tahun yang baru. Sabtu itu kalender Masehi menunjuk pada angka 25 di bulan Oktober, sedang kalender Hijriah berpaku manis pada awal tahun, 01 Muharram 1436. Pukul 9 tepat, kami dipertemukan dalam sebuah ruangan bernama Intan, tempat dimana pertama kali kami saling memandang, mengulas senyum, saling menyapa lalu berkenalan. Satu wajah yang kuingat kala itu hanyalah Pak Okri, karena beliau adalah orang yang mewawancaraiku pada sesi interview kedua sebelum aku resmi diterima di sini… Kampoeng Deli Resto. Dengan pandangan yang mengedar ke sekeliling, pikiranku mulai berusaha menerjemahkan satu per satu karakter orang-orang yang juga duduk manis mengelilingi meja —sama sepertiku. Tepat di sebelah kananku duduk seorang pria berawajah oriental dengan kacamata minus menghalau kedua mata sipitnya. Namanya Hery, hanya itu yang kutahu karena kami sempat berkenalan sesaat setelah memasuki ruang Intan. Tidak lama berselang, ruangan itu mulai dipenuhi banyak orang yang masuk silih berganti. Seorang pria bertubuh jangkung dengan kulitnya yang putih juga wajah khas oriental lalu masuk dan duduk tepat di samping kiriku. Dan hei, dia memiliki nama yang hampir sama denganku —Arief. Dari kesemua orang yang kini berada di dalam ruangan itu, otakku hanya mampu menerjemahkan tiga wajah saja. Pak Adi, pemilik resmi dari Al Permata Nusantara (grup yang dulunya menaungi Restoran Pondok Permata sebelum berinovasi menjadi Kampoeng Deli Resto dan berdiri sendiri) yang tidak lain adalah orang yang mewawancaraiku pada sesi interview pertama, sebelum Pak Okri. Juga Adit, salah seorang teman yang baru kukenal tepatnya dua minggu sebelum hari itu, yang juga berstatus sama sepertiku —karyawan baru.
Pada pertemuan kala itu, semuanya dimulai. Kehidupan baru pada tahun yang baru, aku seperti seorang penulis yang baru akan mengisi lembar-lembar putih pada sebuah buku kosong —mulai dari halaman pertama. Satu minggu, dua minggu, tiga minggu hingga berganti bulan. Perkenalan lebih lanjut pun terjadi. Siapa sangka, lewat berbagai peristiwa baik yang disengaja maupun tidak, orang-orang yang tadinya terlihat begitu asing itu mampu menjadi teman sekaligus keluarga kedua bagiku.
Ada Pak Arief a.k.a Arief Teguh Laksana atau lebih dikenal dengan nama Artela. Pria yang akan genap berusia 29 tahun pada 13 April mendatang ternyata merupakan seorang public figure dalam dunia entertainment. Pria berwajah oriental yang memang sejak awal terlihat begitu supel ini berasal dari Bandung —and of course, he’s Sundanese. Ia merupakan tamatan Ilmu Komunikasi dari Universitas Pasundan, Bandung. Jadi tidak heran jika mengetahui segudang pengalaman kerjanya pada bidang humas, HRD bahkan penyanyi sekalipun.
For me, Artela is a very good friend. He’s so friendly, funny, can make other people laugh with his jokes, always being himself, easy going and many more. He could be a co-worker, friend also brother.
Selain Pak Arief, ada pula Pak Hery a.k.a Pak Daeng a.k.a Hery Maulana Daeng —dan mereka berdua adalah si pemilik wajah oriental itu, berkulit putih, bermata sipit juga mengenakan kacamata. Sometimes I think they’re like brother from another mother. Di antara kami berempat —aku, Pak Arief, Pak Hery dan Adit— Pak Hery merupakan sosok yang paling dewasa. Yes, I say ‘dewasa’ not ‘tua’. Meskipun memang usianya yang juga paling matang di antara kami semua. Bagiku, Pak Hery juga sama seperti Pak Arief. Mereka berdua adalah sosok yang begitu menyenangkan. Dibandingkan dengan Pak Arief juga Adit, aku memang lebih dekat dengan Pak Hery. Bahkan tidak jarang kami saling bertukar cerita dan meminta saran maupun kritik masing-masing. Pak Hery merupakan lulusan Fakultas Ekonomi atau lebih jelasnya jurusan Manajemen dari Universitas Tjut Nyak Dien, Medan. Di usianya yang kini berada pada kepala tiga, beliau juga sudah memiliki banyak pengalaman bekerja di berbagai perusahaan dengan memegang kendali pada bagian keuangan, finance maupun accounting. Tidak heran jika aku memang sedikit banyak dari pengalamannya dalam dunia kerja.
Dan yang terakhir adalah Adit a.k.a Aditya Pramestu. Pria yang usianya satu tahun lebih tua dariku ini merupakan alumni dari SMK Negeri 9 Medan. Bakat IT yang dimiliki Adit kini membawanya duduk sebagai Art Designer di Kampoeng Deli. Tidak banyak memang yang bisa kukatakan tentang Adit, tapi selama kurang lebih lima bulan menjadi rekan kerjanya, aku menilai bahwa dia adalah teman yang baik. Meskipun memang terkadang kami sering mengalami selisih paham, tapi dibalik itu semua aku mengenal Adit sebagai sosok yang dewasa, ramah dan mudah beradaptasi dengan siapa saja. Ya, pengalaman organisasi Adit memang patut diacungi jempol.
Tanpa terasa lima bulan berlalu sangat cepat sejak pertama kali pertemuanku dengan ketiga orang yang sudah kuanggap layaknya keluarga kedua itu. Seiring dengan melajunya waktu, pertemuan memang harus berganti dengan perpisahan. Kami berempat sudah dipertemukan oleh takdir dan kini takdir pula yang akhirnya memisahkan kami untuk menapaki jalan masing.
Di akhir Maret 2015 silam, sudah tidak terlihat lagi sosok Pak Arief dengan segala tingkah konyolnya memasuki ruangan kantor lalu menyapa kami semua dengan senyum lebar sambil bertanya, “Pak Adi-Pak Okri udah datang?”
Di akhir Maret 2015 silam, juga sudah tidak ada lagi hal-hal konyol yang biasa kami lakukan bersama Pak Arief seperti makan siang di tempat “tetangga”, mengendap-endap saat “razia” untuk menunaikan sholat atau bahkan bersilat lidah mengeluarkan jurus alasan terbaik agar tidak mengikuti briefing.
Semua hal yang sudah biasa kudapati darinya selama bekerja di Kampoeng Deli mungkin tidak akan pernah lagi ada karena di akhir Maret 2015 kemarin ia memutuskan resign dan kembali ke kota kelahirannya, Bandung. See? Setiap pertemuan akan selalu membawa perpisahan. Begitu pula perpisahan, akan selalu berganti dengan pertemuan baru nantinya. Melepas orang-orang yang begitu kita sayangi untuk mengejar kebahagiaan mereka masing-masing memang kuakui bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika sudah terbiasa dengan kehadiran mereka dalam setiap putaran hari yang dilalui. Tapi biar bagaimana pun, setiap orang berhak memilih jalan dan kebahagiaan mereka masing-masing. Termasuk Pak Arief. Ia sudah memilih dan membulatkan tekad dalam hati. Sebagai teman yang baik, tentu aku harus mendukung segala pilihannya karena apapun itu aku yakin ia sudah cukup memikirkan bahwa pilihan itu adalah yang terbaik.
Sampai jumpa di masa yang akan datang, pada tempat yang lebih baik juga hidup yang sudah lebih tertata lagi, Pak Arief! Terima kasih untuk lima bulan singkat penuh cerita yang sudah terlewati bersama. Ada begitu banyak cerita, ilmu, pengalaman juga berbagai kekonyolan kita yang kelak akan menjadi kenangan manis. Selamat mengejar impian dan citamu di sana rekan kerjaku, teman berbagi, atasan, teman melakukan hal-hal bodoh bersama, sahabat sekaligus abang bagiku. I will miss you, bro!

April 11, 2015

Untukmu Yang Sudah Membuatku Mengerti Arti Jatuh Cinta & Benar-Benar Mencintai

Bagiku, jatuh cinta itu perkara sederhana. Kita hanya harus duduk berdua, beradu mata dan bicara tentang apa saja. Aku mengagumi hidungmu yang mancung berlebihan, kebiasaanmu menggaruk rambut yang tidak gatal, hingga gaya bicaramu yang ceplas-ceplos dan membuat pertemanan kita selalu berkesan. Namun, berdampingan denganmu ternyata membuatku belajar banyak hal baru, salah satunya perihal cinta yang kupunya untukmu. Darimu aku tahu, bahwa jatuh cinta dan benar-benar mencintai adalah dua hal yang jauh berbeda. Bersamamu, aku mengerti bahwa cinta hanya akan sia-sia jika kita tidak punya niat dan usaha untuk menghidupinya.

Orang yang memang ingin tinggal dalam hidup kita, akan selalu mencari cara untuk mengamankan tempat mereka.
Jatuh cinta itu biasa. Dengan mudah aku dan kamu saling tergila-gila dengan pertemuan yang hanya sekejap mata. Ya, aku memang paling suka mencerapi kenangan. Mengingat betapa dulu kita tidak sedikit pun berusaha jual mahal untuk bertukar nomor telepon dan merencanakan pertemuan. Semua terjadi begitu cepat, mengalir apa adanya tanpa harus dibuat-buat. Hanya butuh waktu satu bulan masa pendekatan, sebelum kita akhirnya sepakat untuk jadian dan resmi pacaran meskipun terhalang oleh keadaan yang mengikatmu.
Cinta memang berhasil membuat kita “mabuk”. Rasanya, tiada hari tanpa keinginanku mendengar kabarmu. Seperti aku, kamu pun akan berusaha mencuri-curi waktu di antara padatnya rutinitas pekerjaan demi kita bisa bertemu dan saling meluapkan rindu. Ya, ingatan tentang momen perkenalan, masa pendekatan hingga cerita di awal pacaran memang jadi yang paling membahagiakan.

Aku dan kamu jadi pasangan paling jemawa. Kita lupa pada jalan panjang sarat ketidakpastian yang akan menguji kadar cinta kita.
Kita tidak sedikit pun merasa kesulitan untuk beradaptasi. Sekali pun awalnya kita adalah dua orang yang tidak saling kenal, kita bisa “nyambung” lantaran punya banyak kesamaan. Soal musik, film, cita-cita, prinsip hidup; berbagai hal yang kadang membuat kita jemawa —merasa jadi pasangan paling cocok sedunia.
Dulu, kita seperti hidup di dunia fantasi. Aku adalah putri cantik dan kamulah sang pangeran berkuda nan tampan. Kelak kita akan menikah, punya banyak anak dan hidup bahagia selamanya. Tapi, harapan seringkali berseberangan dengan realita. Kita lupa bahwa pacaran itu justru seperti berjalan melewati sebuah lorong gelap. Kita “dipaksa” awam dengan berbagai ketidakpastian yang akan menguji seberapa kuat cinta kita.

Kita pernah menghamba pada emosi yang menjadikan kehidupan seperti candu, tidak terkendali dan menggebu-gebu.
Cinta yang meluap-luap seringkali membuat kita tidak terkendali. Dalam segala hal, kita akan selalu mengedepankan soal perasaan dan emosi. Saat seharian kamu tidak memberi kabar, rasa kesal dan cemas yang bercampur  membuat pekerjaan dan tugas-tugasku berantakan. Alih-alih fokus, aku hanya akan sibuk merapal pertanyaan; “Dia sedang apa ya? Lagi dimana dan sama siapa? Kenapa nggak kasih kabar? Jangan-jangan sakit… atau malah sibuk main sama teman-temannya? Apa mungkin dia lupa sama aku?”
Perasaan bisa dengan hebat mengendalikan diriku. Aku merasa insecure dan takut kehilangan kamu. Di titik inilah aku merasa bahwa cinta yang begitu besar dan tidak terkendali adalah bencana. Sebentar saja kamu hilang dari “radarku”, aku merasa jadi orang paling malang sedunia.

Hubungan cinta tidak bisa dijalani dengan “buta”. Kita perlu mengandalkan logika agar semuanya tetap baik-baik saja.
Bergumul dengan perasaan “takut kehilangan” akhirnya membuatku kelelahan. Saat aku menuntut penjelasan perihal kealpaan memberi kabar, toh kamu selalu punya alasan-alasan yang memang masuk akal. Kamu sibuk menyelesaikan pekerjaan, sedang ada rapat seharian atau bertemu klien hingga tidak sempat menyentuh ponselmu.
Aku kesal padamu, pun dengan diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan perasaan dan emosiku sendiri? Bukankah seharusnya logika dilibatkan ketika cinta yang dalam malah membuat hidup berantakan? Toh sekadar lupa member kabar bukan berarti kamu tidak mencintaiku lagi ‘kan? Jika alasannya sibuk dengan pekerjaan, apakah kelalaianmu pantas membuat cintaku berkurang atau bahkan hilang?

Aku dan kamu harus berjuang, karena cinta hanya akan sia-sia jika tidak punya niat ingin bertahan.
Seiring waktu berjalan, aku pun mengenalmu lebih dalam. Layaknya manusia normal, kamu tidak luput dari cela dan punya kekurangan. Di awal pacaran, aku tidak tahu kebiasaanmu yang malas memangkas rambut dan paling enggan mencuci sepeda motormu hingga berbulan-bulan. Ketika beban pekerjaan semakin menyiksa bercampur dengan masalah pribadi, kamu pun bisa berubah menjadi orang paling menyebalkan dan cenderung kasar.
Namun, setelah tahu kekurangan-kekurangan yang kamu punya, apa aku pantas meninggalkanmu begitu saja? Aku jelas tidak bisa gegabah memutuskan. Kalimat “aku cinta kamu” yang biasa aku kirimkan setidaknya dua kali sehari untukmu hanya akan terdengar bak omong kosong. Bukankah cinta itu berarti menerima… dan kekuranganmu tidak sepatutnya membuatku buru-buru mencari cinta lainnya bukan?

Tekadmu sekuat baja, aku pun tidak putus-putusnya berusaha. Kita pantas berbangga ketika bisa melewatkan hari berganti bulan ini bersama.
Mustahil jika hubungan kita akan selamanya baik-baik saja. Buktinya, kebiasaan malas memangkas rambut saja sudah membuatku bergidik. Sikapmu yang kadang kasar, cenderung cuek hingga perkara keluargamu yang seperti tidak begitu senang dengan kehadiranku.
Di titik ini, cinta yang besar dan perasaan yang dalam justru menjadi motivasi. Semakin banyak perbedaan yang muncul membuat kita terbiasa berkompromi. Sikap dan karakter yang kian kentara bertolak belakang menjadikan kita belajar tentang penerimaan. Kamu tentu saja setuju denganku, bahwa setiap masalah yang datang pasti bisa kita selesaikan selama mau berusaha mencari jalan keluar.
Saat usaha tidak putus-putusnya dicurahkan, berapa lama kita pacaran akan menjadi kebanggaan. Hitungan bulan atau tahun yang terlewati adalah prestasi, bukti bahwa kadar cinta kita sudah teruji.
Saat hubungan kita tidak lagi sehangat dulu, genggam tanganku dan mari mengulang kenangan yang pernah kita miliki. Bohong jika cinta yang kita rasakan dulu dan sekarang sama saja. Cinta kita hidup dan ia akan terus berevolusi. Cinta yang dulu meluap-luap tidak terkendali kini lebih stabil. Dia tidak berkurang, tapi berubah menjadi lebih menenangkan.
Namun, ada kalanya rasa itu bisa sekejap menghilang dan hubungan yang dijalani terasa hambar. Waktu pacaran yang lama menjadikan ungkapan cinta lewat kata-kata semakin langka. Aku dan kamu sibuk dengan hal-hal lain dan hubungan kita bukan lagi prioritas utama.
Meskipun kondisi ini sangat wajar, toh kita tidak tinggal diam dan menerimanya begitu saja. Di fase ini aku mengingatkan diriku agar lebih keras berusaha berusaha daripada biasanya. Mencoba mengulang kebiasaan-kebiasaan yang dulu, saat aku dan kamu sedang hangat-hangatnya. Aku tahu, kamu pun akan melakukan hal yang sama demi mepertahankan “kita”.

Cinta akan selalu memberi dua pilihan; bertahan demi menghidupi rasa itu atau membiarkannya sekejap datang dan berlalu.
Jatuh cinta dan benar-benar mencintai adalah dua hal yang berbeda. Cinta yang meluap-luap tidak terkendali dan cinta yang stabil tapi lebih menenangkan pun tidak sama. Kita beruntung lantaran pernah merasakan kedua-duanya. Perjalanan panjang yang sudah dilewati bersama pun patut membuat kita berbangga.
Kebersamaan kita adalah bukti bahwa cinta nyatanya punya kekuatan sendiri. Selama ini, kita mau belajar untuk saling mengerti. Menjadikan pengalaman di masa lalu sebagai pelajaran agar hubungan yang dijalani bisa terus bertahan. Yang pasti, cinta kita akan selalu punya dua pilihan; apakah mau sama-sama berusaha menghidupi rasa itu… atau justru membiarkannya sekejap datang dan berlalu?
Cinta adalah anugerah yang pantas kita syukuri datangnya, entah itu sekadar jatuh cinta atau benar-benar mencintai. Saat aku sudah menemukanmu yang menurutku paling sempurna, satu-satunya yang akan aku lakukan adalah berjuang demi “kita”.

Terima kasih kuucapkan untuk kamu yang sudah membuatku mengerti arti jatuh cinta dan benar-benar mencintai…




(Dikutip dari artikel Nabila Inaya di Hipwee pada 24 Februari 2015)

#Kamu

Dan entah kenapa setiap kali rindu itu terasa begitu menyesakkan, selalu ada celah yang memberinya ruang untuk kembali bernapas... kamu.