March 11, 2015

Menyatakan Cinta, Apakah Semudah Itu?

Quote Bob Marley yang satu ini jadi bikin saya berpikir ulang tentang cinta.
“You say you love rain but you use an umbrella to walk under it, you say you love sun but you seek shelter when it’s shining, you say you love wind but when it comes you close your windows. So that’s why I’m scared when you say you love me.”
Terkadang kita ngasal buat bilang “aku cinta kamu” sama seseorang tanpa pernah berpikir dan bertanya dalam hati “apa saya beneran cinta sama dia?”. Banyak orang yang sebenarnya nggak memahami arti cinta itu sendiri, tapi menganggap bahwa cinta hanyalah semacam energi luar biasa yang muncul dari dalam hati lalu memberi stimulan ke otak untuk merasakan bahagia yang memuncak tapi pada akhirnya membuat kita jadi kurang berpikir secara rasional. Nggak usah jauh-jauh, salah seorang teman saya sendiri menganggap cinta layaknya sebuah permainan yang bisa dimainkan sesuka hati. Saya sempat berpikir, memangnya nih anak nggak takut karma ya? Di sisi lain ada juga salah satu teman saya yang berpendapat kalau orang-orang seperti itu adalah orang yang isi kepalanya itu entah apa, bahkan mungkin kosong. Kedengarannya semacam makna denotasi sih tapi ya cara pandang orang-orang tentang suatu permasalahan itu kan beda. Nggak bisa kita paksain harus sesuai dengan jalan pikiran kita.
“Cinta itu buta. Nggak memandang usia, keyakinan, bahkan status sosial karena cinta itu tentang rasa.”
Oke, saya sih setuju-setuju aja sama pernyataan yang satu ini. Apalagi saya juga pernah lihat sendiri kalau seorang siswa sekolah dasar menyatakan cinta sama temannya sementara mereka masih sama-sama duduk di bangku kelas 5 SD, bayangkan itu saudara-saudara! Tapi nih ya kalau ada orang yang bilang “cinta itu nggak memandang fisik” nah ini yang saya nggak setuju. Saya sendiri nggak mau munafik masalah itu, hampir semua orang yang jatuh cinta itu pasti berawal lewat tatapan mata atau sesuatu yang bisa dinilai lewat pandangan, segala sesuatu yang bisa dilihat itu pastilah berbentuk nyata dan terimplementasikan lewat fisik, kan ya? *Duh, bahasa saya kenapa jadi sok tinggi ini-_-* Tapi ya tetap aja sesempurna apapun penampilan fisiknya kalau ternyata kepribadiannya nggak sesuai sama yang kita harapkan nggak bakal mungkin juga kan buat dijadikan pasangan? Sebagai contoh aja nih, memangnya ada yang mau pacaran sama cowok ganteng atau cewek cantik tapi ternyata dia itu seorang psikopat? Atau contoh lain yang paling umum kita jumpai dalam kehidupan zaman sekarang, memangnya mau pacaran sama mereka yang punya penampilan sempurna tapi ternyata penyuka sesama jenis? Think again!
Well, balik lagi ke topik utama postingan ini. Kenapa orang-orang gampang banget menyatakan cinta? Buat saya sendiri itu adalah hal yang sangat amat rumit, yang kalau nggak dipikirin matang-matang sebelum menjalaninya pasti ujungnya bakal sakit hati, mewek-mewek nggak jelas, galau, kecewa, nggak nafsu makan, malas ngapa-ngapain, badmood, bete atau hal-hal lainnya yang berhubungan dengan penyesalan. Tapi pada akhirnya saya berpikir ulang, mungkin mereka menikmati hidup dengan cara seperti itu. Artinya ya menganggap segala hal itu mudah, termasuk urusan cinta. Mungkin mereka berpikir selagi masih muda dan selagi ada kesempatan, why not? Kalau saya pribadi sih punya prinsip daripada menghabiskan waktu dengan orang yang salah lebih bagus menghabiskan waktu buat menunggu orang yang tepat. Nah, pertanyaan lain muncul dari dalam separuh pikiran saya yang lain, “darimana kamu tahu orang itu salah kalau belum kamu jalanin?”. Jadi, di sinilah peran dari sebuah pemikiran secara dewasa itu mengambil alih. Ibarat kamu punya seorang sahabat yang sama jenis (read: sama-sama cowok atau sama-sama cewek), darimana kamu tahu kalau dia itu baik atau nggak buat hidupmuo? Lewat perjalanan waktu buat saling mengenal kan? Dan bukan pacaran kan? Sama halnya dengan pasangan, mungkin hampir semua orang punya kriteria atau list tersendiri tentang calon pasangannya. Semua berawal dari proses saling mengenal, saling menjajaki persamaan dan perbedaan, sampai akhirnya saling menyaring apa dia cocok atau nggak dengan harapan kita. Cocok di sini bukan berarti sama dalam segala hal, cocok yang saya maksud adalah penuh dengan perbedaan tapi nggak menjadikan perbedaan itu sebagai ancaman atau ketakutan, malah justru dijadikan sebagai dorongan untuk saling melengkapi.
Postingan ini nggak bermaksud menghakimi siapapun, saya cuma mencoba sedikit meluruskan. Ya kali aja pemikiran saya ada benernya buat sebagian orang dan mungkin juga nggak sesuai buat sebagian orang yang lain. Semua itu tergantung gimana cara pandang kita terhadap suatu hal dan tergantung juga gimana pemikiran kita menghadapi suatu masalah.

No comments: